Pesan 8: Cinta adalah Tanggung Jawab
MEMAHAMI UNSUR INSTRINSIK TT
PESAN 8 : CINTA ADALAH TANGGUNG JAWAB
Mei Xin diam-diam meninggalkan rumah mpu Hanggareksa saat malam kedatangan mpu Tong Bajil cs sehingga ia selamat. Ia lalu menggelandang dan menyamar hingga akhirnya ditolong oleh Nini Ragarunting dan aki Tampa Roang. Ia menceritakan kepada Nini Ragarunting tentang kisah hidupnya sehingga pendekar wanita tua itu sangat berempati padanya.
Nini Ragarunting lalu mencari keberadaan Kamandanu dan menemukannya tinggal di lereng gunung Arjuna bersama Panji Ketawang. Nini Ragarunting mencela sikap Kamandanu yang tidak mencari Mei Xin tapi malah enak-enak tinggal di lereng gunung Arjuna sendiri. Ia menilai Kamandanu bukan orang yang bertanggung jawab dan hanya mencintai dirinya sendiri saja.
Penggalan celaannya di seri 175 sebagai berikut :
Nini Ragarunting : Sudahlah, sudah. Sekarang begini, aku hanya akan memberikan Mei Xin kepada laki-laki yang benar-benar mencintainya.
Arya Kamandanu : Aku mencintainya.
Nini Ragarunting : Hmm! Kau seorang pengecut! Seorang pengecut dan berjiwa kerdil tidak akan bisa sepenuhnya mencintai seorang wanita. Kau sebenarnya hanya mencintai dirimu sendiri saja!
Kalau dipikir-pikir, Nini Ragarunting itu sungguh benar. Kamandanu suka mengatakan bahwa ia mencintai Mei Xin tapi tidak ada bukti bahwa ia bertanggungjawab sebagai suaminya.
Bisa dikatakan Kamandanu banyak bersikap manipulatif di depan Mei Xin, antara lain tampak pada scene :
1. Bilang cinta tapi dalam hatinya mengatakan sangat kasihan (seri 80 - 84)
2. Bilang mau mengawini karena cinta tapi sebenarnya dipaksa oleh ayahnya dan Nyi Rongkot (seri 113 - 115)
3. Berjanji jadi suami tapi buktinya tidak bertanggung jawab, pergi meninggalkannya terus (seri 116, episode 6)
4. Bilang cinta, mau melupakan masa lalu tapi begitu hilang, tidak berniat mencari (episode 9)
5. Bilang rela dipukuli Mahwang demi Mei Xin tapi begitu berlalu dan Mei Xin pergi bersama Mahwang, ia bilang menyesal sudah bertindak bodoh di depan Sakawuni (episode 15)
Pantaslah Kamandanu akhirnya merasa bersalah pada Mei Xin setelah ia menjadi orang yang berjiwa besar dengan bertapa sepeninggal Sakawuni, karena dengan kejernihan jiwanya saat menjadi pertapa itu ia sadar bahwa ia telah banyak bersikap tidak jujur pada Mei Xin di masa lalu.
Ketidakmampuan Kamandanu menjalankan tanggung jawab suami terhadap Mei Xin adalah indikator bahwa frekuensi cintanya tidak pernah sampai ke sana. Dia hanya mencintai "ide" tentang menyelamatkan wanita cantik dari Tiongkok, tapi dia tidak sanggup mencintai "manusia" bernama Mei Xin dengan segala kerumitannya.
Hanya kepada Sakawuni-lah Kamandanu akhirnya berhenti menjadi pengecut dan berani mengambil tanggung jawab penuh sebagai seorang pria.
Masalahnya, Kamandanu ini terjebak dalam penyakit "harus jadi pahlawan dan berbakti pada orang tua". Dia mau menjadi orang suci yang mau menerima wanita malang dan menyelamatkan aib keluarganya, tetapi batinnya sebenarnya menolak karena melihat realitas karakter Mei Xin yang:
Sering membuat keputusan sendiri yang berbahaya: Kecerobohan Mei Xin, seperti meninggalkan rumah Mpu Hanggareksa tanpa koordinasi atau sering terjebak dalam situasi yang sebenarnya bisa dihindari, selalu bersikap konfrontatif terhadap pemerintah Kediri yang jelas menambah beban mental Kamandanu.
Tidak sinkron secara karakter: Kamandanu yang peragu dan lugu butuh partner yang tangguh dan cekatan seperti Sakawuni, sedangkan Mei Xin sering kali ceroboh sehingga menjadi beban logistik baginya.
Jika Kamandanu jujur dan mengatakan, "Aku kasihan padamu, aku akan melindungimu sebagai kakak/sahabat, tapi aku tidak bisa mencintaimu sebagai istri," ceritanya akan lebih ksatria. Tapi karena dia manipulatif, seolah-olah mau berkorban padahal hatinya menggerutu, akhirnya terjadi pernikahan yang hubungannya justru hambar dan penuh kepalsuan.
Nini Ragarunting benar-benar "mulut netizen" versi zaman Majapahit yang paling pedas tapi akurat. Dia tahu bahwa mencintai itu bukan soal memuji wajah cantik saat lagi tenang, tapi sanggup memikul beban kecerobohan pasangan saat badai datang.
Dan Kamandanu terbukti gagal total dalam hal itu tetapi tidak mau jujur. Beruntung ada Sakawuni yang datang sebagai penyembuh sekaligus bukti nyata jika Kamandanu itu sebenarnya mampu bertanggung jawab, asal wanitanya memang tepat dan dia tidak perlu bersandiwara.
Seceroboh apa pun Mei Xin, kalau Kamandanu jujur dari awal, dia tidak perlu jadi pengecut di mata Nini Ragarunting.
Artikel sebelumnya:
