TENTANG

 

Tutur Tinular: Sejarah Lengkap Sandiwara Radio Legendaris Indonesia 

Awal Mula: Sandiwara Radio yang Mendunia

Tutur Tinular adalah serial sandiwara radio legendaris Indonesia yang disiarkan sejak 1 Januari 1989 hingga 31 Desember 1990. Serial ini dimainkan oleh teater Sanggar Prativi, diproduksi oleh PT Swadaya Prativi (Sanggar Cerita), dan disiarkan secara serentak oleh lebih dari 512 stasiun radio di seluruh Indonesia.

Hingga kini, Tutur Tinular masih sering diputar ulang di berbagai stasiun radio lokal, dan juga tersedia secara digital melalui platform seperti RCTI+ serta dalam bentuk rekaman MP3, kaset, dan CD/DVD yang masih diperjualbelikan.

Poster sandiwara radio Tutur Tinular oleh sanggar prativi tahun 1989
Gb. Poster sekaligus sampul kaset pita sandiwara radio Tutur Tinular yang dirilis oleh Sanggar Prativi melalui perusahaan yang dikelolanya yakni PT Swadaya Prativi alias Sanggar Cerita. Sumber : FB Grup Pecinta Sandiwara Radio


Jumlah keseluruhan kisah Tutur Tinular adalah 720 seri yang terbagi ke dalam 24 episode atau setiap episode terdiri atas 30 seri. Adapun judul-judul episodenya adalah sebagai berikut :

1. Pelangi di Atas Kurawan (seri 1 - 30)
2. Kisah dari Seberang Lautan (seri 31 - 60)
3. Daun-Daun Bersemi Lagi (seri 61 - 90)
4. Kemelut Cinta di Atas Noda (seri 91 - 120)
5. Perguruan Loh Pandak (seri 121 - 150)
6. Cahaya Fajar Menembus Hutan Tarik (seri 151 - 180)
7. Mata Air di Tanah Gersang (seri 181 - 210)
8. Angkara Murka Merajalela (seri 211 - 240)
9. Badai Mengamuk di Atas Kediri (seri 241 - 270)
10. Pemberontakan Ranggalawe (seri 281- 300)
11. Mutiara Ilmu di Atas Batu (seri 301 - 330)
12. Nagapuspa Kresna (seri 331- 360)
13. Geger Pedang Nagapuspa (seri 361 - 390)
14. Keris Mpu Gandring (seri 391 - 420)
15. Kisah Seorang Prajurit Pelarian (seri 421 - 450)
16. Pemberontakan Gajah Biru (seri 451 - 480)
17. Pendekar Syair Berdarah (seri 481 - 510)
18. Dendam Lama dari Kurawan (seri 511 - 540)
19. Keluarga Prabu Kertarajasa Jayawardhana (seri 541 - 570)
20. Golek Kayu Mandana (seri 571 - 600)
21. Pemberontakan Lembu Sora (seri 601 - 630)
22. Gelapnya Malam Tanpa Bintang (seri 631 - 660)
23. Wong Agung Turun Gunung (seri 661 - 690)
24. Mendung Bergulung di Atas Majapahit (seri 691 - 720)

Tutur Tinular berasal dari Bahasa Jawa yang berarti "Nasihat atau Petuah yang Disebarluaskan".


Tokoh Utama: Arya Kamandanu dan Sakawuni

Cerita Tutur Tinular berpusat pada perjalanan hidup Arya Kamandanu, seorang pemuda biasa yang tidak memiliki arah hidup, hingga akhirnya menjadi pendekar tangguh dan berkontribusi besar dalam berdirinya Kerajaan Majapahit, sebelum akhirnya memilih jalan spiritual sebagai pertapa.

Bersama Kamandanu, diceritakan pula kisah Sakawuni, seorang perempuan yang awalnya disia-siakan sejak bayi, namun tumbuh menjadi pendekar wanita pilih tanding (lihat artikel Sakawuni). Ia ikut berjuang dalam perjuangan Majapahit dan akhirnya menjadi istri tercinta Kamandanu, sebelum wafat saat melahirkan.

