Analisis Unsur Sudut Pandang 4: Mengapa Kita Bias Antara Karya Original dan Karya Adaptasi?

Analisis Unsur Sudut Pandang 4: Sudut Pandang Relatif terhadap Pengetahuan


Bagaimana seseorang menilai sesuatu sangat dipengaruhi oleh pengetahuannya. Contohnya dulu saya menilai dahi jenong itu tidak cantik karena ponakan saya yang jenong sering diolok-olok oleh simbahnya. Pas sebuah akun anggota grup Kamuni Lovers di FB memposting dahi jenongnya bunda Yvonne Rose yang cantik, saya jadi berpikir, "Owh iya juga, jenong ternyata, tapi cantik sekali."

Gb. Potongan kover sampul album Pelangi Cinta Kamandanu (1990) yang dirilis dengan label Blackboard, 
depan:  dari kiri ke kanan: Margareth (Dewi Sambi), Ferry Fadli (Arya Kamandanu), Yvonne Rose (Sakawuni), Lili Nur Indah Sari (Nariratih), Asdi Suhastra (mpu Ranubaya, pembawa cerita),
belakang: Petrus Urspon (Banyak Kapuk), Nenny Haryoko (Dewi Tunjung Biru), M. Aboed (Arya Dwipangga),
Sumber: FB grup Kamuni Lovers


Berikutnya saya mendengar lagunya ibu Waljinah yang berjudul Si Nonong yang mengatakan bahwa dahi jenong malah nambah ayu dan manis, saya jadi berpikir lain dan mulai Googling tentang dahi jenong dan ternyata dahi jenong menjadi standar kecantikan di zaman Majapahit.

Sudut pandang pikiran saya terhadap dahi jenongpun berubah, seiring dengan pengetahuan baru yang saya dapatkan seperti di artikel berikut ini. 

https://www.hipwee.com/hiburan/8-alasan-mengapa-cewek-berjidat-lebar-alias-nonong-pandai-mencuri-hatimu/

***
Contoh lainnya penilaian saya terhadap karya orisinal dan karya adaptasi. Saya selalu tertarik dengan pro kontra komentar tentang karya legendaris yang di-recycle, di-remake ataupun diadaptasi menjadi karya baru. Kadang saya tidak setuju dan kesal tapi sering pula saya senang dengan karya baru yang bersandar kepada karya orisinil yang melegenda. Ya semuanya tergantung sudut pandang relatif terhadap pengetahuan tadi itu.

Misalnya lagu Without You yang pernah dipopulerkan oleh Air Supply kemudian oleh Mariah Carey. Ternyata baik Air Supply maupun Mariah Carey sama-sama me-recycle lagu tersebut dari versi aslinya yang keluar di tahun 1971. Dan saya lebih suka versi Air Supply yang mendekati selera piano di telinga saya.

Contoh lainnya, lagu Mengejar Matahari yang dirilis oleh Ari Lasso bersama dengan Andi Riyanto saya sangat suka pada bagian syair "Tetes air mata mengalir bersama derai tawa, selamanya kita tak akan berhenti mengejar matahari." Menurut saya bagian ini terasa sangat epik baik liriknya maupun nadanya.

Saat lagu itu di-recycle oleh Andi Rianto bersama Keysha Levronka, saya makin suka bagian yang itu karena terasa lebih grande aransemen musiknya.

Bagaimana dengan karya sandiwara radio Tutur Tinular yang legendaris dan berulangkali di-recycle dalam bentuk film layar lebar dan sinetron berulang kali? Wah kalau ini jujur saya lebih suka versi originalnya di sandiwara radio. Bahkan saya memiliki ketidaknyamanan tersendiri terhadap versi-versi adaptasi yang terus muncul hingga saat ini meskipun saya harus tahu bahwa itu adalah ruang kreativitas yang tidak bisa dilarang.

Saya sering tidak nyaman saat membaca komentar tentang aspek sejarah sandiwara radio Tutur Tinular yang dibandingkan dengan aspek sejarah dalam sinetron Tutur Tinular tahun 1997 yang berujung pada kalimat-kalimat seperti ini:
"Ada kesalahan sejarah dari S. Tidjab saat menuliskan sandiwara radio Tutur Tinular maka Imam Tantowi merevisinya lewat sinetron Tutur Tinular tahun 1997."
"S. Tidjab tidak tamat membaca Pararaton."
"Imam Tantowi lebih kaya referensi sejarah daripada S. Tidjab."
.
.
.
Dan masih banyak kalimat lainnya yang senada dengan itu, yang intinya bukan kritik terhadap Tutur Tinular tapi mencari-cari celah untuk menyalahkan.

"Alahh,,, fans sandiwara radio Tutur Tinular fanatik, tidak bisa melihat kekurangan sandiwara radio Tutur Tinular."
"Sandiwara radio bukan karya yang sempurna, jadi wajar kalau direvisi."
.
.
.
Ini bukan soal fanatik dan tidak mau dikritik. Toh sandiwara radio Tutur Tinular sudah lama selesai dan penulisnya juga sudah meninggal dunia pula. Tidak akan bisa direvisi oleh penulis aslinya karena adanya kritik yang bagaimanapun, ya tetap begitu adanya.

