Refleksi 1: Prinsip dan Dua Sisi Kepandaian
Setiap Hal Memiliki Dua Sisi Berlawanan:
Refleksi dari Seri 1–2 Tutur Tinular
Episode Pelangi di Atas Kurawan Seri 1-2 merupakan bagian paling awal cerita serial sandiwara radio Tutur Tinular. Pada bagian awal ini setidaknya ada 3 hal yang patut kita renungkan dan kita ambil sebagai pelajaran universal.
1. Kebijaksanaan Tidak Selalu Berasal dari Kekuasaan
Petani tua di seri 1-2 (yang nantinya diketahui sebagai Mpu Ranubaya) menunjukkan bahwa martabat dan hikmah hidup tak ditentukan oleh gelar atau jabatan. Ia menolak menjilat kekuasaan, tidak mau menunjukkan penghormatan bahkan menghadapi prajurit bersenjata yang tidak sopan padanya hanya dengan cangkul karena ia memiliki prinsip dan pengetahuan.
2. Pujian yang Tulus Tidak Bisa Dipaksa
Ketegangan antara Pranaraja dan si petani memperlihatkan bahwa penghormatan tidak bisa dituntut dengan kuasa atau ancaman. Seseorang yang bijaksana hanya akan memuji bila itu pantas, bukan karena takut atau menjilat.
3. Kepandaian bisa digunakan untuk kebaikan ataupun keburukan
Mpu Tong Bajil dan Dewi Sambi merupakan tokoh antagonis utama dalam cerita ini yang langsung muncul di awal cerita. Mereka berdua diceritakan sebagai sepasang pendekar yang berkepandaian tinggi. Tetapi mereka memilih jalan keburukan yakni sebagai perampok cerdas, yang terorganisir dan berafiliasi terhadap kekuasaan, mereka tidak sebodoh Jaran Bangkal dan Lejong yang berpikir sederhana saja, merampok sekadar untuk makan minum dan menghidupi diri. Mpu Tong Bajil dan Dewi Sambi justru bisa memanipulasi dan membentuk ‘organisasi perampokan’ yang sistematis. 
Artikel berikutnya:
Jangan Menyiakan Kesempatan Baik yang Datang
Artikel terkait:
TEMA CERITA (1) : Ego, Harga Diri, dan Jati Diri, Tema Besar Perjalanan Kamandanu