Kedua tokoh ini tergambar dengan jelas dalam sampul kaset sandiwara radionya.


Proses Kreatif: Dari Naskah ke Radio

Naskah Tutur Tinular ditulis langsung dalam bentuk drama oleh S. Tidjab sejak tahun 1986. Proyek ini digarap bersama Carolus Ispriyono sebagai sutradara, penata musik, dan co-writer. Naskah aslinya belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apapun selain sandiwara radio.

Berbeda dengan sandiwara radio Saur Sepuh yang lebih dulu populer (1983–1985) dan dijual hak ciptanya ke satu perusahaan (PT Kalbe Farma), Tutur Tinular tetap dimiliki oleh penciptanya: hak cipta cerita oleh S. Tidjab, dan hak cipta produksi sandiwara oleh Sanggar Prativi. Sayangnya, hak paten karya ini tidak pernah didaftarkan, sehingga banyak adaptasi liar bermunculan kemudian hari.


Naskah Karya: S. Tidjab.

Teknik dan montage : Edwin Sutandi dan Joko SP

Hiasan Musik dan Sutradara: C. Ispriyono K.

Di dukung para pemain sanggar cerita & prathivi :

Ferry Fadli sebagai Arya Kamandanu

Ivonne Rose sebagai Sakawuni

M. Aboed sebagai Arya Dwipangga, Ike Mese, Mpu Sashi, Ma Bo Yi, Sokol

Elly Ermawati sbg Mei Shin

Lily Nur Indah Sari sebagai Nari Ratih, Luh Jinggan, Sunggi

Lukman Tambose sebagai Mpu Tong Bajil, Aki Tangkur, Ki Surabaya

Margareth sebagai Dewi Sambi

Eddy Dhosa sebagai Lo Shi Shan, Mantri Segoro Winotan

Asdi Suhastra sebagai Mpu Ranubhaya, pembawa cerita

Hari Akik sebagai Mpu Hanggareksa, Kebo Anengah, Gajah Mada

Nusri Nurdin sebagai Lembu Sora, Luruh, Gagak Sali, pembawa cerita

Herry Setiono sebagai Sanggrama Wijaya, Murdaja, Kuda Prana, Ra Yuyu

Rusli Pontian sebagai Rangga Lawe, Suraprabawa, Patih Emban

Haryoko sebagai Kubilai Khan, Nambi, Aki Lumpang, Mpu Renteng, Resi Wisambudi, Resi Mahalalita, Panji Ketawang Dewasa

Iwan Dahlan sebagai Pranaraja, Aki Pamungsu, Ki Sugata Brahma, Rake Dukut, Ki Panggala, Mantri Prakrama

Petrus Urspon sebagai Jaran Bangkal, Banyak Kapuk, Jayakatwang, Mei Hua, Gajah Pagon

Narto Bantul sebagai Ardharaja, Adirasa, Rembaka, Ki Talat Waja, Ra Wedeng

Idris Apandi sebagai Ramapati, Banyak Kapuk, Macan Kumbang, Watukura

Sono Sudiakso sebagai Arya Wiraraja, Mpu Lunggah, Aki Gumbreg, Rakawikirang

Nenny Haryoko sebagai Ayu Pupuh alias Dewi Tunjung Biru, Nyai Pamungsu

Anna Sambayon sebagai Nini Raga Runting, Nyi Lemus, Nyi Kelu, Nyi Pamiji

Mario Kulon sebagai Dangdi, Kaki Tanparoang, Banyak Kapuk

Rio Sempana sebagai Panji Ketawang Kecil

Renita sebagai Ayu Wandira Kecil

Suryadin Tandjung sebagai Jaran Lejong , Pakeling, Kalongpret

Wenda Lubis sbg Wirod , Kebo Anabrang, Langkir, Jaran Bangkal, Demang Wira

Elly Panca sebagai Nyi Rongkot

Yanwar sbg Ra Tanca

Herman Wijaya sebagai Tabib Wong Yin, Silanda Jaya

Yulie Muliana sebagai Werda Murti, Palastri, Kurantil, Mei Shin , Ayu Wandira Dewasa

Bambang Jeger sebagai Patih Kebo Mundarang , Sudra Palong

Mamuk Pratomo sebagai Kertanagara, Kebo Kluyur

Wawan GW sebagai Ganggadara, Ki Bokor

Benny Indrahadi sebagai Jarawaha, Shih Pie, Sanding, Kuntir, Sampit, Ra Banyak, Jana Lelung

Sudi Byanto sebagai Jaruju, Tambir, Kartawijaya

Wahyu Chandra sebagai Balawi, Meng Chi, Ki Janawidi

A.P Burhan sebagai Rakryan Wuruh, Chan Pie, Aki Pamiji, Banyak Dekur, Rake Patanjana, Rana Dikara, Mpu Tanduk, Wong Agung alias Resi Jana Maha Dwija

Eny Budiono sebagai Parwati, nyai Gajah Biru 

Katarina sebagai Nyi Warih

Kasdu Dewa sbg Dipangkara Dasa, Lembu Sora, Ra Podang

Otis Perkasa sebagai Wong Chau

Armand Donida sebagai Kau Hsing

Budi Klontong sebagai Nambi, Ki Julungwangi

Ai Mudji Rahayu sebagai Naraya Turuk Bali

Bambang Hermanto sebagai Gajah Pagon, Wong Kilur

Wied Harry Apriadjie sebagai Marakeh

Freddy Canser sebagai Medangkungan

Eddy Juni sebagai Linggapati, Puye, Ike Mese, Nambi

Elyas sebagai Gajah Biru

Rini Marjan sebagai Sariti, Tribhuwaneswari, Nyi Tumpak Seti

Novia Mandagie sebagai Mahadewi Pradnya Paramita

Wiwiek sebagai Rajapatni

Mas'ud sebagai Wangsa Halemu

Yayuk Kristanto sebagai Nyi Sepang

Mogan Pasaribu sebagai Ra Pangsa


Adaptasi Film dan Kekecewaan Penggemar

Kesuksesan besar Tutur Tinular di radio membuat PT Kanta Indah Film, yang sebelumnya memfilmkan Saur Sepuh, segera memproduksi versi layar lebarnya. Film Tutur Tinular 1 dirilis tahun 1989, saat penayangan radio baru mencapai separuh dari total 720 seri.

Gb. Flyer film layar lebar Tutur Tinular 1 yang dibintangi oleh Benny G. Rahardja, Elly Ermawati dan Diah Permatasari. Sumber : FB Komunitas Pecinta Film Jadul Indonesia.


Film lanjutan muncul berturut-turut:

Tutur Tinular 2 (1991)

Gb. flyer film layar lebar Tutur Tinular 2 yang dibiayai oleh Hans Wanagih, Linda Yanoman dan Ratih Widyowati S. Sumber: FB KPFJI & Awy Doank

Tutur Tinular 3 (1992)


Gb. Flyer film layar lebar Tutur Tinular 3 yang dibintangi oleh Murti Sari Dewi, Sandi Nayoan, Baron Hermanto dan Wingki Harun. Ada pula Devi Permatasari hadir sebagai cameo. Sumber: FB KPFJI

 Tutur Tinular 4 (1992)


Gb. Flyer film layar lebar Tutur Tinular 4 yang dibintangi oleh Benny G Rahardja, Murti Sari Dewi dan Linda Yanoman. Sumber: FB KPFJI

Sayangnya, versi film ini tidak menuai kesuksesan seperti versi radionya. Ceritanya cenderung melenceng dari naskah asli dan terpengaruh tren film panas yang marak di awal 1990-an.


Sinetron TV: Populer Tapi Kontroversial

Tahun 1997, rumah produksi PT Genta Buana Pramitha mengangkat cerita ini ke layar kaca menyusul kesuksesan sinetron Singgasana Brama Kumbara. Sinetron Tutur Tinular versi 1997 tayang dalam 50 episode dan cukup diterima publik.