Ini hanyalah soal etika dalam menilai karya, apalagi kalau membuat karya turunan atau adaptasi dari karya asli yang sudah ada, tidak etis dengan pola-pola kalimat yang demikian itu.

Lagi pula jika dicermati apakah benar S. Tidjab membuat kesalahan penulisan sejarah dan tidak kaya? Apakah beliau tidak menggunakan sandaran buku sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan?
Ternyata tidak, S. Tidjab menggunakan buku tafsir kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Professor Slamet Muljana.

Kalau demikian, mengapa alur sejarah sandiwara radio Tutur Tinular berbeda dengan alur sejarah dalam sinetron Tutur tinular tahun 1997? Jawabannya karena sudut pandang yang relatif terhadap pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing penulisnya.

Sandiwara radio Tutur Tinular ditulis oleh S. Tidjab dengan sandaran buku tafsir kitab sejarah Negarakertagama yang ditulis oleh Professor Slamet Muljana. Sedangkan skenario sinetron Tutur Tinular tahun 1997 ditulis oleh Imam Tantowi berdasarkan kitab sejarah Pararaton.

Sudut pandang dengan pengetahuan yang berbeda tentu menghasilkan karya yang berbeda. Maka tidak etis jika menyalahkan salah satunya, apalagi menyalahkan karya orisinalnya dengan acuan karya adaptasi yang justru dibuat dengan bersandar pada karya orisinal. 

Lalu bagaimana jika ada yang mengedit poster aslinya sandiwara radio Tutur Tinular yang tokoh utamanya jelas-jelas adalah Kamandanu dan Sakawuni jadi tokoh utamanya adalah yang lainnya? 
Kezzel sih jelas, tapi ya itu sah saja menurut mereka karena di cerita versi lain yang bukan sandiwara radio boleh jadi tokoh utamanya adalah yang lainnya lagi, bukan seperti yang versi sandiwara radio Tutur Tinular awalnya dari S. Tidjab. Tapi mestinya dengan etika, izin kepada yang punya karya, jangan asal edit dan menyalahkan lalu merasa paling benar. 


Gambar poster original sandiwara radio Tutur Tinular oleh Sanggar Prativi tahun 1989, sumber: grup FB Pecinta Sandiwara Radio 


Saya sering bertanya sendiri apa perbedaan cerita dengan skenario dalam sebuah film atau sinetron. Apa maksudnya jika dalam iklan film atau sinetron tertulis cerita oleh S. Tidjab tapi skenario oleh Imam Tantowi? Googling sana sini akhirnya dapatlah sebagai berikut ini.

Menurut KBBI, CERITA adalah tuturan yang membentangkan terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian, dan sebagainya). Terdapat pengertian lain menurut KBBI bahwa CERITA merupakan karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang.

Menurut Wiyanto (2002: 31-32), naskah drama adalah karangan yang berisi CERITA atau lakon. Naskah drama tidak mengisahkan cerita secara langsung. Penuturan ceritanya diganti dengan dialog para tokoh.

Menurut KBBI, skenario adalah rencana CERITA sandiwara atau film berupa adegan demi adegan yang tertulis secara terperinci. 

Skenario adalah salah satu karya sastra yang memiliki kesamaan struktur dengan drama. Sebuah skenario juga memiliki latar, plot, penokohan, dan tema. Hanya saja, teknik penulisannya sedikit berbeda dengan penulisan drama. Dalam sebuah skenario, tidak terlalu banyak monolog seperti dalam drama, dan penokohan lebih banyak digambarkan dengan dialog-dialog antar tokoh dalam naskah tersebut, karena hasilnya nanti adalah visualisasi dari skenario itu sendiri.

Berdasarkan definisi-definisi di atas maka dapat dimengerti bahwa cerita adalah garis besar urutan peristiwa atau kejadian sedangkan naskah drama dan skenario film adalah detail adegannya.

Dengan demikian, jika ada tertulis seperti ini :

Cerita oleh S. Tidjab 
Skenario oleh Imam Tantowi 

sudah jelas PASTI BERBEDA scene-scene adegannya jika dibandingkan dengan tertulis begini :

Cerita oleh S. Tidjab 
Skenario oleh S. Tidjab
Atau dengan kata lainnya "Naskah ditulis dan diolah oleh S.Tidjab"

Contoh: ceritanya sama dari S. Tidjab yaitu Kamandanu menikahi Sakawuni setelah mendengar pernyataan Gusti Prabu yang ingin melihat mereka berdua bersatu sebagai pasangan suami istri dan menjadi rumah tangga panutan di lingkungan pejabat Majapahit.

Dengan cerita yang sama ini, eksekusi cerita dalam naskah sandiwara radio dan skenario sinetron Tutur Tinular 1997 menjadi berbeda.

