Sakawuni
Pendekar Angin Lengan Seribu : Tokoh Utama Wanita Sandiwara Radio Tutur Tinular
Sakawuni merupakan tokoh fiktif utama wanita pada sandiwara radio legendaris Tutur tinular karya S. Tijab yang dirilis pada 1 Januari 1989 sampai 31 Desember 1990.
Sakawuni adalah seorang pendekar wanita pilih tanding yang juga bekerja sebagai prajurit Majapahit pada masa pemerintahan raja pertama yang bergelar Prabu Kertarajasa Jayawardhana.
Gambar ilustrasi wajah Sakawuni dalam sampul kaset Sandiwara Radio Tutur Tinular yang dilukis oleh Haryoko (illustrator dari Sanggar Prativi), sumber : gambar umum poster sandiwara radio Tutur Tinular
Pada sampul kaset serial Sandiwara Radio Tutur Tinular tokoh Sakawuni digambarkan besar dan berada dekat di belakang tokoh Arya Kamandanu yang memegang pedang Naga Puspa.
Gambar kaset serial sandiwara radio Tutur Tinular, sumber : Grup FB Pecinta Sandiwara Radio
Dalam serial sandiwara radionya diceritakan pada awalnya Sakawuni suka berpenampilan aneh, berpakaian serba hitam mirip seorang petani laki-laki dengan selendang kuning dan bersikap sedikit ugal-ugalan dan keras kepala. Namun sesungguhnya ia adalah gadis yang baik hati, lemah lembut, periang, gesit dan sedikit manja.
RINGKASAN PROFIL
Namanya mirip dengan nama buah-buahan kuno, Sakawuni. Sakawuni bergelar pendekar angin lengan seribu karena memiliki jurus-jurus angin lengan seribu yang diturunkan oleh Ki Sugata Brahma, sang pendekar lengan seribu yang tidak lain adalah kakeknya sendiri sekaligus orang tua dan gurunya.
Ia dilahirkan dan dibesarkan di desa Tanibala pada tahun 1274 M di lereng gunung Bromo dan meninggal di kotaraja Majapahit pada tahun 1309 M karena perdarahan yang tidak bisa dihentikan saat melahirkan.
Sakawuni berkebangsaan Majapahit, lahir dari seorang ayah bernama Banyak Kapuk yang merupakan salah satu Senopati kerajaan Singasari dan turut merintis berdirinya Majapahit, seorang ibu yang bernama Ayu Pupuh alias Dewi Tunjung Biru.
Sakawuni bekerja sebagai salah satu perwira tinggi Majapahit bagian pelatihan dan pendidikan prajurit, guru olahkanuragan dari putri Tribuana Tunggadewi Dyah Gitarja dan putri Sri Rajadewi Dyah Wiyat yang langsung diangkat oleh sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana untuk membantu ayahnya yang saat itu juga bertugas di bagian yang sama serta menggantikan kedudukan ayahnya setelah sang ayah tiada.
Sakawuni menikah dengan Arya Kamandanu pada tahun 1297 hingga 1309. Dikaruniai dua anak, yang pertama keguguran dan yang kedua lahir sebagai bayi istimewa bersisik naga puspa kresna pada tahun 1309 yang diberi nama Jambunada.
DESKRIPSI KARAKTER FISIK
Menurut cerita di dalam sandiwara radionya, deskripsi Sakawuni itu secara fisik antara lain sebagai berikut ini. Dimulai saat awal kemunculan Sakawuni ketika menolong Lou dan Mei Xin di malam hari dan pagi harinya memberi mereka daging untuk sarapan. Saat makan dengan Mei Xin dan Lou, narator mengatakan bahwa ia adalah wanita cantik yang masih remaja usia namun dengan raut dewasa (seri 54).
Saat bertemu dengan Dewi Sambi di candi Sorabana, Dewi Sambi menyebutkan ingin melumat mulutnya yang mungil dan menghancurkan tubuhnya yang montok (seri 62 - 64)
Narator berkata, 'Kemudian gadis berwajah manis itu turun dari kudanya. Jaran lejong dan jaran dongkal telah siap dengan kuda-kudanya." (seri 64)
Saat akan menyerang rumah mpu Hanggareksa, Dewi Sambi berdebat dengannya dan sempat mengatakan, "Kau cantik, penampilanmu cukup menarik." (Seri 121-122)
Saat Sakawuni menyamar sebagai nenek-nenek di desa Lohpandak dan ketahuan Ki Sugata Brahma, kakeknya itu berkata, "Jangan begitu, cantik-cantik kok jadi nenek-nenek. Jadi nenek-nenek itu tidak enak." (Episode 5)
Saat ketemu dengan Kamandanu pertama kalinya, Kamandanu memujinya cantik padahal ia sedang awut-awutan setelah bertarung dengan Gajah Pagon dan Ranggalawe (seri 98 - 100).
Saat membuat gubug di lereng Arjuna, Kamandanu tidak tidur semalaman dan terus memandanginya dan mengatakan ia manis (seri 134 - 135).
Saat Kamandanu ditanyai oleh Nyi Tumpak Seti mengapa ia terus menanyakan di mana Sakawuni, Kamandanu berkata bahwa ia cantik, masih sangat muda dan sedikit brutal. Kamandanu khawatir ia dalam kesulitan (seri 189 - 190).
Begitu melihatnya, Ki Surabaya mengatakan bahwa Sakawuni jauh lebih cantik dari Tali Tali dan ia mau menuruti semua kata-kata Sakawuni agar Sakawuni menepati kata-katanya menjadi istri Ki Surabaya menggantikan Tali Tali (seri 187 - 188).
Saat Kamandanu terluka dan diboncengkan naik kuda, narator mengatakan Kamandanu berpegangan pada pinggangnya yang ramping (episode 7).
Saat bertemu dengan ibunya, Dewi Tunjung Biru berkata dalam hati, "Kau sekarang sudah menjadi gadis remaja yang cantik jelita."
Saat bertarung melawan ayahnya, narator menyebutkan Sakawuni berdiri tegak bagai patung Dewi Kekayi, rambutnya yang panjang berkibar-kibar tertiup angin (episode 8).
Saat dia pingsan setelah memaafkan ayahnya, ayahnya berkata kepada Ranggalawe dan yang lainnya bahwa ia tidak menyangka jika mempunyai anak semanis itu. Narator mengatakan setelah tinggal bersama ayahnya, wajahnya Sakawuni yang manis tampak semakin manis.
Kamandanu berkata kepada Banyak Kapuk kalau Sakawuni mirip sekali dengan ibunya, sedangkan ibunya itu cantik jelita.
Paman Wirod berkata kepada Kamandanu saat menunggui Sakawuni yang sedang pingsan, "siapa dia? Istrimu? Pacarmu? Atau temanmu? Kau pasti suka berteman dengan wanita secantik dia, lihat pipinya mulus, bibirnya merah,,, hhhh,,, merah." (Episode 11)
Ramapati berkata kepada Kamandanu, "Sakawuni itu cantik dan baik. Kau bisa belajar mencintainya dan kalian hidup bahagia." (Episode 15)
Murid-murid Dewi Tunjung Biru mengatakan bahwa Sakawuni cantik bagai Dewi Ratih sedangkan Kamandanu tampan bagai dewa Kamajaya (seri 448 - 449).
Saat bertemu dengan Kamandanu di desa Tebu, Mei Xin berkata, "Bukankah tuan sudah memiliki seorang istri yang Pendekar yang cantik. Semua orang berkata kalian adalah pasangan yang serasi bagai Kamajaya dan Dewi Ratih. Untuk apa lagi tuan memikirkan wanita yang bernama Mei Xin itu?" (Seri 578 - 580).
Arya Dwipangga berkata bahwa ia ikut senang karena Kamandanu telah menemukan jodohnya seorang wanita yang cantik dan sangat mencintainya (episode Dendam Lama dari Kurawan).
Saat menjelang persalinan, Sakawuni tertidur setelah diberi obat oleh Mei Xin yang menyamar sebagai nyai Paricara. Saat Kamandanu bertanya kepada Mei Xin agar mengakui jati dirinya, Mei Xin berkata, "Sebentar lagi istri tuan yang cantik itu akan bertaruh nyawa untuk melahirkan anak pertama tuan. Tidak baik tuan memikirkan wanita lain di saat seperti ini!" (Episode 24)
Saat akan meninggal narator mengatakan sakitnya Sakawuni tidak terkatakan hanya air yang mengalir dari matanya yang indah.
Setelah Sakawuni meninggal, para prajurit jaga terus memperbincangkannya mengapa orang yang baik, ramah, cantik dan manis cepat meninggal.
KISAH AWAL
Diceritakan dalam Sandiwara Radio Tutur Tinular bahwa Banyak Kapuk adalah salah satu Senopati kerajaan Singasari. Ia merupakan salah satu senopati yang sangat berjasa bagi perluasan wilayah Singasari hingga ke Pamalayu maupun pendirian Majapahit.
Pada suatu ketika saat berkunjung ke desa tersebut di lereng gunung Bromo, ia jatuh cinta pada Ayu Pupuh, anak tunggal dari Ki Sugata Brahma yang menjabat sebagai kepala desa Tanibala.
Asmara yang menggelora menjatuhkan keduanya pada hubungan yang mengakibatkan Ayu Pupuh mengandung saat Banyak Kapuk meninggalkannya dengan janji untuk kembali dan melamarnya namun tidak pernah datang memenuhi janjinya.
Ayu Pupuh melahirkan seorang bayi perempuan cantik dan manis pada tahun 1274 M yang diberi nama Sakawuni. Ki Sugata Brahma kemudian melepaskan jabatannya sebagai kepala desa karena aib yang dideritanya.
Sakawuni tumbuh dalam cemoohan lingkungannya sebagai anak yang lahir di luar nikah. Saat ia berusia 2 tahun ibunya pergi meninggalkannya karena ingin menemui Banyak Kapuk di kota Singasari. Namun setelah bertemu ternyata Ayu Pupuh mendapati kenyataan bahwa Banyak Kapuk tidak mungkin mengawininya karena perbedaan kasta. Banyak Kapuk juga memutuskan untuk mengabdikan hidupnya sepenuhnya demi Singasari dan rela dikirim ke jauh dalam ekspedisi penaklukan Pamalayu oleh Singasari.
Putus asa dengan karena kenyataan yang dihadapinya, Ayu Pupuh mencoba bunuh diri dalam perjalanan pulang dari Singasari. Namun ia diselamatkan oleh seorang tabib yang bernama Nyai Congkorong dan diangkat sebagai muridnya di padepokan bukit Penampihan. Akhirnya Ayu Pupuh mewarisi padepokan Nyai Congkorong dan bergelar Dewi Tunjung Biru karena mendapat tugas menjaga dan memelihara tumbuhan bunga tunjung biru yang berguna sebagai penawar racun.
Ki Sugata Brahma dengan sabar dan bijaksana membesarkan Sakawuni dengan penuh kasih sayang. Sakawuni tumbuh menjadi remaja yang pemberani, suka menolong, cerdas, penuh perhitungan dan mampu mewarisi ilmu kanuragan dari kakeknya dengan baik. Namun ia tetap haus kasih sayang orang tuanya sehingga sering pergi diam-diam mengembara untuk mencari ayahnya di Singasari dengan rasa dendam dan keinginan menuntut tanggung jawab dari laki-laki yang diketahuinya bernama Banyak Kapuk.
