Sinopsis Episode 1 Pelangi di Atas Kurawan Seri 1-2

Sinopsis Sandiwara Radio Tutur Tinular Episode PELANGI DI ATAS KURAWAN Seri 01-02


Pada tahun 1284 kerajaan Singasari atau Tumapel berhasil menaklukkan Bali Dwipa dan pada tahun 1286 kerajaan Singasari juga berhasil menaklukkan Swarna Dwipa atau Swarnabumi atau Pamalayu.


Setelah tentara Singasari pulang dari kemenangannya di Pamalayu, raja Kertanegara dari Singasari menggelar pertemuan di balairung istana untuk membahas draf prasasti Camundha yang nantinya akan diresmikan pada 12 April 1292. Prasasti itu memuat pemberian penghargaan kepada orang-orang yang berjasa kepada Singasari termasuk Mpu Hanggareksa.


"Salam bahagia wahai sang Prabu, salam bahagia wahai sang Syiwa-Budha," hadirin memberikan penghormatan.

"Terimakasih, salam kalian kuterima dengan senang hati. Mudah-mudahan berkenan pula bagi para dewa yang bersemayam di atas langit. Kalian semua kuundang untuk berkumpul di pendapa agung ini agar menjadi saksi hidup bagi adanya prasasti yang baru saja dirampungkan oleh Sudharmapapati. Kita semua mengerti ada banyak yang bisa kita capai dengan gemilang tahun-tahun terakhir ini. Singasari bukan lagi sebuah tempurung yang mengapung di muara Sugaluh, melainkan telah berganti wajah menjadi sebuah armada kapal perang yang ditakuti negeri-negeri lain yang jauh. Arca Amogapasha yang kutanam di permukaan Swarnabumi adalah bukti yang tak bisa disangkal sekalipun oleh orang yang tak berpengetahuan," titah Prabu Kertanegara.

"Memang benar Gusti, apa yang telah diraih oleh Singasari adalah kebanggaan yang tak bisa dipungkiri," sahut Lembu Sora.

"Nah, itu semua berkat jerih payahmu juga, paman Lembu Sora. Juga jerih payah kalian semua, Ranggalawe, Nambi, Kebo Anabrang, menantuku Dyah Wijaya dan Ardharaja. Kau pun ikut berjasa paman Banyak Kapuk Gajahpagon dan Rapodang. Semua ini adalah pekerjaan kita semua, bukankah demikian?"

"Benar, sang Prabu," sahut hadirin.

"Nah, sekarang dengar, pekerjaan yang baik sudah sepantasnya mendapat hadiah atau penghargaan, sebaliknya pekerjaan yang buruk yang sering dilakukan para pemalas dan sok pintar sudah seharusnya diberikan hukuman untuk peringatan bagi yang lain. Banyak Wide --nama lainnya Arya Wiraraja, ayah dari Ranggalawe dalam kitab sejarah, red-- contohnya, dia kulorot kedudukannya dari rakyan demung menjadi Adipati di Sumenep karena menentang kebijaksanaanku. Juga Ramapati --nama lainnya Dyah Halayudha-- karena tidak setuju ketika aku merencanakan untuk menyerang ke Swarnabumi. Itulah hukuman bagi para penentang, pembangkang dan pengkhianat negeri Singasari. 

Menantuku, Dyah Wijaya!"

"Daulat, ayahanda Prabu!"

"Dan kau juga, Ardharaja!"

"Daulat, ayahanda Prabu!"

"Dalam prasasti Camundha yang baru saja dirampungkan, tercantum keputusan Kertanegara sebagai raja yang sah di Singasari. Di atas lempengan batu ini aku mengucapkan terimakasih yang besar atas jasa-jasa mereka  yang telah membantu seluruh usahaku. Dan kepada mereka, aku akan memberikan penghargaan yang layak. Baik jasa yang besar maupun yang kecil semua akan mendapat imbalan dari pemerintah Singasari. Dan kalian berdua, Dyah Wijaya dan Ardharaja, kutugaskan untuk mengatur dan mengawasi pelaksanaan pemberian penghargaan itu. Ingat, jangan sampai ada yang tercecer. Semua yang telah berjasa harus menikmati hasilnya."

Dyah Wijaya dan Ardharaja menyatakan kesanggupannya untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka. Pertemuanpun ditutup.

Ganggadara dan Jarawaha sedang berbincang tentang kebijaksanaan prabu Kertanegara dalam memberikan penghargaan. Mereka sangat senang karena baik pangkat menjadi perwira dan perwira muda. Atasa mereka yang bernama Pranaraja datang menemui mereka untuk bersiap-siap melaksanakan tugas menjemput Mpu Hanggareksa di desa Kurawan untuk datang ke istana dan menerima penghargaan.


Dalam perjalanan mereka menginap di desa Jasunwungkal dan bertemu dengan dua orang perampok yang bernama Jaran Bangkal dan Jaran Lejong. Pada malam harinya kedua perampok tersebut memberikan bagian kamar penginapannya untuk mereka tempati dan keesokan harinya mereka menghadang di jalan dan menuntut 40 keping emas.


Kedua perampok tersebut berhasil dilumpuhkan dan pada saat tangan mereka akan dipotong oleh Pranaraja, datanglah dua orang penunggang kuda yang langsung menghambur turun ke arah mereka. Mereka memperkenalkan diri sebagai Mpu Tong Bajil si cebol dari lereng Tengger dan Dewi Sambi yang berasal dari lembah Kawi. Kedua pendekar itu menghalangi Pranaraja memotong tangan kedua perampok tersebut. Melalui argumentasi, akhirnya Pranaraja membiarkan Mpu Tong Bajil dan Dewi Sambi mengajak kedua perampok itu pergi.

----

"Tuan, tuan Pranaraja, mengapa Tuan membiarkan mereka pergi?"

"Iya, Tuan. Jelas, mereka orang-orang jahat, Tuan. Mereka pasti mengacau di tempat lain."

"Kita sedang mengemban tugas penting, karena itu kita jangan membuat masalah dengan orang-orang seperti mereka."

"Tapi, orang-orang itu sudah berani menghina kita, Tuan."

"Iya, iya, Tuan. Sudah sehat mereka dihukum cambuk."

"Ganggadara, mereka tidak dapat kau samakan dengan Jaran Bangkal dan Jaran Lejong. Ilmu Kanuragan dua orang itu cukup tinggi."

"Bagaimana Tuan bisa mengukurnya?"

"Dari sikapnya, dari pandangan matanya, juga dari kecepatan geraknya. Aku yakin kalau sampai kita terlibat perkelahian dengan mereka, kita akan mendapat kesulitan besar. Sudahlah, mari kita lanjutkan perjalanan!"


Jaran Bangkal dan Jaran Lejong berterima kasih atas pertolongan Mpu Tong Bajil dan Dewi Sambi. Mereka mengakui bahwa mereka memang hendak merampok para prajurit Singasari. Mpu Tong Bajil lalu bertanya apakah mereka senang dengan pekerjaan mereka sebagai perampok. 

"Kau senang dengan pekerjaan itu, Jaran Lejong?"

"Kami,,, kami,,, bagaimana kami harus menjawab pertanyaan itu, Tuan? Itu memang sudah menjadi pekerjaan kami hampir 10 tahun lamanya."

"Jawab saja dengan jujur, kau senang pekerjaan itu?"

"Iya, terus terang sebenarnya kami senang pekerjaan itu, tapi,,,"

"Cukup! Kalau kau senang pekerjaan itu, kau boleh ikut kami."

"Hhh, apa maksud tuanku Bajil?"

"Maksudku,. marilah kita merampok bersama-sama, marilah kita menjadi perampok yang lebih mapan!"

Jaran Bangkal dan Jaran Lejong setuju, merekapun pergi ke desa Jasunwungkal untuk menemui kawan lama Mpu Tong Bajil.

Pranaraja dan kedua anak buahnya telah memasuki desa Kurawan. Mereka melihat seorang petani tua yang sedang mencangkul di sawah. Ganggadara berteriak dari atas kudanya, 

"Hai, pak tua! Kau tahu di mana rumah mpu Hanggareksa?"


Petani itu tidak bergumam, "Siapa yang memotong saluran airku ini? Hhh, dasar maling."

"Hai, pak tua! Di mana rumah mpu Hanggareksa? Kau tahu tidak?"

"Tidak, orang seperti itu tidak boleh dikasih hati. Aku tahu pasti pekerjaan si kambing buduk," gumam si petani.

"Kurang ajar! Kau jangan mempermainkan aku, pak tua!" 

"Mungkin dia tuli, adi Ganggadara."

"Kau tuli ya, pak tua? Kau budeg ya?"

"Hhh, awas kau nanti kalau sampai aku marah, kupelintir batang hidungmu biar pengok," gumam si petani sambil terus mencangkul.

"Setan alas, orang itu sengaja mempermainkan aku rupanya."

"Benar, rupanya dia pura-pura tidak mendengar kehadiran kita, adi."

"Hhh, akan kuberi dia pelajaran supaya dia tahu bagaimana seharusnya memperlakukan prajurit Singasari. Hiyatt,,, heyaaa,,,"

"Hhhh, ada apa ini kok marah-marah?"

"Pak tua, kau jangan main-main!"

