Memahami Kredit Karya Tutur Tinular
Memahami Kredit Karya Tutur Tinular Berdasarkan Poster Resmi yang Dirilis oleh Produser
Perbedaan alur cerita dan ending antara Serial Sandiwara Radio Tutur Tinular tahun 1989 dengan adaptasi sinetron Tutur Tinular yang tayang ada tahun 1997 sering memicu perdebatan sengit. Banyak yang mengklaim sinetron tahun 1997 tersebut adalah "revisi resmi" dari penulis Tutur Tinular almarhum bapak S. Tidjab karena banyak pendengar yang kecewa dengan ending pada versi aslinya. Benarkah demikian?
Untuk mengerti apakah sebuah karya yang hadir setelah karya aslinya selesai adalah sebuah revisi dari karya awal atau tidak adalah dengan menelusuri kredit karya yang dirilis oleh setiap produser karya yang pasti tercantum dalam publikasi resmi yang dikeluarkan oleh pihak rumah produksinya baik dalam bentuk poster, label atau kover kaset pita maupun seluloid ataupun kopi VCD yang digunakan sesuai dengan eranya.
Oleh karena itu, mari kita lihat kredit karya yang tercantum dalam poster sandiwara radio Tutur Tinular tahun 1989 dengan poster sinetron Tutur Tinular tahun 1997 yang umum tersebar di internet.
1. Analisis Kredit Poster Sandiwara Radio Tutur Tinular (Karya Asli tahun 1989) yang Dirilis oleh PT Swadaya Prativi Record
Poster karya asli Sandiwara Radio Tutur Tinular didominasi oleh lukisan yang menampilkan nuansa seni klasik dan tegas dengan dominasi warna biru, hijau dan putih. Dalam poster tampak sebagai berikut :
Gambar poster sandiwara radio Tutur Tinular tahun 1989 yang dirilis oleh PT Swadaya Prativi Record alias Sanggar Cerita, sumber: gambar umum Google dan grup FB Pecinta Sandiwara Radio
- Teks Kredit Utama:
Serial Sandiwara Radio Tutur Tinular
Naskah Karya: S. Tidjab,
Sutradara: C. Ispriyono K. (dalam opening sandiwara radionya jiga disebut merangkap sebagai penata musik) - Teks kredit nama pemain tersebut pada deretan paling atas adalah Ferry Fadli yang memerankan tokoh Arya Kamandanu dan Ivonne Rose yang memerankan tokoh Sakawuni diikuti banyak pemeran lainnya di bagian bawahnya.
- Tokoh Visual Sentral: Seorang wanita cantik dengan raut wajah dewasa, mata besar, hidung mancung dan bibir mungil dengan dahi lebar dan rambut bagian atas digelung dengan tali dan sisanya terurai tergambar besar di tengah, dan seorang pria gagah perkasa memegang sebuah pedang yang bersinar tergambar dekat di sebelah kanan depan si wanita.
Dengan merujuk pada isi ceritanya, bisa dipastikan gambar wanita tersebut adalah tokoh Sakawuni karena tidak tampak ciri sebagai wanita Mongolia yang bermata sipit ataupun pakaian dan hiasan rambut khas Mongolia-nya, dan gambar pria tersebut adalah tokoh Arya Kamandanu karena memegang sebuah pedang yang pasti merujuk pada pedang naga puspa dalam ceritanya.
Di sebelah kiri bawah tampak seorang lelaki berpakaian tentara tartar bersama dengan seorang tua, dua orang lelaki yang bertarung dengan pedang dan satu korban jatuh, terus melengkung ke kanan atas terdapat suasana pertempuran/perjalanan dengan banyak prajurit menunggang kuda berujung pada sebuah bangunan istana di kejauhan dengan bulan warna kuning terang yang dilintasi burung terbang. Dengan merujuk pada isi ceritanya bisa dipastikan bagian gambar ini menunjukkan runtuhnya kerajaan Singasari yang diawali dengan kedatangan utusan Meng Chi yang ditolak dan kembali ke Yuan dengan membawa mpu Ranubaya hingga peperangan melawan tentara tartar yang dimenangkan oleh Majapahit dan ditandai dengan mimpi dari salah satu istri Raden Wijaya yang melihat Raden Wijaya mendapatkan bulan.
Dalam poster ini tidak tersebut kredit produsernya namun dalam kover kaset pita sandiwara radionya tersebut kredit PT Swadaya Prativi Record alias Sanggar Cerita sebagai perusahaan milik Yayasan Sanggar Prativi adalah produser dari karya ini.
2. Analisis Isi Poster Sinetron Tutur Tinular Tahun 1997 (Karya Adaptasi) yang dirilis oleh PT Genta Buana Paramita
Poster Sinetron 1997 menggunakan kolase foto live action dan tone warna dominan kuning coklat yang lebih gelap, menunjukkan fokus pada drama visual dan komersial.
Gambar poster sinetron Tutur Tinular tahun 1997 di sebuah majalah lawas, sumber: grup FB Jual Beli Koran dan Majalah Bekas
Teks Kredit Utama:
- Judul Tutur Tinular di bagian tengah dan besar
- Bagian atas : deretan pemeran utama yakni Murti Sari Dewi sebagai Sakawuni, Anto Wijaya sebagai Arya Kamandanu, Li Jun Yuan sebagai Mei Shin
- Bagian bawah :
Cerita: S. Tidjab, penata musik: Drs. Ir. Harry Sabar, penata artistik: Prof. Song Jong Rong MA * Abdullah Sajad
Penata kamera: Prof. Muk Tek Yen MA * Fauzy Wahyudi, Fighting Direction: Prof. Chen Kaige MA * Eddy S.Jonathan,
skenario: Imam Tantowi, Sutradara: Prof. Muk Tek Yen MA* Muclis Raya. - Paling bawah berisi deretan nama pemeran pendukung: Agus Kuncoro Adi, Nungki Kusuma Astuti, Lamting, Devi Zulianty, Hendra Cipta, Hans Wanagih, Chairil JM, Piet Ernas, Hadi Leo, Piet Pagau
Tokoh Visual Sentral: Tiga wajah dominan di bagian atas, berukuran besar, dengan fokus pada:
- Sakawuni (Murti Sari Dewi) di kiri,
- Arya Kamandanu (Anto Wijaya) berada di tengah atas memegang senjata,
- Mei Xin (Li Jun Yuan) di kanan, dengan ciri mata besar, kontras dengan deskripsi dalam sandiwara radionya yang menyebutkan Mei Xin matanya sipit berseri-seri.
- Seorang wanita yang digambarkan lebih kecil di depan tokoh Arya Kamandanu yang merujuk pada tokoh Nariratih.
Di bagian bawah poster, terdapat banyak wajah pemain yang lebih kecil, disusun secara berderet.
Latar Belakang: Menampilkan kolase adegan di atas tembok China, laga dan pertempuran, dan scene dramatis, dengan warna dominan biru gelap dan oranye dengan tokoh Sakawuni tampak sedang menendang di posisi tepat di tengah bawah tulisan Tutur Tinular.
Kesimpulan: Dua Karya yang Terpisah, Bukan Revisi
Dari analisis visual poster resmi dan kredit yang dirilis oleh produser tersebut mengukuhkan bahwa:
- Perbedaan Otoritas Penulisan: Sandiwara Radio adalah Naskah Karya S. Tidjab (otoritas penuh alur). Sinetron hanyalah adaptasi dengan Skenario oleh Imam Tantowi (otoritas modifikasi alur).
- Perbedaan Estetika dan Fokus: Sandiwara Radio fokus pada nilai seni lukis dan heroine Sakawuni dan Arya Kamandanu. Sinetron fokus pada kolase foto live action dan menekankan wajah-wajah pemeran utama dengan Mei Xin sebagai salah satu tokohnya.
Dengan melihat kejelasan perbedaan kredit pada kedua karya tersebut, kita telah dapat memastikan bahwa sandiwara radio Tutur Tinular tahun 1989 dan sinetron Tutur Tinular tahun 1997 adalah dua karya yang terpisah dengan otoritas kreatif yang berbeda.
Tidak ada hubungan cerita sinetron merevisi cerita yang aslinya karena ada nama orang yang berbeda yakni Imam Tantowi (bukan S.Tidjab) yang bertanggung jawab atas skenario perubahan alur dan ending di layar kaca. Nama S.Tidjab tertulis dengan kredit cerita yang berarti ialah pemilik ide cerita aslinya yang diambil untuk diadaptasi. Adaptasi bukanlah revisi, kecuali dikreditkan oleh kreator asli.
Menghargainya versi adaptasi bukan berarti mengaburkan apalagi menyatakan revisi versi asli tanpa melihat kredit resmi yang dikeluarkan oleh para produser karya.
#tuturtinular
#karyaasli sandiwara radio
#karyaadaptasi sinetron 1997
Artikel terkait:
Tutur Tinular: Sejarah Sandiwara Radio Legendaris Indonesia
Sang Arsitek Emosi dalam Sandiwara Radio Tutur Tinular
Sang Pelukis Kover Kaset Pita Sandiwara Radio Tutur Tinular


