PESAN 7: CINTA ADALAH PENGORBANAN TETAPI ,,,

Memahami Unsur Intrinsik SR Tutur Tinular 

TT PESAN 7: Cinta adalah Pengorbanan tetapi Tidak Melampaui Batas Harga Diri

Gambar tangkapan layar pencarian internet topik alasan pria tidak mau atau keberatan menikahi wanita yang sudah hamil dengan pria lain, sumber: dok.pribadi


"Ayahanda mencari saya?"

"Iya, dari mana saja kau, Kamandanu?"

"Mencari udara segar."

"Udara segar tidak ada di luar. Udara segar adanya dalam hatimu, dalam pikiranmu. Hhhh,,, duduk! Sekarang marilah kita bicara dari hati ke hati. Bersikaplah dewasa, jangan seperti Dwipangga yang walaupun sudah berkeluarga, sudah punya anak, tapi sikapnya masih seperti bocah ingusan. Aku tidak mau kau mengikuti jalan pikiran wong edan itu. Orang tidak memiliki pendirian apa-apa kecuali menuruti luapan hawa nafsunya saja."

"Apa yang ayahanda kehendaki dari saya?"

"Hhh,,, kau sudah tahu apa yang terjadi?"

"Sudah."

"Apa ha?"

"Saya mendengar dari nyi Rongkot."

"Iya, apa ha?"

"Mei Xin nekat mengambil jalan pintas, dia bermaksud membunuh dirinya dengan sebilah pisau. Tapi menurut nyi Rongkot dia bisa diselamatkan."

"Iya, lalu kau sudah menengoknya?"

"Sudah, dia masih belum sadar. Tubuhnya masih lemah."

"Nah, sekarang bagaimana sikapmu? Aku mau tahu."

"Ahhh saya tidak tahu harus bagaimana ayahanda."

"Kau pernah mengatakan padaku bahwa kau mencintainya."

"Iya, saya mencintainya."

"Lalu, apakah kau tahu apa artinya cinta? Hmm? Cinta itu artinya mau berkorban. Kalau kau mengaku mencintai seorang wanita maka kau harus mau berkorban untuknya. Kau harus bisa mengalahkan kepentingan-kepentingan pribadimu dan lebih mendahulukan kepentingan orang yang kau cintai itu. Selama kau masih terus memikirkan dirimu sendiri, sibuk mengurus dirimu sendiri, memanjakan dirimu sendiri, dan melupakan orang yang katamu kau cintai setengah mati, maka segala kata-kata cinta yang pernah keluar dari mulutmu itu adalah omong kosong. Uhukk uhukk,,, cinta seperti itu hanya akan berumur pendek karena tidak tulus. Cinta seperti itu tergolong cinta murahan yang mudah luntur. Nah, sekarang bagaimana, Kamandanu? Wanita yang kau cintai itu sangat membutuhkan pertolonganmu. Apakah kau masih akan tinggal diam? Apakah hatimu masih akan kau biarkan dingin membeku, ha? Kamandanu, ini aku sedang bicara padamu, le! Apakah kau tidak punya lidah untuk mengatakan sesuatu ha? Hei, Kamandanu, hei,,, mau kemana kau? Hei, Kamandanu!"

Mpu Hanggareksa merasa terkejut melihat sikap Kamandanu yang dianggap kurang sopan. Orang tua itu lalu memburunya keluar ruangan.

"Tunggu! Aku ini belum selesai bicara, kau sudah ngeloyor pergi. Sungguh tidak sopan, tidak menghargai orang tuamu sendiri."

"Bukankah saya sudah mengatakan kepada ayahanda bahwa saya tidak mau lagi bicara soal itu."

"Kau jangan cuci tangan begitu. Ini adalah persoalan kita, jadi kita juga yang harus menyelesaikannya."

"Bukan saya yang melakukannya, mengapa saya yang harus menyelesaikannya?"


Dialog di atas adalah penggalan seri 113 - 114 sandiwara radio Tutur Tinular di mana mpu Hanggareksa meminta bukti cinta Arya Kamandanu kepada Mei Xin dan kepada dirinya sebagai orang tuanya yang mestinya dihormati dan bukan diberi beban masalah.

Sebagai mana diceritakan pada seri-seri sebelumnya mulai dari seri 80 hingga seri 97 di mana diungkapkan bahwa Arya Kamandanu berniat menikahi Mei Xin, janda mendiang pendekar Lou Sinshan yang sebatang kara di Jawa. Awalnya mpu Hanggareksa menentang keras keinginan Kamandanu itu tetapi begitu Mei Xin pergi diam-diam dari rumah mpu Hanggareksa hingga pingsan di jalan dan ditolong oleh Arya Dwipangga (kakak dari Arya Kamandanu) sehingga hamil, mpu Hanggareksa berubah sikap dan meminta Arya Kamandanu kembali pada keinginannya semula untuk menikahi Mei Xin dengan dalih cinta adalah pengorbanan. Tanpa pengorbanan, kata cinta adalah omong kosong.

Sikap mpu Hanggareksa ini dapat dikatakan sebagai awal dari konflik panjang dalam penokohan Arya Kamandanu. Mpu Hanggareksa melakukan apa yang sekarang kita sebut sebagai guilt tripping. Dia membelokkan definisi "cinta adalah pengorbanan" untuk kepentingan yang egois.

  • Eksploitasi Kebaikan : Mpu Hanggareksa tahu Kamandanu adalah anak yang luhur budinya, berbeda dengan Dwipangga yang "edan". Dia memanfaatkan keluhuran budi Kamandanu untuk membereskan kotoran yang dibuat anaknya yang lain.
  • Definisi yang Dipaksakan: Pengorbanan dalam cinta seharusnya bersifat sukarela dan untuk kebahagiaan pasangan, bukan pengorbanan untuk menutupi kejahatan (perzinahan/pemerkosaan) orang lain.

Penolakan Kamandanu untuk menikahi Mei Xin setelah terbukti Mei Xin hamil dengan Arya Dwipangga disebabkan oleh :

  • Prinsip Keadilan: Kamandanu berkata, "Bukan saya yang melakukannya, mengapa saya yang harus menyelesaikannya?" Ini adalah pernyataan yang sangat logis. Secara hukum dan moral, setiap orang memikul dosanya sendiri.
  • Menolak Menjadi "Pencuci Tangan": Jika Kamandanu langsung mengiyakan, dia sebenarnya sedang melanggengkan perilaku buruk Dwipangga. Dengan menolak, dia sedang menegaskan batas bahwa dia bukan alat untuk menjaga martabat keluarga yang sudah dirusak kakaknya sendiri.
  • Rasa tidak diterima dikhianati oleh Mei Xin: sebagaimana diceritakan pada seri 80 hingga seri 112 bahwa Mei Xin tidak pernah mau menjawab lamaran Arya Kamandanu dengan jelas dan tegas, ia berdalih pada masih belum bisa melupakan pendekar Lou. 

Ketika Mei Xin mendengar mpu Hanggareksa menolak keinginan Kamandanu untuk menikahinya disebabkan dirinya telah membuat Arya Kamandanu membunuh dua orang warga desa yang melihatnya keluar dari rumah mpu Hanggareksa saat ia nekat menonton pertarungan Arya Kamandanu dengan pacarnya Sariti, ia kemudian diam-diam meninggalkan rumah mpu Hanggareksa tanpa pamit kepada Arya Kamandanu, hingga pingsan di jalan dan ditolong oleh Arya Dwipangga. 

Selama dua pekan disembunyikan oleh Arya Dwipangga di rumah Pamungsu (pembantunya Arya Dwipangga), ia merasa sangat nyaman, berbalasan syair setiap hari dengan Arya Dwipangga, mau diajak jalan-jalan hingga mau meminum ramuan yang diberikan oleh Arya Dwipangga (Sri 97) bahkan memintanya lagi (seri 102) dan ditemukan oleh Arya Kamandanu dalam keadaan mabuk ramuan itu di candi Walandit. 

Kenyataan tersebut tidak bisa dibantah oleh hati nurani Arya Kamandanu bahwa ada indikasi yang jelas jika Mei Xin bukan korban pasif dari Arya Dwipangga melainkan ia juga telah memberikan kesempatan untuk terjadinya kejahatan pemerkosaan Arya Dwipangga terhadap dirinya sehingga hamil. 

Dengan demikian, cinta memang harus dibuktikan dengan sebuah pengorbanan tetapi cinta manusia kepada ego dirinya tetap lebih besar daripada cintanya pada orang lain manakala ia sendiri telah yakin bahwa ego harga dirinya telah dikhianati. 


Artikel sebelumnya: