ALUR CERITA 1: Fiksi yang Berlatar Belakang Sejarah
MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK SR TT: ALUR CERITA 1
Alur cerita atau plot adalah urutan beberapa peristiwa, dan setiap peristiwa tersebut memengaruhi peristiwa berikutnya melalui prinsip sebab-akibat.
Jika dicermati alur cerita sandiwara radio Tutur Tinular terdiri dari alur cerita pokok bagian fiksi dan alur cerita latar belakang bagian sejarah yang difiksikan.
Alur cerita pokok bagian fiksi secara ringkas dapat dipahami melalui 3 chart berikut ini :
1. Chart silsilah kelahiran Jambu Nada, anak tunggal dari Arya Kamandanu yang berkaitan erat dengan roman cintanya Arya Kamandanu.
Keluarga Mpu Hanggareksa
Mpu Hanggareksa dan Sri Managih menikah, dan memiliki dua anak: Arya Kamandanu si adik dan Arya Dwipangga si kakak. Keduanya memiliki watak yang sangat berlainan. Si adik cenderung pemurung, peragu dan memiliki ketertarikan pada benda pusaka maupun ilmu kanuragan sedangkan si kakak cenderung suka bergaul, flamboyan, senang membaca dan menulis syair.
Arya Dwipangga: Ia memiliki dua hubungan. Dari pernikahannya dengan Nariratih, lahir seorang anak laki-laki bernama Panji Ketawang. Kemudian, dari hubungannya dengan Mei Xin, lahirlah Ayu Wandira. Diagram ini juga menunjukkan bahwa Ayu Wandira kemudian menikah dengan Pranayam dan memiliki anak angkat bernama Latta Manjari, yang akhirnya menikah dengan Jambunada.
Arya Kamandanu: Dikenal sebagai Pendekar Pedang Naga Puspa.
Keluarga Ki Sugata Brahma
Adalah pasangan Ki Sugata Brahma dan Nyai Sugata Brahma. Mereka memiliki satu orang anak perempuan, yaitu Ayu Pupuh, yang juga dikenal dengan julukan Dewi Tunjung Biru. Ayu Pupuh memiliki hubungan dengan Banyak Kapuk seorang punggawa besar di Singasari, dan akhirnya menikah meskipun terlambat. Dari hubungan itu lahirlah seorang putri bernama Sakawuni, yang dikenal sebagai Pendekar Angin Lengan Seribu.
Persatuan Dua Garis Keturunan
Puncak dari silsilah ini adalah pernikahan antara Arya Kamandanu dan Sakawuni. Pernikahan mereka menyatukan kedua keluarga yang sebelumnya terpisah. Dari pernikahan Arya Kamandanu dan Sakawuni, lahirlah Jambunada, yang juga dijuluki Satria Kekasih Dewa.
2. Chart silsilah jurus naga puspa hingga sampai ke Jambunada yang terkait dengan kisah perjalanan petualangan Arya Kamandanu sebagai seorang pendekar.
Gambar diagram silsilah garis turunan ilmu jurus naga puspa, sumber: FB Nendanya Angela
Diagram ini adalah silsilah jurus Naga Puspa dan garis keturunan ilmu yang dibuat berdasarkan karya S. Tidjab versi sandiwara radio. Diagram ini menunjukkan bagaimana ilmu bela kanuragan diturunkan, bukan garis keturunan darah.
Garis Keturunan Ilmu (Garis putus-putus)
Mpu Gandring adalah guru pertama.
Mpu Shashi adalah murid dari Mpu Gandring. Ia diceritakan sebagai orang yang digigit oleh siluman ular Naga Puspa Kresna jelmaan Dewi Mandini sehingga memiliki kekuatan tenaga dalam yang luar biasa.
Mpu Lunggah, Mpu Ranubhaya dan Mpu Hanggareksa adalah 3 serangkai murid dari Mpu Shashi. Mpu Ranubaya diceritakan membuat pedang Naga Puspa atas petunjuk arwah Mpu Shashi.
Arya Kamandanu adalah murid langsung dari Mpu Ranubhaya. Ia diceritakan juga digigit oleh siluman ular Naga Puspa Kresna alias Dewi Mandini sehingga memiliki kekuatan tenaga dalam yang luar biasa.
Jambunada adalah anak kandung sekaligus murid langsung dari Arya Kamandanu. Ia adalah titisan Dewa Mandana yang berada dalam pedang naga puspa dan Dewi Mandini yang menggigit Arya Kamandanu.
Garis Keturunan Ilmu Tambahan
Mpu Lunggah adalah paman guru bagi Arya Kamandanu yang memberikan petunjuk cara menguasai jurus tertinggi Naga Puspa dengan menggunakan tenaga dalam dari gigitan siluman ular Naga Puspa Kresna dan senjata pedang naga puspa.
Luh Jinggan adalah anak kandung sekaligus murid dari Mpu Lunggah. Ia menguasai tarian Cara Nagini yang mirip dengan gerakan jurus naga puspa tingkat ketiga.
Sakawuni memiliki tenaga dalam yang disebut Angin Lengan Seribu, yang disedot habis oleh Jambunada saat ia lahir.
Jambunada digambarkan memiliki kekebalan yang sudah setara dengan tenaga dalam dari ibunya dan kekuatan Naga Puspa Kresna dari ayahnya saat ia lahir.
Mpu Hanggareksa juga termasuk dalam silsilah ini, tetapi tidak dijelaskan hubungan ilmunya secara langsung dengan jurus Naga Puspa, melainkan satu garis keturunan ilmu dari Mpu Gandring dan Mpu Shashi dan merupakan ayah kandung dari Arya Kamandanu.
3. Chart perjalanan pedang naga puspa yang terkait dengan chart nomor 2.
Diagram ini menampilkan sebuah alur cerita yang berpusat pada perjalanan Pedang Naga Puspa dari awal pembuatan hingga akhir.
1. Awal Mula: Mpu Ranubhaya
Mpu Ranubhaya diculik oleh Meng Chi dan dibawa Mongolia sebagai tawanan, di sana ia diminta untuk membuat pedang khusus oleh panglima Khousing, yang kelak akan digunakan untuk menebus pembebasan dirinya oleh kaisar Kubilai Khan.
Ia membuat pedang Naga Puspa berdasarkan petunjuk arwah Mpu Shashi.
Pedang tersebut memiliki kekuatan unik dari ular Naga Puspa Kresna dan Seta. Pedang ini kemudian akan direbut oleh Meng Chi sebelum diserahkan kepada kaisar. Panglima Khousing meminta bantuan Pendekar Lou Shisan dan Mei Xin untuk menculik Mpu Ranubaya dari tahanan dan menyelamatkannya dari Meng Chi dan pasukannya.
2. Di Tangan Pendekar Lou Shisan & Mei Xin
Lou Shisan dan Mei Xin gagal menyelamatkan mpu Ranubaya bahkan kuil Phing Xan tempat asal mereka pun dihancurkan oleh pasukan Meng Chi. Mpu Ranubaya menyerahkan pedang naga puspa kepada Lou dan Mei Xin sebelum ia terbunuh. Lou dan Mei Xin melarikan diri hingga terdampar di Jawa dan menggunakan pedang Naga Puspa untuk mempertahankan diri dari orang-orang yang mencurigai mereka dan menginginkan pedang itu.
Sikap Lou dan Mei Xin yang tidak kooperatif, tidak pandai menyamar di tanah yang asing dan ceroboh, membuat mereka dalam kesulitan besar. Banyak pendekar yang jadi tahu adanya pedang naga puspa yang mereka bawa dan menginginkannya terutama kelompok Mpu Tong Bajil dan Dewi Sambi.