Namun, tema cerita justru bergeser dari perjuangan jati diri dua pendekar pribumi menjadi melodrama cinta Arya Kamandanu, dengan tokoh asing sebagai pusat cerita—berbeda dari versi radio. Alur cerita dan endingnya pun berubah total dari versi aslinya di sandiwara radio.


Gb. Flyer sinetron Tutur Tinular tahun 1997 versi Genta Buana Paramita. Sunber: Grup FB Jual Beli Koran dan Majalah Lawas

Genta Buana lalu merilis:

  • FTV Legenda Cinta Arya Kamandanu (27 seri)

  • Sinetron Tutur Tinular versi 2011
    Versi 2011 ini paling banyak menuai kritik karena terkesan hanya memakai nama-nama tokoh dari versi asli tanpa esensi ceritanya.


Versi Novel: Upaya yang Tak Berlanjut

Pada 2001, muncullah adaptasi novel yang diangkat dari episode pertama serial radio. Ditulis oleh Buenergis Muryono berdasarkan cerita S. Tidjab, novel ini terbit dalam 4 jilid, dengan kompilasi ulang pada 2012. Sayangnya, respons pasar kurang baik, sehingga tidak berlanjut untuk episode lainnya.


Versi Terbaru dan Digitalisasi

Serial Tutur Tinular kembali diadaptasi ke layar kaca:

  • 2015 oleh SCTV

  • 2021 oleh MNC TV

Namun, keduanya tidak lagi mengikuti alur versi radio dan tidak mendapatkan penerimaan yang memuaskan dari masyarakat.


Rekap Kronologi Tutur Tinular

🟢 Versi Original (Radio)

  • 1989–1990
    720 seri sandiwara radio
    Naskah: S. Tidjab
    Sutradara & musik: C. Ispriyono K.

🟡 Versi Adaptasi Film & TV

  • 1989: Film Tutur Tinular 1

  • 1991: Film Tutur Tinular 2

  • 1992: Film Tutur Tinular 3 & 4

  • 1997: Sinetron Tutur Tinular (50 seri) & FTV Legenda Cinta Arya Kamandanu (27 seri)

  • 2001 & 2012: Novel 4 jilid

  • 2011: Sinetron versi baru

  • 2015: Sinetron SCTV

  • 2021: Sinetron MNC TV


Penutup

Tutur Tinular adalah warisan budaya populer Indonesia yang monumental. Kisah perjuangan tokoh-tokohnya, nilai moral, dan kualitas produksinya menjadikan sandiwara radio ini tetap dicintai lintas generasi.

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di grup Facebook Kamuni Lovers sebagai bagian dari usaha dokumentasi dan pelestarian karya-karya sandiwara radio Indonesia.


📚 Daftar Pustaka Ringan

  • S. Tidjab – Penulis naskah asli Tutur Tinular, produksi Sanggar Prativi (1989–1990).

  • Carolus Ispriyono K. – Sutradara dan penata musik sandiwara radio Tutur Tinular.

  • Komunitas Pecinta Sandiwara Radio (Facebook) – Dokumentasi kaset dan poster Tutur Tinular.

  • Komunitas Pecinta Film Jadul Indonesia (Facebook) – Arsip poster Tutur Tinular versi film.

  • Liputan6.com – Artikel promosi sinetron Tutur Tinular versi 2011, 2015, dan 2021.

  • Tokopedia – Produk novel Tutur Tinular 4 jilid versi Buenergis Muryono.

  • RCTI+ – Platform digital yang menayangkan ulang sandiwara radio Tutur Tinular.

  • Grup FB Kamuni Lovers – Diskusi dan publikasi awal artikel ini.

  • FB Awy Doank

  • Grup FB Jual Beli Koran dan Majalah Lawas


Halaman berikutnya:


Artikel terkait :

Siapakah Wajah dalam Poster Legendaris Sandiwara Radio Tutur Tinular?


Sang Arsitek Emosi di Balik Sandiwara Radio Tutur Tinular