BENARKAH SAKAWUNI TOMBOY? CARA PENOKOHAN SANDIWARA RADIO TUTUR TINULAR YANG PLOT TWIST

MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK SR TT: PENOKOHAN 4 


Di sebuah grup yang membahas sandiwara radio, beberapa kali saya membaca postingan ataupun komentar yang menyatakan bahwa Sakawuni tomboy tapi mengapa Arya Kamandanu mau mengawininya.

Sebenarnya kalau ada orang yang membully Sakawuni sebagai “tomboy” atau bahkan digambarkan kekar seperti laki-laki, sebetulnya itu lahir dari kesalahpahaman terhadap konteks cerita dan budaya Majapahit. 


1.  Kesalahan Memahami Kata Tomboy

Istilah tomboy itu produk budaya modern Barat, baru populer abad ke-16–17, dan jelas tidak relevan untuk menggambarkan wanita abad ke-14 di Majapahit.
Sakawuni bukanlah “tomboy” dalam arti ingin meniru laki-laki atau menolak kodrat kewanitaannya. Ia hanya menggunakan strategi penyamaran: berpakaian mirip laki-laki agar aman saat mengembara, berlatih bela diri, atau menyusup ke wilayah musuh. Itu pilihan rasional, bukan gaya hidup.
Gambar Tangkapan layar dari Atlantic.com tentang asal usul istilah tomboy dan interpretasinya.



2. Tubuh Kekar Tidak Didukung Narasi

Tidak ada satu pun deskripsi dalam kisah Tutur Tinular yang menyebut Sakawuni bertubuh kekar seperti laki-laki.

Menurut cerita di dalam sandiwara radionya, deskripsi Sakawuni itu secara fisik antara lain sebagai berikut ini:

a. Kesan Awal dan Penampilan Umum

Dimulai saat awal kemunculan Sakawuni ketika menolong Lou dan Mei Xin di malam hari dan pagi harinya memberi mereka daging untuk sarapan. Saat makan dengan Mei Xin dan Lou, narator mengatakan bahwa ia adalah wanita cantik yang masih remaja usia namun dengan raut dewasa (seri 54).

Deskripsi dari narator ini sesuai dengan gambar ilustrasi wajah Sakawuni ada di sampul kaset Sandiwara Radio Tutur Tinular yang dilukis oleh Haryoko (illustrator dari Sanggar Prativi), sumber: gambar umum poster sandiwara radio Tutur Tinular lihat cropingnya di bawah.

b. Komentar dari Karakter Lain

  • Saat bertemu dengan Dewi Sambi di candi Sorabana, Dewi Sambi menyebutkan ingin melumat mulutnya yang mungil dan menghancurkan tubuhnya yang montok.
  • Saat akan menyerang rumah Mpu Hanggareksa, Dewi Sambi berdebat dengannya dan sempat mengatakan, "Kau cantik, penampilanmu cukup menarik."
  • Saat Sakawuni menyamar sebagai nenek-nenek di desa Lohpandak dan ketahuan Ki Sugata Brahma, kakeknya itu berkata, "Jangan begitu, cantik-cantik kok jadi nenek-nenek. Jadi nenek-nenek itu tidak enak." (Episode 5)
  • Saat ketemu dengan Kamandanu pertama kalinya, Kamandanu memujinya cantik padahal ia sedang awut-awutan setelah bertarung dengan Gajah Pagon dan Ranggalawe (seri 98 - 100).
  • Saat membuat gubug di lereng Arjuna, Kamandanu tidak tidur semalaman dan terus memandanginya dan mengatakan ia manis (seri 134 - 135).
  • Saat Kamandanu terluka dan diboncengkan naik kuda oleh Sakawuni, narator mengatakan Kamandanu berpegangan pada pinggangnya yang ramping (episode 7).
  • Saat Kamandanu ditanyai oleh Nyi Tumpak Seti mengapa ia terus menanyakan di mana Sakawuni, Kamandanu berkata bahwa ia cantik, masih sangat muda dan sedikit brutal. Kamandanu khawatir ia dalam kesulitan.
  • Begitu melihatnya, Ki Surabaya mengatakan bahwa Sakawuni jauh lebih cantik dari Tali Tali dan ia mau menuruti semua kata-kata Sakawuni agar Sakawuni menepati kata-katanya untuk menjadi istri Ki Surabaya menggantikan Tali Tali.
  • Saat bertemu dengan ibunya, Dewi Tunjung Biru berkata dalam hati, "Kau sekarang sudah menjadi gadis remaja yang cantik jelita."
  • Saat bertarung melawan ayahnya, narator menyebutkan Sakawuni berdiri tegak bagai patung Dewi Kekayi, rambutnya yang panjang berkibar-kibar tertiup angin (episode 8).
  • Saat dia pingsan setelah memaafkan ayahnya, ayahnya berkata kepada Ranggalawe dan yang lainnya bahwa ia tidak menyangka jika mempunyai anak semanis itu. Narator mengatakan setelah tinggal bersama ayahnya, wajahnya Sakawuni yang manis tampak semakin manis.
  • Kamandanu berkata kepada Banyak Kapuk kalau Sakawuni mirip sekali dengan ibunya, sedangkan ibunya itu cantik jelita.
  • Paman Wirod berkata kepada Kamandanu saat menunggui Sakawuni yang sedang pingsan, "siapa dia? Istrimu? Pacarmu? Atau temanmu? Kau pasti suka berteman dengan wanita secantik dia, lihat pipinya mulus, bibirnya merah... hhhh... merah." (Episode 11)
  • Ramapati berkata kepada Kamandanu, "Sakawuni itu cantik dan baik. Kau bisa belajar mencintainya dan kalian hidup bahagia." (Episode 15)
  • Murid-murid DTB mengatakan bahwa Sakawuni cantik bagai Dewi Ratih sedangkan Kamandanu tampan bagai dewa Kamajaya (seri 448 - 449).
  • Arya Dwipangga mengatakan kepada Arya Kamandanu bahwa ia ikut senang karena Kamandanu sudah bertemu dengan jodohnya, seorang wanita yang cantik (episode Dendam Lama dari Kurawan).
  • Saat bertemu dengan Kamandanu di desa Tebu, Mei Xin berkata, "Bukankah tuan sudah memiliki seorang istri yang Pendekar yang cantik. Semua orang berkata kalian adalah pasangan yang serasi bagai Kamajaya dan Dewi Ratih. Untuk apa lagi tuan memikirkan wanita yang bernama Mei Xin itu?" (Seri 578 - 580).
  • Saat menjelang persalinan, Sakawuni tertidur setelah diberi obat oleh Mei Xin yang menyamar sebagai Nyai Paricara. Saat Kamandanu bertanya kepada Mei Xin agar mengakui jati dirinya, Mei Xin berkata, "Sebentar lagi istri tuan yang cantik itu akan bertaruh nyawa untuk melahirkan anak pertama tuan. Tidak baik tuan memikirkan wanita lain di saat seperti ini!" (Episode 24).
  • Saat akan meninggal narator mengatakan sakitnya Sakawuni tidak terkatakan hanya air yang mengalir dari matanya yang indah.
  • Setelah Sakawuni meninggal, para prajurit jaga terus memperbincangkannya mengapa orang yang baik, ramah, cantik dan manis cepat meninggal.

Berdasarkan penggalan-penggalan dalam kisah sandiwara radionya di atas, Sakawuni diceritakan sangat menarik secara fisik sehingga wajar jika dalam seri 98 - 100, Arya Kamandanu langsung lupa tujuannya mencari Mei Xin begitu melihat Sakawuni untuk pertama kalinya.

Bahkan tokoh-tokoh lain seperti Mei Xin maupun narator mengomentari cara berpakaian dan wibawanya, bukan otot atau kekar fisiknya.

Artinya, tuduhan bahwa Sakawuni “kekar” hanyalah imajinasi berlebihan, bukan berbasis naskah asli. Bisa dicek dan didengarkan sandiwara radionya di YouTube ataupun Spotify dan RCTI plus. 


3. Bukti Sejarah tentang Prajurit Wanita

Sejarah Nusantara mengenal banyak prajurit wanita—dari Ken Dedes di era Singasari hingga Laksamana Malahayati di abad ke-16. Mereka berani, terampil bertempur, tapi tetap dipandang anggun dan cantik. Relief candi-candi Majapahit pun menunjukkan wanita prajurit dengan tubuh proporsional, tidak kekar berlebihan. Jadi logika historis mendukung gambaran Sakawuni sebagai wanita tangguh sekaligus feminin.

Gambar Tangkapan layar ulasan dari Hops.id bahwa prajurit wanita sudah ada sejak zaman Jawa kuno dan mereka memiliki berbagai ketrampilan untuk keperluan penyamaran dalam menjalankan tugas di peperangan bahkan menjadi mata-mata. 



4. Psikologi Kamandanu

Kalau Sakawuni benar digambarkan “tomboy” atau “kekar”, kecil kemungkinan Kamandanu jatuh hati sedalam itu. Ingat, Kamandanu punya latar kisah tragis: gagal dengan Nariratih, kecewa dengan Mei Xin. Yang membuatnya memilih Sakawuni adalah karena ia memadukan ketegasan prajurit dan kelembutan seorang wanita. Kalau sosoknya benar-benar maskulin, tentu alur cinta Kamandanu-Sakawuni tidak akan logis.

Bukti terkonkret yang membantah bullying terhadap tokoh Sakawuni sebagai kekar dan tomboy adalah gambar lukisan pada kover kaset pita sandiwara radio Tutur Tinular itu sendiri yang menggambarkan Sakawuni sebagai gadis cantik dengan rambut hitam legam panjang, dahi lebar dan jenong khas zaman Majapahit yang menyimbolkan kecerdasan dan kebijaksanaannya, mata besar yang indah, hidung mancung dan bibir mungil dengan raut wajah dewasa yang tegas, tatapan mata yang tajam tapi lembut. Gambaran ini sama sekali tidak cocok dengan kata kekar dan tomboy.

Kover kaset pita sandiwara radio Tutur Tinular episode 1 seri 17-18
Gambar kaset kover pita sandiwara radio Tutur Tinular episode 1 Pelangi di Atas Kurawan seri 17-18, sumber: Dunia Nostalgia 80-an, https:kotarominami.multiply.com

Lukisan wajah tokoh Sakawuni pada kover kaset pita sandiwara radio Tutur Tinular tahun 1989
Gambar croping wajah Sakawuni pada lukisan kover kaset pita sandiwara radio Tutur Tinular yang tayang mulai 1 Januari 1989, sumber: koleksi pribadi 


5. Representasi Kewanitaan

Sakawuni justru mewakili tipe wanita yang “menjaga martabat”:

  • berpakaian rapi, tertutup bermartabat sesuai dengan situasi dan kondisinya yang menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaannya dalam melindungi dirinya sendiri dan menjaga martabatnya sebagai wanita,
  • setia mendampingi suami,
  • tapi juga berani berperang.

Dengan begitu, ia bukan “tomboy”, melainkan arketipe wanita ideal Majapahit: teguh, cerdas, lembut, dan menjaga kehormatannya.


🌹 Kesimpulan Singkat

👉 Menyebut Sakawuni “tomboy” atau “kekar” jelas keliru.

Ia bukan meniru laki-laki, melainkan cerdas menggunakan strategi penyamaran.

Fisiknya digambarkan proporsional dan anggun, tidak ada narasi yang mendukung tuduhan kekar.

Yang benar: Sakawuni adalah wanita pendekar yang bekerja sebagai prajurit Majapahit yang elegan, tangguh tanpa kehilangan keanggunan, istri yang baik dan wanita yang bijaksana. Itulah mengapa Kamandanu jatuh hati sepenuhnya kepadanya. 

---------

Artikel sebelumnya:

Sakawuni: Prajurit Wanita Majapahit yang Elegan dan Bermartabat


Artikel berikutnya:

Arya Kamandanu: Antara Harga Diri dan Keinginan Meraih Cinta Sejati