Di naskah drama radio oleh S. Tidjab sendiri dibuat dengan scene tokoh Kamandanu sejak saat malam hari mendengar kata-kata sang Prabu itu sudah langsung setuju, tapi ia menyembunyikan dalam hatinya, dan terus berhati-hati agar Sakawuni tidak marah padanya karena ia tahu bahwa Sakawuni memiliki harga diri yang tinggi. Ia berulang kali meminta pendapat paman Lembu Sora, lalu meminang Sakawuni dengan halus dan permintaan maaf (seri 427), mengikuti kemauan Sakawuni untuk mencari Mei Xin hingga akhirnya memaksa Sakawuni menerimanya setelah Mei Xin jelas tidak mau mengakuinya lagi sebagai suami. Sakawuni masih ragu-ragu tapi ibu Dewi Tunjung Biru mantap menerima lamaran Kamandanu (seri 447 - 450). 

Setelah lamarannya diterima, Kamandanu mengatakan bahwa ia merasa sangat lega dan bahagia. Ia berjanji dengan sungguh-sungguh di hadapan ibu Dewi Tunjung Biru bahwa ia akan memberikan kebahagiaan untuk Sakawuni. Dan memang semenjak itu Kamandanu tidak pernah mengingat Mei Xin sama sekali kecuali Sakawuni yang iseng memancingnya dan membuatnya kesal. Ibu Dewi Tunjung Biru tidak bisa menghadiri upacara pernikahan mereka di Majapahit namun memberikan keris pusaka sebagai wakil kehadiran dan restunya pada Sakawuni. Upacara pernikahan berlangsung sangat khidmat dan Kamandanu sangat terharu hingga bibirnya bergetar saat mengucapkan janji pernikahannya sedangkan Sakawuni menangis haru. Setelahnya mereka mendapatkan doa dari semua hadirin termasuk Gusti Prabu dan pesta pernikahan yang meriah diselenggarakan oleh Sang Ramapati. (Silakan pada baper mengingat sandiwara radionya di episode 15 seri 420 - 450 ya 😂)

Sedangkan eksekusi adegan di sinetron Tutur Tinular 1997, cerita S.Tidjab tersebut menjadi berubah 180° pada karakter Arya Kamandanu dan Dewi Tunjung Biru.

Di sinetron itu ada scene di mana Kamandanu masih terus mengingat Mei Xin saat akan menikahi Sakawuni. Bahkan setelah upacara pernikahan Kamandanu juga masih menyinggung nama Mei Xin dengan alasan ia kasihan padanya, bukan cinta.

Jika di sandiwara radio tokoh Dewi Tunjung Biru tidak bisa hadir ke Majapahit untuk upacara pernikahan Kamandanu dan Sakawuni, di sinetron dicermati Dewi Tunjung Biru beserta murid-muridnya hadir ke Majapahit dan memberikan doa restu. 

Selang berganti hari, Dewi Tunjung Biru memberikan banyak nasehat pernikahan kepada putrinya dan disaksikan pula oleh Kamandanu. Setelahnya Dewi Tunjung Biru pamit kembali ke Bukit Penampihan meskipun Sakawuni memintanya tinggal di rumah mendiang Banyak Kapuk.


Dengan garis cerita yang sama, namun eksekusi scene adegan yang berbeda seperti contoh tersebut di atas, tentu menimbulkan banyak opini apresiasi yang berbeda pula, bisa pujian bisa pula hujatan.

Jadi kalau mereka yang tahu pasti alur Tutur Tinular versi sandiwara radio pasti tidak akan terima pelemahan karakter Arya Kamandanu dan Sakawuni di versi sinetron  dan pola ikatan keduanya yang diubah pula.

Sebaliknya yang tahunya hanya sinetron Tutur Tinular tahun 97 pastinya akan menghujat tokoh Kamandanu sebagai plin plan dan Sakawuni sebagai pelakor. Juga ketidakpuasan atas ending hubungan Kamandanu dan Mei Xin yang tidak jelas apakah kembali sebagai pasutri ataukah bersahabat saja dan sama-sama menjadi pertapa.

Akhirnya apa yang terjadi jika penggemar versi sandiwara radio bertemu dengan penggemar versi sinetron tahun 97? Perang pastinya. 

Oleh karena itu, di blog ini pembahasan saya hanya bersandar pada cerita dan skenario selain dari penulis original Tutur Tinular seperti yang ada dalam versi sandiwara radio agar tidak terjadi perdebatan yang tidak bisa ditemukan. Hanya hiburan kalau sampai berdebat jatuhnya tidak enak.

Bolehlah kita sekadar memperbandingkan beberapa bagian mendasar yang membedakan sandiwara radio dengan sinetron agar kita bisa menilai dengan lebih bijaksana tentang alurnya, tokohnya dan yang terpenting adalah syukur jika bisa dapat pelajaran yang lebih bernilai untuk hidup kita. Pelajaran bahwa dalam hidup, seringkali kita terjebak menghakimi orang lain hanya karena mereka tidak sesuai dengan naskah atau skenario yang kita miliki di kepala kita, padahal bisa jadi mereka hanya sedang memerankan skenario yang berbeda.


-----
Artikel sebelumnya: