Pesan 3: Harga Diri Laki-laki
MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK FIKSI SR TT PESAN 3 : HARGA DIRI LAKI-LAKI
Mengapa setelah Sakawuni meninggal, Arya Kamandanu tidak mau kembali kepada Mei Xin? Benarkah karena Sakawuni melarangnya dan Kamandanu menuruti keinginan Sakawuni?
Kalau ditelusuri di episode 3, 4, 5 sebenarnya sudah bisa dipahami bahwa alasan Kamandanu sebenarnya hanyalah sebuah kalimat ringkas yaitu "Kamandanu tidak bisa makan daging sembarangan.'
Iya, kalimat ringkas yang makna tidak ringkas tentu saja. Kalimat ringkas yang menggambarkan pentingnya pemenuhan kebutuhan manusia akan perasaan dihargai sebagai manusia. Ya, kebutuhan harga diri.
Pada hirarki kebutuhan Maslow, kebutuhan harga diri berada di berada di atas kebutuhan mencintai dan dicintai. Artinya setiap manusia lebih butuh merasa dihargai daripada dicintai.
Sedangkan kebutuhan tertinggi manusia adalah kebutuhan mengaktualisasikan dirinya, kebutuhan untuk menunjukkan bahwa dirinya ada, eksis, berarti, bisa melakukan sesuatu yang diakui, bisa diterima bahkan bisa berkuasa. Dengan kata lain kebutuhan untuk menunjukkan egonya. Oleh karena itu manusia sering kali mengorbankan apa saja untuk memenuhi kebutuhan tertingginya ini.
Dalam hubungan Mei Xin dan Kamandanu, kebutuhan Kamandanu untuk merasa dihargai sebagai laki-laki sejati tidak terpenuhi dengan kenyataan Mei Xin telah berhubungan dengan Dwipangga hingga hamil. Ia juga merasa cintanya hanya dijadikan pelarian oleh Mei Xin (scene Kamandanu merenung di seri 134) setelah ternyata Dwipangga punya istri dan tidak mengawininya.
Luka harga diri inilah yang selalu dibawa oleh Kamandanu sehingga tampak pada perilaku Kamandanu yang :
1. Pergi dari lereng Arjuna saat Mei Xin masih hamil dan baru kembali saat dicari oleh Nini Ragarunting (episode 6-7).
2. Pergi lagi dari lereng Arjuna dengan alasan mengabdi ke Majapahit dan baru kembali setelah didesak oleh Sakawuni untuk kembali. Dan ternyata setelah sampai lereng Arjuna justru Mei Xin telah sekarat akibat bertempur dengan Dewi Sambi (episode 8-9). Menunjukkan emosi sesaat kehilangan Mei Xin tapi kemudian tidak mau mau mencarinya hingga Sakawuni kesal padanya.
3. Merasa bersalah atas kejadian buruk yang menimpa Mei Xin saat di lereng Arjuna tapi sibuk bekerja di Majapahit dan tidak pernah berpikir untuk mencari Mei Xin (episode 9 - 14).
4. Baru mau mencari Mei Xin setelah diajak oleh Sakawuni setelah ada perjodohan dari sang Prabu (episode 15).
5. Saat Mei Xin tidak mau mengakui siapa dirinya, ia dengan segera (tanpa beda hari) memaksa Sakawuni untuk menerima lamarannya (seri 448 - 449).
6. Tidak kembali pada Mei Xin setelah Sakawuni meninggal (episode 24).
Maka dari sini dapat diketahui, bukan soal Sakawuni melarangnya kembali pada Mei Xin tapi memang berasal dari luka harga diri Kamandanu yang disebabkan oleh Mei Xin sendiri. Hubungan Mei Xin dan Kamandanu yang tidak bisa bersatu sejak awal bukan karena adanya Sakawuni sebagai orang ketiga yang menghalanginya melainkan konflik yang timbul sendiri diantara mereka berdua.
Ya, tapi kan di episode 24 itu ada scene (717-718) yang Sakawuni bicara dengan Mei Xin agar Mei Xin tidak kembali kepada Kamandanu sepeninggalnya karena Sakawuni mengancamnya bahwa meskipun di dalam kubur ia tidak merelakan miliknya diambil.
Ya benar, tapi itu bukan alasan Kamandanu bersikap. Toh Kamandanu tidak tahu isi pembicaraan itu. Justru Sakawuni berbicara seperti itu karena sebelumnya di seri 580, Kamandanu sendiri yang mengatakan kepada Sakawuni bahwa tidak akan pernah terjadi Sakawuni kehilangan dirinya.
Ya, tapi kan Kamandanu masih sering ingat dan merasa bersalah pada Mei Xin, itu kan artinya masih cinta Mei Xin? Kemarin sudah dibahas pada judul PESAN 2 (cinta lewat pintu kasihan). Jadi tidak diulangi lagi di sini.
Pesan dari penulisnya jelas : JANGAN PERNAH MELUKAI HARGA DIRI LAKI-LAKI karena laki-laki mungkin saja melupakan tapi tidak pernah memaafkan. Atau sebaliknya mungkin memaafkan tapi tidak pernah melupakan.
Kalau kembali pada cerita mengenai luka harga diri Arya Kamandanu sebagai laki-laki, diceritakan di episode 1 bahwa Arya Kamandanu melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Nariratih berzina dengan Arya Dwipangga di candi Walandit atas informasi dari Danding.
Kemudian di episode 4 diceritakan bahwa Kamandanu melihat dengan mata kepalanya sendiri pula saat Mei Xin mabok di candi Walandit. Mulutnya bau ramu-ramuan dan dalam keadaan seperti itu Mei Xin merayunya dengan penuh syahwat dan menganggapnya sebagai Lou. Saat itu ia telah curiga bahwa Mei Xin mungkin saja telah melakukan hal yang sama dengan Nariratih bersama Arya Dwipangga.
Saat akhirnya Mei Xin bercerita kepada Nyi Rongkot bahwa ia hamil dan Kamandanu mengupingnya maka hilanglah sudah segala simpati, empati hingga suka dan harapan yang sempat ia gantungkan pada Mei Xin. Ia pun tidak ingin lagi mengawinkan Mei Xin dan sempat menolak keras saat mpu Hanggareksa memaksanya untuk tetap mengawini Mei Xin demi menutupi aib keluarga (seri 113 - 114)
Dua kejadian tersebut menyisakan trauma psikis yang dalam bagi laki-laki yang normal harga dirinya. Dampak yang ditimbulkan dari melihat kejadian semacam itu bisa sangat fatal pada anak kecil seperti penyimpangan seksual maupun agresifitas tingkah laku. Pada orang dewasa, perasaan dikhianati oleh seseorang yang disukai ataupun dipercayai dan ditaruhkan harapan bisa meninggalkan trauma yang terwujud pada sulitnya percaya pada pasangan baru yang didapatkannya kemudian, melakukan hal yang sama pada orang lain hingga ketidakmampuan melakukan hubungan seksual yang sehat karena selalu merasa pasangannya berselingkuh. Artikel berikut menjelaskan hal tersebut secara lebih gamblang :
Oleh karena itu, penggambaran oleh penulis Tutur Tinular di mana Kamandanu segera merelakan Nariratih untuk Arya Dwipangga dan tidak mampu untuk menerima Mei Xin apa adanya sebagai istri untuk digauli adalah benar adanya berdasarkan teori psikologi laki-laki yang berharga diri normal.
Diceritakan dalam seri 115-116 bahwa Kamandanu tidak mau tidur sekamar dengan Mei Xin. Setelah dinasehati oleh ayahnya di seri 121-122, Kamandanu menjawab bahwa ia merasa tidak punya istri dan tidak bisa tidur 1 ruangan dengannya. Arya Kamandanu mengatakan ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, ia selalu merasa ada pendekar Lou di belakangnya Mei Xin dan ada Arya Dwipangga di belakangnya.
Gangguan kesehatan mental yang dialami oleh Arya Kamandanu itu nampak jelas dengan penggambarannya sebagai prajurit yang sering melamun di medan perang yang tidak jarang berakibat kemarahan dan teguran dari Sakawuni maupun paman Lembu Sora. Ia juga kesulitan melakukan tapa brata di petilasan mpu Gandring karena selalu terbayang masa lalunya. Ia mengeluhkannya pada Sakawuni dan mengatakan bahwa masa lalunya datang bertubi-tubi hendak mencabik-cabik kepribadiannya (episode Keris Mpu Gandring).
Dari sini kita bisa memahami bahwa penulis Tutur Tinular memiliki pengetahuan psikologis yang luas sehingga mampu menggambarkan konflik ego dalam diri manusia dengan sangat baik sehingga terjalin alur cerita yang menarik dan logis. Ketika alur itu diubah, maka konflik psikologis yang disajikan menjadi tidak masuk akal sehingga ceritanya pun menjadi hilang maknanya seperti yang terjadi di karya-karya adaptasi sandiwara radio Tutur Tinular yang muncul setelahnya.
"I am not a second choice, either you choose me or lose me."Kamandanu sekali quotes ini.
Awalnya ia melamar Mei Xin dengan baik-baik setelah wanita itu ditinggal mati suaminya dan ditolongnya dengan diberikan tempat dan perlindungan di rumahnya di desa Kurawan. Tetapi lamarannya itu diabaikan oleh Mei Xin, malah ditinggal pergi tanpa pesan. Lalu diterimalah lamarannya setelah rahim Mei Xin terisi benih dari yang lainnya.
Harga diri laki-laki, "Aku bukan pilihan kedua apalagi pelarian. Jika tidak memilihku sejak awal, kau pasti kehilangan cintaku meskipun status mengikat."
Ia mencoba bersabar dalam ikatan perkawinan yang tidak membawa kenyamanan, itu sungguh pahit dalam jiwa. Tapi setelah bersabar, nasib melewatkan kepahitannya dan akhirnya memperoleh apa yang memang diinginkan untuk dicintainya dan membawakan kebahagiaan.
Jadi jelas, Kamandanu diceritakan memilih untuk menjadi pertapa setelah kematian Sakawuni itu bukan karena
Sakawuni melarangnya untuk kembali kepada Mei Xin tapi karena luka harga dirinya sebagai laki-laki yang tidak pernah pulih oleh Mei Xin dan Sakawuni-lah yang menutup luka itu dengan kebahagiaan sejati sebagai laki-laki. Sakawuni tidak pernah merendahkan Arya Kamandanu seperti yang dilakukan oleh Mei Xin kepadanya dan Sakawuni memberikan kepada Arya Kamandanu apa yang tidak pernah bisa Mei Xin berikan kepadanya yaitu cinta pertama dan terakhir, ketulusan, pengorbanan untuk menyelamatkan nyawa Arya Kamandanu berulang kali hinggap anak yang mengikat jiwa Arya Kamandanu sebagai seorang ayah.
Artikel sebelumnya:
Pesan 2: Cinta Butuh Dasar Lebih dari Sekadar Kasihan
Artikel selanjutnya:

Gambar rangkuman dampak negatif diselingkuhi pasangan, sumber: Okezone.com
Gambar rangkuman trauma akibat diselingkuhi pasangan, sumber: teropongdaily.com