Pengembaraannya hingga ke wilayah hutan tarik yang nantinya menjadi Kotaraja Majapahit. Dalam pengembaraannya ia memutuskan untuk bergabung menjadi prajurit Gelang-gelang atau Kediri melalui sebuah pertarungan seleksi di pelataran candi Sorabana.
Setelah dinyatakan diterima, ia berada dalam satu kelompok 4 besar pendekar pendukung Kediri yang terdiri dari mpu Tong Bajil, Dewi Sambi, mpu Renteng dan dirinya sendiri. Kelompok pendekar ini tunduk kepada perintah Patih Kebo Mundarang dari kerajaan Gelang-Gelang atau Kediri.
Keputusan Sakawuni bergabung dengan kelompok tersebut karena dia merasa membutuhkan bantuan untuk menghadapi Banyak Kapuk dan para perwira Singasari yang semua dianggapnya bersalah pada kehidupannya.
Namun karena aliran kependekaran yang berbeda dan tujuan yang berbeda pula, ia sering berselisih dengan 3 temannya dan diam-diam mengambil keputusan yang berbeda dari kebijakan mereka. Seperti diam-diam membantu menyelamatkan pendekar Lou dan Mei Xin ataupun membangkang perintah mpu Tong Bajil untuk meringkus mpu Hanggareksa.
KARIER KEPRAJURITAN
Gelang-Gelang atau Kediri telah berhasil meruntuhkan Singasari. Prabu Kertanegara terbunuh dan Jayakatwang naik tahta menggantikannya. Ia lalu memindahkan pusat pemerintahan dari Singasari ke Kediri.
Saat mengembara mencari ayahnya Sakawuni bertemu Ranggalawe dan Gajah Pagon yang saat itu diutus oleh Raden Wijaya membawa surat ke Kediri untuk meminta pengampunan bagi Raden Wijaya dan keempat orang istrinya yang merupakan putri dari mendiang Prabu Kertanegara juga 12 orang perwira tinggi Singasari yang melarikan diri bersamanya.
Sakawuni nekat menghadang perjalanan Ranggalawe dan Gajah Pagon. Ia berhasil melukai Gajah Pagon namun hampir terbunuh oleh Ranggalawe namun diselamatkan oleh Arya Kamandanu yang diam-diam mengikutinya sejak melihatnya di sebuah kedai di desa Jasunwungkal.
Beberapa waktu setelah berdirinya padukuhan Majapahit, Sakawuni mendapatkan tugas dari Patih Kebo Mundarang untuk menyelidiki keberadaan padukuhan itu. Kesempatan itu dia pergunakan untuk menemukan orang yang bernama Banyak Kapuk yang dicarinya. Ia sempat bertarung dengan Banyak Kapuk dicarinya namun karena olahkanuragan yang dimilikinya belum matang, ia hampir terbunuh namun diselamatkan oleh Ki Sugata Brahma yang diam-diam terus mengikuti dan mencari kemana pun cucunya pergi.
Setelah lama Sakawuni kembali ke pedukuhan Majapahit lagi untuk menuntut balas pada Banyak Kapuk. Namun setelah berhasil menemuinya dan bertarung hingga Banyak Kapuk pasrah untuk dibunuh oleh putrinya, Sakawuni memilih untuk memaafkan ayah kandungnya hingga rasa haru membuatnya terjatuh pingsan. Ia tidak menyangka bahwa ayah yang dibencinya tidak pernah bermaksud menelantarkannya ataupun tidak mengawini ibunya. Semua terjadi karena aturan kasta dan tugas negara yang diemban oleh ayahnya. Ia juga mendapatkan kenyataan bahwa ayahnya tidak pernah memiliki wanita lain selain ibunya.
Setelah persoalan dengan ayahnya dapat diselesaikan, Sakawuni diminta oleh Raden Wijaya untuk bergabung di padukuhan Majapahit. Ia mendapatkan tugas untuk membantu ayahnya melatih olah keprajuritan pada penduduk desa sekitar yang datang ke Majapahit untuk bergabung. Di sinilah karir keprajuritan Sakawuni dimulai.
Dalam perjalanan kariernya, Sakawuni mengikuti pertempuran melawan Kediri, pertempuran mengusir tentara Tartar, pemadaman pemberontakan Ranggalawe, penumpasan gerombolan perusuh yang dipimpin oleh mpu Tong Bajil dan Dewi Sambi, pemadaman pemberontakan Gajah Biru. Ia juga ikut melatih olah keprajuritan untuk ketiga putra Raden Wijaya yaitu Kalagemet atau Jayanegara, Tribuana Tunggadewi Dyah Gitarja dan Srirajadewi Dyah Wiyat.
MENJADI SEORANG ISTRI DAN IBU
Arya Kamandanu merupakan satu - satunya pria dalam kehidupan cinta Sakawuni, cinta pertama dan cinta terakhirnya. Pertemuan pertama mereka terjadi saat Arya Kamandanu tertarik dengan penampilan unik Sakawuni yang mampir minum di sebuah kedai desa Jasunwungkal. Saat itu Sakawuni tengah mengikuti Ranggalawe dan Gajah Pagon.
Setelah Sakawuni pergi dari kedai itu, Arya Kamandanu mengikutinya sesuai dengan informasi yang didapatkannya dari pelayan kedai. Diam-diam Arya Kamandanu memperhatikan semua jalannya pertarungan antara Sakawuni dengan Gajah Pagon dan Ranggalawe. Saat Sakawuni hampir terbunuh oleh keris megalamat milik Ranggalawe, Kamandanu menolongnya. Iapun berjanji akan membalas budi Kamandanu jika ada kesempatan (seri 98 - 100).
Pertemuan kedua terjadi saat Arya Kamandanu sambil menggendong Panji Ketawang, keponakannya yang masih kecil diserang oleh mpu Tong Bajil dan kelompoknya. Sakawuni menolong Arya Kamandanu untuk meloloskan diri lalu membawa Arya Kamandanu dan keponakannya bersembunyi di lereng gunung Arjuna yang aman. Sakawuni juga membantu Arya Kamandanu untuk membangun sebuah gubuk di sana (seri 133 - 134).
Pertemuan mereka yang ketiga (mulai seri 183 sampai awal episode 8) terjadi saat Arya Kamandanu terluka dan pingsan akibat terkena pukulan aji tapak wisa milik Dewi Sambi. Dengan susah payah Sakawuni berusaha menolong Arya Kamandanu. Ia membawa Kamandanu ke beberapa tabib hingga akhirnya dibawanya ke Tanibala tempat kakeknya.
Dari kakeknya Sakawuni mendapatkan petunjuk bahwa ada bunga tunjung biru yang bisa menawarkan racun aji tapak wisa. Sakawuni berhasil mendapatkannya dan ternyata yang memiliki bunga tunjung biru adalah Ayu Pupuh yang sudah bergelar Dewi Tunjung Biru, ibu kandungnya sendiri. Sakawuni semula merasa kecewa kepada ibunya, namun akhirnya ia memaafkannya. Dari ibunya, Sakawuni tahu bahwa ia telah jatuh cinta pada Arya Kamandanu dengan memberikan banyak pertolongan kepada pemuda itu.
Sedangkan Arya Kamandanu pun tahu riwayat keluarga dan kehidupan Sakawuni dari kakeknya. Ia yang sedang dalam kekecewaan yang sangat dalam pada Mei Xin pun merasa sangat dihargai oleh Sakawuni dan tidak mau berterus terang kepada Sakawuni bahwa ia telah memperistri Mei Xin untuk menutupi aib keluarganya di mana Mei Xin telah hamil di luar perkawinan dengan Arya Dwipangga, kakak kandung Arya Kamandanu. Arya Kamandanu sampai bermimpi melihat Mei Xin dan Sakawuni bergantian yang menunjukkan bahwa dirinya sangat kebingungan antara tanggungjawabnya terhadap status sebagai suaminya Mei Xin ataukah hati nuraninya sendiri yang menolak diinjak harga dirinya dengan harus bertanggungjawab atas sesuatu yang bukan hasil perbuatannya dan terisi oleh kehadiran Sakawuni.
Setelah mengetahui bahwa Arya Kamandanu telah beristri dan sengaja tidak mengatakan kepadanya, Sakawuni marah dan kecewa tapi dia dapat mengatasinya dengan nasehat dari kakeknya Ki Sugata Brahma. Arya Kamandanu kembali ke lereng Arjuna sedangkan Sakawuni tetap tinggal di desa Tanibala dan memperdalam ilmu jurus-jurus angin lengan seribu.
Ki Sugata Brahma yang juga seorang pendekar menurunkan ilmu pukulan lengan seribu kepada Sakawuni dengan memberikan seluruh tenaga dalamnya kepada cucu tercintanya itu. Setelah menurunkan ilmunya, Ki Sugata Brahma tewas di tangan mpu Tong Bajil dan kelompoknya yang datang menyerang ke rumahnya untuk mencari Sakawuni yang dianggap telah berkhianat kepada Kediri. Sakawuni tidak berhasil menyelamatkan kakeknya, ia sendiri terkena pukulan aji tapak wisa oleh Dewi Sambi lalu pergi meninggalkan desa Tanibala menuju ke bukit Penampihan tempat ibunya berada untuk mendapatkan pertolongan.
Pulih dari lukanya, Sakawuni mendapatkan nasehat dari ibunya untuk tidak lagi ingin membalas dendam kepada ayahnya dan tidak lagi mencintai Arya Kamandanu yang telah mempermalukannya dengan kebohongan. Namun Sakawuni tetap ingin ke Majapahit untuk menemukan Banyak Kapuk.
Dalam perjalanan, Sakawuni mampir ke lereng Arjuna untuk mencari Arya Kamandanu. Ia merasa perlu menyampaikan kekecewaannya atas kebohongan Kamandanu. Namun yang ditemuinya adalah Mei Xin, istri Arya Kamandanu.
Mei Xin menyambut baik kedatangan Sakawuni dan menceritakan kepada Sakawuni tentang kisah hidupnya. Sakawuni bersimpati pada nasib Mei Xin dan meninggalkan Mei Xin dengan sepucuk surat bahwa ia telah lega dan merelakan Arya Kamandanu.
Sakawuni lalu menuju Majapahit untuk menyelesaikan masalah dengan ayahnya dan akhirnya ia bergabung menjadi prajurit di Majapahit dan tinggal bersama ayahnya yang ternyata sangat menyayanginya. Sayang sekali tidak lama setelah pecah pertempuran Majapahit melawan Kediri, ayahnya meninggal karena terkena aji tapak wisa milik Dewi Sambi dan terlambat mendapatkan pertolongan meskipun Sakawuni dengan dibantu oleh Arya Kamandanu telah berusaha sekuat tenaga untuk membawanya ke bukit Penampihan tempat Dewi Tunjung Biru.
Namun demikian, Sakawuni cukup lega karena sebelum ayahnya meninggal, ia telah mempertemukan ayah ibunya hingga mereka bersatu dalam ikatan perkawinan yang sah dan Sakawuni pun menjadi anak yang jelas asal-usulnya.
Banyak Kapuk meninggal di pangkuan istri dan putrinya yang tercinta. Ia dimakamkan di bukit Penampihan tempat istrinya berada.
Sepeninggal ayahnya, Arya Kamandanu membangkitkan semangat Sakawuni untuk kembali berjuang di Majapahit melanjutkan cita-cita ayahnya sebagai wujud bakti kepada orang tuanya. Sakawuni pun kembali ke Majapahit bersama Arya Kamandanu.
Dalam perjalanan ke Majapahit mereka diikuti oleh tak kurang dari 500 penduduk desa-desa yang mereka lewati yang ingin turut bergabung dengan Majapahit dalam mengusir tentara Tartar dari Jawa.
Setelah tentara Tartar berhasil diusir, Sakawuni tetap mengabdikan diri di Majapahit. Ia sering mendapatkan tugas bersama Arya Kamandanu seperti dalam upaya pemadaman pemberontakan Ranggalawe dan penumpasan gerombolan perusuh yang dipimpin oleh mpu Tong Bajil dan Dewi Sambi.
Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana sangat terkesan dengan kebersamaan Arya Kamandanu dan Sakawuni hingga beliau berkata alangkah senangnya beliau bila Arya Kamandanu dan Sakawuni menjadi suami - istri. Mereka berdua tidak langsung setuju terutama Sakawuni, ia berulang kali menolak keinginan Kamandanu yang setuju dengan perjodohan dari sang Prabu. Bahkan ia kesal karena begitu banyak punggawa kerajaan yang ikut campur dalam hal pribadinya. Maka dia sendiri mengajak Arya Kamandanu untuk mencari Mei Xin, istri Arya Kamandanu yang hilang tanpa jejak.
Setelah 2 bulan pencarian, Mei Xin tidak dapat ditemukan. Sebenarnya Arya Kamandanu telah menemukannya di pasar ikan Tuban namun Mei Xin tidak mengakui Arya Kamandanu sebagai suaminya bahkan mengaku sebagai istrinya Mahwang, seorang prajurit pelarian Mongolia. Mei Xin juga membiarkan Arya Kamandanu dipukuli oleh Mahwang di hadapan banyak orang di pasar tersebut.
Maka setelah kejadian itu Arya Kamandanu kembali pada keinginannya semula untuk melamar Sakawuni seperti yang dikatakan oleh sang Prabu. Tetapi Sakawuni masih menolak dengan alasan Kamandanu tidak mencintainya.
Arya Kamandanu yang kecewa dan marah karena penolakan Sakawuni yang berulang kali itu akhirnya mengamuk. Dengan menggunakan pedang naga puspa dan kekuatan tenaga dalam dari naga puspa kresna ia menghancurkan tebing-tebing.
Melihat kemarahan Arya Kamandanu, akhirnya Sakawuni mau mempertimbangkan lamarannya dan meminta Arya Kamandanu untuk mengulangi lamarannya di hadapan ibunya, dan jika ibunya setuju maka iapun akan menerima lamaran Arya Kamandanu.
Meskipun telah mendengar berbagai keberatan dan kekhawatiran Sakawuni, ibu Dewi Tunjung Biru tetap menerima lamaran Arya Kamandanu dan merestui Sakawuni menjadi istri Arya Kamandanu.
Merekapun menikah pada hari Respati wulan Waisaika wuku landep (1297 M) di hadapan dua pendeta Dang Acarya Ring Kasogatan dan Dang Acarya Ring Kasaiwan (seri 450).
Mereka membangun mahligai perkawinan yang bahagia, dikaruniai seorang anak yang bernama Jambunada setelah hampir 12 tahun berumah tangga. Jambunada merupakan anak kedua karena sebelumnya Sakawuni pernah keguguran yang diceritakan pada episode Pendekar Syair Berdarah.
Gb. AI Arya Kamandanu dan Sakawuni dengan menggunakan swap wajah dari pemeran pada versi sandiwara radio (Ferry Fadli sebagai Arya Kamandanu dan Yvonne Rose sebagai Sakawuni) yang menggambarkan saat kelahiran Jambunada. Sumber : google Gemini/koleksi pribadi
AKHIR KISAH
Sakawuni akhirnya meninggal saat melahirkan anaknya pada tahun 1309 M dan dimakamkan di bukit Penampihan tepat di samping makam ayahnya, Banyak Kapuk.
Sementara suaminya Arya Kamandanu menolak tawaran Dewi Tunjung Biru, ibu mertuanya, agar menyerahkan bayi Sakawuni untuk diasuh di bukit Penampihan dan ia bisa menikah lagi. Arya Kamandanu memilih untuk membesarkan bayi pemberian Sakawuni seorang diri dengan bertapa di lereng gunung Arjuna, tempat di mana ia dulu disembunyikan oleh Sakawuni lalu tinggal di sana beberapa waktu dari kejaran mpu Tong Bajil dan Dewi Sambi.
PEMERAN TOKOH SAKAWUNI
Cerita Tutur Tinular pertama kali muncul dalam bentuk sandiwara radio kemudian diadaptasi dalam bentuk film layar lebar, sinetron dan ditulis dalam bentuk novel. Meskipun telah diadaptasi berulang kali dan tokoh Sakawuni diperankan oleh banyak artis setidaknya ada 4 nama pemeran yang selalu diingat oleh penggemar serial Tutur Tinular.
Mereka adalah
Gb. Kolase foto pemeran Sakawuni dari versi ke versi. Sumber : Grup FB Pecinta Sandiwara Radio dan tangkapan layar film layar lebar Tutur Tinular 2
SAKAWUNI DALAM LAGU DAN ROAD SHOW PANGGUNG
Penerimaan yang luar biasa terhadap sandiwara radio Tutur Tinular hingga dipancarkan sekitar 512 radio se-Indonesia saat itu menumbuhkan permintaan yang tinggi dari penggemar untuk diadakan jumpa fans pemeran dalam bentuk road show panggung dari kota ke kota.
S. Tidjab sebagai penulisnya pun akhirnya menulis lagu berjudul Pelangi Cinta Kamandanu dengan menggandeng musisi Cecep AS yang dinyanyikan langsung oleh Ferry Fadli Setiadi sebagai Arya Kamandanu, Yvonne Rose Pattiapon sebagai Sakawuni dengan suara Lily Nur Indah Sari sebagai Nariratih. Ketiganya adalah pemeran masing-masing tokohnya di versi sandiwara radio. Lagu Pelangi Cinta Kamandanu juga menjadi tajuk kaset album yang keseluruhannya berisi sekitar 10 lagu yang dinyanyikan bersama dengan para pemain sandiwara radio Tutur Tinular lainnya.
Gb. Sampul album Pelangi Cinta Kamandanu, sumber : tangkapan layar YouTube Agus Soejono
Gb. Kolase poster road show panggung Tutur Tinular, sumber : akun FB Asdi Suhastra
Gb. Elly Ermawati sebagai Mei Xin, Ferry Fadli Setiadi sebagai Arya Kamandanu dan Yvonne Rose Pattiapon sebagai Sakawuni dalam dandanan road show panggung Tutur Tinular, Sumber : grup FB Pecinta Sandiwara Radio/IndraJP
Gb. Kolase dokumentasi road show panggung sandiwara radio Tutur Tinular, sumber foto - foto yang dikolase: akun FB Haryoko
REFERENSI
Grup Facebook Pecinta Sandiwara Radio, https://facebook.com/groups/260268474070442/
Grup Facebook Kamuni Lovers, https://facebook.com/groups/339300098448089/
Grup Facebook Ferry Fadli Fans Club, https://facebook.com/groups/355965982715721/
Channel YouTube Satria Collection, http://www.youtube.com/@satria-collection-16_06
Channel YouTube Agung Soedjono, http://www.youtube.com/@agungsoedjono0
Akun FB Asdi Suhastra
Akun FB Haryoko
Akun FB Muhammad Aboed
----------
Artikel Terkait:
11 Januari 2025
Ditulis oleh Nendanya Angela atas inisiasi dari akun FB Julidan April, kontribusi akun FB Si Si dan koreksi dari akun FB Erma Niza.
Artikel yang serupa sebelumnya telah dipublikasikan di grup FB Kamuni Lovers dan Wikipedia