Lou Shisan terbunuh oleh mpu Tong Bajil. Sebelum meninggal ia menitipkan Mei Xin kepada Arya Kamandanu. Karena kecerobohannya, Mei Xin hamil dengan Arya Dwipangga yang sudah memiliki anak dan istri. Dengan terpaksa Arya Kamandanu menikahinya untuk menutupi aib keluarga dan Mei Xin akhirnya menyerahkan pedang itu kepada Arya Kamandanu.
Arya Dwipangga yang mendendam kepada Arya Kamandanu dan ayahnya melaporkan kepada kelompok mpu Tong Bajil yang terus berusaha merebut pedang naga puspa dari tangan Arya Kamandanu.
Arya Kamandanu diselamatkan oleh Sakawuni dari pengeroyokan mpu Tong Bajil, Dewi Sambi dan mpu Renteng lalu disembunyikan di lereng gunung Arjuna.
Arya Kamandanu kembali diselamatkan oleh Sakawuni saat ia sekarat akibat pukulan aji tapak wisa milik Dewi Sambi ketika mempertahankan pedang naga puspa dari mereka.
Pedang naga puspa digunakan oleh Arya Kamandanu untuk membobol benteng kota Kediri saat Majapahit menyerang Kediri.
Setelah Majapahit berdiri, pedang naga puspa digunakan oleh Arya Kamandanu untuk tugas mengatasi pemberontakan Ranggalawe.
Pedang naga puspa sempat jatuh ke tangan mpu Tong Bajil dan digunakan membuat kerusuhan di seluruh negeri Majapahit. Atas kerja keras Arya Kamandanu dan Sakawuni, pedang itu dapat direbut kembali dan kelompok mpu Tong Bajil ditumpas.
Pedang naga puspa digunakan untuk melaksanakan tugas memadamkan pemberontakan Gajahbiru, kerusuhan yang dibuat oleh pendekar syair berdarah maupun Wong Agung.
Setelah Sakawuni meninggal akibat perdarahan berat saat melahirkan Jambunada, pedang naga puspa ditancapkan oleh Arya Kamandanu di dalam sebuah goa yang sempit di lereng gunung Arjuna dan tidak terjangkau oleh manusia. Tidak ada seorangpun yang mampu mengambilnya.
Setelah Jambunada dewasa dan Arya Kamandanu moksa di pancaka, Dewa Mandana dan Dewi Mandini kembali ke asalnya. Jambunada sembuh dari kulitnya yang bersisik naga puspa kresna dan pedang naga puspa kembali menjadi logam biasa menyatu dengan batu di dinding goa lereng gunung Arjuna.
----
Seandainya Arya Kamandanu hidup berbahagia dengan Mei Xin di lereng gunung Arjuna dan tidak dimunculkan tokoh Sakawuni sama sekali, bagaimana perjalanan pedang naga puspa? Apakah tetap berguna dalam ikut merintis berdirinya kerajaan Majapahit?
Menurut analisis alur cerita di atas, bisa kita pahami jika Arya Kamandanu hidup bahagia dengan Mei Xin dan tidak ada tokoh Sakawuni, pedang Naga Puspa kemungkinan besar tidak akan berguna dalam merintis berdirinya Kerajaan Majapahit.
Ini alasannya:
1. Keterputusan Alur
- Kehilangan Motivasi: Dalam cerita aslinya, Kamandanu diselamatkan oleh Sakawuni dari pengeroyokan dan pukulan aji tapak wisa yang membuat ia sekarat. Tanpa Sakawuni, Kamandanu mungkin akan meninggal atau setidaknya lumpuh, dan pedang akan jatuh ke tangan musuh (Mpu Tong Bajil).
- Tidak Ada Bantuan Strategis: Sakawuni adalah karakter kunci yang membantu Kamandanu dalam berbagai pertempuran penting. Ia membantu merebut kembali pedang dari Mpu Tong Bajil dan menumpas gerombolannya. Tanpa Sakawuni, Kamandanu tidak memiliki rekan yang sepadan untuk menghadapi musuh-musuhnya.
- Tidak Ada Koneksi ke Majapahit: Jika Kamandanu hanya hidup mengasingkan diri dengan Mei Xin di lereng gunung Arjuna, ia tidak akan pernah menjadi panglima perang Majapahit. Tidak ada pertumbuhan karakter tokoh dan cerita menjadi deadlock.
2. Karakter Mei Xin
- Mei Xin sebagai Pemicu Konflik, Bukan Pemecah Konflik: Alur cerita menunjukkan bahwa Mei Xin adalah tokoh yang ceroboh dan sering memicu masalah, yang membuat ia dan Lou Shisan terus menjadi buronan. Perilakunya ini berlawanan dengan Sakawuni yang strategis, hati-hati, dan mendukung.
- Tidak Memiliki Latar Belakang Prajurit: Mei Xin tidak memiliki kemampuan atau latar belakang untuk membantu Kamandanu dalam perang. Ia hanya memiliki kemampuan silat dan ilmu pengobatan yang justru diperolehnya setelah ia sendiri memutuskan untuk tidak mengakui Arya Kamandanu sebagai suaminya.
Dengan demikian, jika alur cerita diubah menjadi Kamandanu hidup dengan Mei Xin, cerita tidak akan berlanjut ke bagian Majapahit. Pedang Naga Puspa akan hilang di tangan musuh, dan Kamandanu tidak akan memiliki alasan atau kemampuan untuk terlibat dalam perjuangan politik dan militer Majapahit. Pedang Naga Puspa hanya berguna karena berada di tangan orang yang tepat, yang didukung oleh orang yang tepat pula.
Berdasarkan semua alur cerita dan diagram yang telah kita analisis, Arya Kamandanu dan Sakawuni memang sepasang yang saling melengkapi dan tak terpisahkan.
Keterkaitan Alur dan Karakter
- Jalur Takdir: Kisah Pedang Naga Puspa dan roman cinta Kamandanu tidak bisa dipisahkan. Pedang itu menjadi takdir yang mempertemukan Kamandanu dengan Sakawuni.
- Simbiosis Kekuatan: Keduanya memiliki kekuatan yang saling melengkapi. Kamandanu dengan jurus Naga Puspa-nya, dan Sakawuni dengan jurus angin lengan seribu.
Puncak dan Akhir Kisah
- Penyatuan Kekuatan: Kekuatan dari kedua tokoh ini tidak berakhir saat mereka meninggal, tetapi diwariskan secara sempurna kepada anak mereka, Jambunada yang direncanakan ada ceritanya tersendiri hanya sayangnya tidak pernah jadi ditayangkan.
- Akhir Pedang Naga Puspa: Kehilangan fungsinya pedang Naga Puspa setelah Jambunada lahir, menunjukkan bahwa misinya telah selesai. Misi pedang itu bukan hanya untuk berpetualang, tetapi untuk menyatukan dua garis keturunan dan menghasilkan "Satria Kekasih Dewa".
Kesimpulannya, peran Sakawuni dalam cerita ini sangat krusial. Ia bukan hanya pasangan Kamandanu, melainkan bagian integral dari takdir pedang Naga Puspa, yang akhirnya mencapai tujuan akhirnya melalui kelahiran Jambunada. Oleh karena itu wajar dan sangat tepat jika di dalam sampul kaset pita sandiwara radionya Sakawuni dilukiskan sebagai tokoh sentral yang besar di belakang dekat dengan Arya Kamandanu yang memegang pedang naga puspa.
----------
Artikel terkait:
SAKAWUNI: Pendekar Angin Lengan Seribu
JAMBUNADA: Buah Cinta Titisan Dewi Mandini
ARYA KAMANDANU: Ayah yang Sempurna Tanggungjawabnya
Artikel berikutnya:
Alur Cerita 2: Lini Masa Sandiwara Radio Tutur Tinular


