Refleksi 2: Jangan Menyiakan Kesempatan Baik yang Datang

Kata dan Firasat Hari Ini, Boleh Jadi Kenyataan di Masa Mendatang


Diceritakan di episode 2 dan 3, bahwa Mei Xin adalah seorang yatim piatu yang dibesarkan oleh pamannya yang bernama Ma Bo Yi yang menjadi pendeta di kuil Phing San di dekat pantai Guangzhou.


Meskipun ragu dan mungkin akan menjadi sebuah kesalahan fatal, Mei Xin mengikuti kemauan Lou Shinsan, suaminya, yang menyanggupi permintaan dari panglima Khousing untuk menculik Mpu Ranubhaya dari penjara kaisar Kubilai Khan agar empu tua dari Jawa itu selamat dari Meng Qi dan pasukannya yang mendendam padanya.


Panglima Khousing adalah seorang sahabat yang pernah memberikan jasa besar pada pendekar Lou. Terdorong oleh rasa percaya diri akan kemampuannya dan hutang budi pada Khousing, pendekar Lou tanpa pikir panjang melakukan upaya pembebasan mpu Ranubaya tersebut. Bahkan melibatkan istrinya yang belum genap setahun dinikahinya.


Akibat tindakan yang demikian itu, Lou dan Mei Xin menjadi buronan pasukan Meng Qi yang terus berupaya mengejar Mpu Ranubhaya dan orang-orang yang membawanya kabur. Mereka dikejar-kejar hingga kuil Phing San dirusakkan oleh Meng Qi dan pasukannya dan pendeta Ma Bo Yi tewas.


Melihat kenyataan itu, Mpu Ranubhaya akhirnya menyerahkan diri kepada pasukan Meng Qi setelah menyerahkan pedang naga puspa yang dibuatnya selama di penjara kaisar Kubilai Khan kepada pendekar Lou dan Mei Xin. Sepasang pendekar itu kemudian melarikan diri hingga ke pantai lalu naik kapal dan terhempas badai. Ketika sadar mereka ternyata terdampar di pulau Jawa bagian timur tempat asal Mpu Ranubhaya.


Setelah pendekar Lou meninggal di Jawa dan ditolong oleh Arya Kamandanu, Mei Xin bercerita kepada Arya Kamandanu bahwa sebelum menikah dengan pendekar Lou, ia hampir sinting karena seorang murid Ma Bo Yi yang ditaksirnya berpaling pada gadis lain. Kedatangan pendekar Lou mengisi kekosongan hatinya dan setelah mengikrarkan sumpah perkawinan, ia jatuh hati sepenuhnya pada Lou. 


Mei Xin pun berkata bahwa nanti jika Kamandanu telah menjadi suami dari seorang gadis, maka Kamandanupun akan mencintai gadisnya itu sepenuh hati. Dan kata-kata Mei Xin akhirnya menjadi kenyataan. Di episode 15 Arya Kamandanu menikahi seorang gadis yang bernama Sakawuni dan ia jatuh cinta sepenuh hatinya.  Sehingga saat Sakawuni meninggal setelah memberinya seorang bayi di episode 24, ia rela membesarkan bayinya seorang diri dengan menjadi pertapa.


Di episode 15 juga diceritakan Mei Xin sendiri setelah melihat bahwa Kamandanu begitu dekat dengan Sakawuni berprasangka bahwa mereka telah menikah. Ia memilih untuk tidak lagi mengakui Kamandanu sebagai suaminya, lalu belajar ilmu tabib kepada tabib Wong Yin yang telah menolongnya dan mengangkatnya sebagai anak. Mei Xin lalu mengganti namanya menjadi nyai Paricara.


Setelah Sakawuni meninggal, Mei Xin membuka jati dirinya kepada Arya Kamandanu dan mengharapkannya kembali. Namun Mei Xin harus menerima bahwa apa yang pernah dikatakannya jika Kamandanu akan mencintai sepenuh hati gadis yang dinikahinya telah menjadi nyata di episode 24.


Pelajaran : apa yang kita katakan sekarang boleh jadi kenyataan hari esok, jangan menyia-nyiakan kesempatan baik yang datang.


Elly Ermawati sebagai Mei Xin

Gambar iilustrasi Elly Ermawati sebagai Mei Xin dengan Meta AI, swapwajah dengan aifaceswap.


Artikel sebelumnya: 

Prinsip dan Dua Sisi Kepandaian


Artikel berikutnya:

Cinta Sejati adalah Cinta yang Saling Menyembuhkan 


Artikel terkait: 

Sakawuni: Pendekar Angin Lengan Seribu, Tokoh Utama Wanita dalam Sandiwara Radio Tutur Tinular