Refleksi 5: Teori Psikologi Cinta ala Fandom
Refleksi 5: Teori Psikologi Cinta ala Fandom Tutur Tinular
Kepopuleran sandiwara radio Tutur Tinular ternyata telah melahirkan berbagai fandom yang eksis dalam berbagai fanwar di media sosial terutama Facebook. Hal yang paling sering menjadi topik fanwar adalah tentang cinta sejati sang tokoh fiksi utama, yakni Arya Kamandanu.
Di sebuah grup nostalgia sandiwara radio, ada sebuah unggahan pertanyaan yang menggelitik. Hanya sebuah pertanyaan yang sebenarnya mungkin dimaksudkan untuk memancing diskusi sehat dan mengenang masa-masa indah mendengarkan sandiwara radio tempo dulu.
Pertanyaannya adalah :
"Kamandanu, siapa cinta sejatimu?"
Lalu muncullah berbagai macam jawaban dan komentar, dari yang lucu dan seru, menggelitik hingga menjengkelkan karena menggunakan kata-kata yang tidak seharusnya khas fandom emosional.
Uniknya unggahan semacam ini tidak hanya satu, ada beberapa unggahan yang serupa tapi tak sama dan ada setidaknya dua buah jawaban yang menggelitik saya karena muncul berkali-kali di setiap unggahan serupa.
Jawaban yang pertama adalah:
- Nariratih: cinta pertama
- Mei Xin: cinta sejati
- Sakawuni: cinta terakhir
Lalu jawaban yang kedua adalah:
Mei Xin cinta sejatinya Kamandanu meskipun Kamandanu menikah lagi dengan Sakawuni. Karena cinta sejati itu tetap masih bisa jatuh cinta lagi tapi tidak dalam dan tidak bisa menghapuskan yang jadi cinta sejatinya.
Waduh,,, saya jadi bingung dan geli juga memikirkan jawaban-jawaban itu. Geli karena seharusnya tidak saya pikirkan, namanya juga fandom 😅ðŸ¤
Tapi masalahnya muncul pertanyaan di kepala saya begini :
Bukankah cinta sejati itu mestinya juga cinta terakhir? Kalau sejati, ya mestinya tidak tergantikan dan bertahan sampai akhir, bahagia selamanya ala-ala Barbie dan pasangannya, bukan? Atau kalaupun terpisah maut ya tidak akan bisa tergantikan lagi juga.
Bedah dengan Gaya “Psikologi Fandom”
Namun, di dunia fandom, yang berlaku bukan hukum logika, melainkan hukum rasa. Maka muncullah teori psikologi cinta yang hanya ada di dunia fandom sebagai berikut :
Cinta pertama adalah cinta yang menggetarkan hati untuk pertama kali. Tidak selalu matang, tapi paling diingat karena jadi awal dari segalanya.
Cinta sejati adalah cinta paling dalam, paling tulus, dan paling emosional — meski belum tentu bisa bersatu. Kadang ini adalah cinta yang “tersimpan di hati, tapi tidak di pelaminan.”
Cinta terakhir adalah cinta yang akhirnya dipilih untuk menua bersama. Tidak selalu yang paling membara, tapi paling stabil dan realistis.
Jadi, dalam teori fandom:
- Cinta pertama membuatmu belajar mencinta untuk pertama kalinya.
- Cinta sejati membuatmu memahami arti cinta.
- Cinta terakhir membuatmu bertahan dalam cinta apapun yang terjadi.
Dan kalau ada fans yang bilang “cinta sejati masih bisa jatuh cinta lagi tapi tak pernah hilang cintanya yang sejati itu,” — jangan buru-buru protes. Itu bukan teori psikologi, tapi teori kompromi fandom.
Supaya semua tokoh kesayangan tetap mendapat tempat di hati sang protagonis 😄.
Begitulah — di dunia fandom, cinta tak harus logis apalagi realistis dan aplikatif. Yang penting, semua karakter kebagian peran di panggung sesuai dengan selera penggemarnya, agar penggemar tidak sakit hati untuk selamanya kecuali baper yang terpelihara 🤦ðŸ¤
Bagaimana Menurut Penulis Asli?
Lalu bagaimana menurut almarhum S. Tidjab sendiri sebagai penulis asli naskah Tutur Tinular yang pertama kalinya muncul dalam bentuk sandiwara radio dan bukan novel itu?
Kalau ingin tahu jawabannya sih simpel, dengarkan saja lagu Pelangi Cinta Kamandanu berikut ini yang liriknya asli ditulis oleh beliau, dinyanyikan oleh para pemain sandiwara radionya sendiri. Ternyata di situ almarhum tidak pernah menyebutkan cinta sejatinya Kamandanu tuh, yang ada malah cinta abadi.
Katanya si Kamandanu, "Kuingin cinta abadi, kuingin cinta abadi"
Ehh, yang menjawab adalah tokoh ...
Mau tahu? Putarlah lagunya berikut ini, nikmati dan tidak usah protes. Kalau tidak suka, skip saja karena ini hanya hiburan 😉
Lagu Pelangi Cinta Kamandanu ciptaan S.Tidjab dan Cecep AS yang dinyanyikan oleh para pemain sandiwara radionya dan dirilis tahun 1990 di bawah label Blackboard, sumber: YouTube channel BHR Kenangan 90
Yang jelas cerita sandiwara radio ini memberikan pelajaran bahwa hidup tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita, tapi kehendak Yang Kuasa dalam segala hal termasuk persoalan cinta dan jodoh. Siapa yang harus kita cintai secara abadi dan sejati tentu saja Sang Pemberi hidup melalui siapa yang ditakdirkan untuk menjadi jodoh kita hingga di akhir.
#tuturtinular
#pelangi cinta Kamandanu
Artikel terkait:
Sakawuni: Pendekar Angin Lengan Seribu
Jambunada: Takdir Sisik Naga, Buah Kesaktian dan Cinta yang Keren
Arya Kamandanu: Ayah yang Sempurna Tanggung Jawabnya