"Siapa yang main-main? Aku kan sedang macul saluran air ini. Karena airnya mampet maka kupacul."

"Pak tua, apa kau tidak dapat melihat apa kau tidak tahu bahwa kami adalah prajurit-, prajurit Singasari?"

"Owh ho ho, jadi kalian ini prajurit Singasari ya?"

"Betul, oleh karena itu kau harus minta maaf pada kami."

"Minta maaf? Minta maaf bagaimana, dan mengapa?"

"Karena kau sudah berbuat salah."

"Apa salahku?"

"Dengar! Kau telah berani berlaku tidak sopan pada kami."

"Hehehe lucu, dagelan, kok bisa begitu? Yang berlaku tidak sopan itu siapa? Aku atau kalian? Enak saja, sudah, sudah, pergi sana! Aku masih mau kerja ini."

"Pak tua, kau jangan bikin kami naik darah! Kami masih muda, darah kami masih muda terbakar."

*Masa bodoh, masa bodoh, mau naik darah atau naik pohon itu bukan urusanku!"

"Hiyaaat,,, !"

"Kau ini mau apa sebenarnya, anak muda?"

"Aku mau membuatmu bergumul di lumpur itu, hiyyattt,, tahan seranganku!"

"Tunggu! tunggu! Hentikan banyolan murah ini! Pak tua, kami datang ke desa Kurawan ini mengemban titah sang Prabu Kertanegara. Kami sudah lelah karena perjalanan, oleh karena itu berlakulah sedikit sopan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."

"Hehehe yang berlaku tidak sopan itu bukankah kalian sendiri? Apa-apaan bertanya kepada orang tua dari atas punggung kuda begitu, apa mentang-mentang kalian prajurit Singasari lalu boleh berlaku seenak jidatmu?"

"Baiklah, ayo, turun dari kudamu, Jarawaha!"

"Nah, sekarang kami mau bertanya di mana rumah mpu Hanggareksa?"

"Bukan begitu cara bertanya yang baik. Aku tidak akan menjawabnya."

"Kalau begitu, kami akan memaksamu menjawabnya."

"Benar tuan, kita paksa saja."

"Tunggu, tunggu kalian tidak usah main paksa, aku ini sudah tua, aku bisa mengerti kehendak kalian."

"Jarawaha Ganggadara!"

"Baik, Tuan!" (terdengar mereka mencabut pedang)

"Tunggu, tunggu kok main cabut pedang segala, bisa gawat urusannya kalau begini."

"Hai pak tua, kau masih tidak mau melayani kami dengan baik?"

"Baik, baiklah. Karena kalian sudah telanjur mencabut pedang tentu tidak enak kalau harus disarungkan kembali kan? Nah, biar aku mengalah, aku akan menunjukkan rumah orang yang kalian cari tapi dengan syarat."

"Apa syaratnya?"

"Kalian tentu bangga dengan pedang itu bukan?"

"Tentu saja kalau kau masih rewel sebentar lagi lumpur sawah ini akan jadi saksi kematianmu, pak tua!"

"Hiiih itu mengerikan sekali. Sebaiknya jangan sampai begitu, kalau kalian memiliki pedang, aku memiliki cangkul. Ini lihatlah, kalau kalian bangga dengan pedang itu maka aku pun bangga dengan cangkulku ini. Nah sekarang kita adu saja, cangkulku ini atau pedang kalian itu."

"Kau jangan main-main, pak tua!"

"Tidak, siapa yang main-main, anak muda? Coba saja buktikan, kalau pedang kalian bisa melukai cangkulku apalagi bisa membelah cangkulku ini, nah itu tandanya aku kalah dan kalian berhak mengetahui rumah orang yang kalian cari. Bagaimana?"

"Bagaimana, tuan Pranaraja?"

"Mengapa kalian jadi bodoh ha? Tebas saja cangkul itu jadi 2, bukankah pedang kalian sudah berpengalaman dalam perang?"

"Baik, pak tua! Letakkan cangkulmu itu! Biar kuhancurkan."

"Tidak usah, tidak usah biar kupegang saja. Ayo tunjukkan keampuhan pedangmu!"

"Ini heahhh,,,"

Jarawaha dan Ganggadara bergantian menebas cangkul si petani namun tidak terjadi apa-apa. Pranaraja menjadi marah dan memerintahkan untuk menangkap si petani. Jarawaha dan Ganggadara terus menyerang si petani, mereka merasa malu sekali karena merasa martabatnya sebagai prajurit Singasari direndahkan.









Episode 1 seri 01-02 dapat disimak di YouTube salah satunya melalui link berikut ini 👇


Artikel terkait:

Refleksi 1: Prinsip dan Dua Sisi Kepandaian