Pesan 2: Cinta Butuh Dasar Lebih dari Sekadar Kasihan
MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK FIKSI SR TT PESAN : CINTA BUTUH DASAR LEBIH DARI SEKADAR KASIHAN
"Cinta itu punya banyak pintu,,,
Dan pintu yang terbaik adalah lewat rasa kasihan."
#Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (Buya Hamka, 1965)
Gambar kover novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Buya Hamka terbitan Gema Insani Press, sumber: Gema Insani Press.co.id
Ungkapan Buya Hamka di atas terasa aneh dalam pandangan psikologi modern. Bagaimana mungkin cinta hanya didasarkan pada kasihan akan bertahan?
Dalam pengertian Buya Hamka, rasa kasihan adalah rasa yang bersumber langsung dari Allah SWT. Jika kita dikasihani oleh orang lain atas sesuatu yang menimpa kita, hakikatnya itu adalah pertolongan yang Allah berikan lewat seseorang yang dipilihnya.
------
Sempat saya berpikir bahwa konflik cinta antara Mei Xin dan Kamandanu ini kok serupa tapi tak sama dengan konflik cinta antara Zainuddin dan Hayati ya. Hayati yang cantik lebih memilih Aziz yang mapan tapi ternyata berwatak buruk setelah sebelumnya menolak Zainuddin yang miskin.
Pada akhirnya saat Hayati terpuruk oleh Aziz, dia datang dan ingin diterima oleh Zainuddin yang telah sukses menjadi pujangga namun Zainuddin menolaknya karena harga dirinya yang terluka oleh Hayati dan keluarganya. Meskipun ia tidak menginginkan Hayati lagi, namun saat Hayati terkena musibah tenggelamnya kapal Van der Wickj yang ditumpanginya, Zainuddin merasa bersalah kepada Hayati.
Rasa bersalah karena ia telah menyuruh Hayati untuk pulang dengan naik kapal dan dialah yang membiayai perjalanan itu. Rasa bersalah karena pemikiran "seandainya aku tidak menyuruhnya pulang, mungkin ia tidak akan celaka."
Rasa bersalah yang murni karena kasih kemanusiaan dan bukan lagi romansa. Namun bagi sebagian penikmat novel maupun filmnya mengartikan bahwa rasa bersalah ini adalah bentuk penyesalan karena Zainudin lebih mencintai harga dirinya daripada jujur terhadap dirinya sendiri bahwa ia masih memiliki sisa-sisa cinta kepada Hayati.
Akibatnya, pesan utama dari penulisnya terabaikan atau tidak dapat dipahami sama sekali. Apa pesan penulisnya? Bahwa jika sejak awal Hayati dan keluarganya kasihan pada Zainudin yang miskin, maka itu menjadi pintu terbaik untuk membangun rumah tangga karena kasihan itu datangnya dari Sang Pencipta. Sebaliknya jika Zainudin menetapi rasa kasihannya akan nasib Hayati yang terpuruk dan miskin, boleh jadi itu akan menjadi pintu cinta kembali yang baik.
Sayangnya kedua hal itu tidak terjadi di dalam ceritanya, karena cinta butuh lebih dari sekadar kasihan, ada harga diri yang menjadi batasan. Harga diri keluarga Hayati menolak bermenantu orang miskin. Harga diri Zainudin sebagai laki-laki menolak untuk pemuda makan sisa.
Ada pesan lain yang hendak disampaikan oleh penulis novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck ini bahwa akal sehat harus selalu digunakan untuk membatasi dan menjaga harga diri.
Maka penolakan Zainuddin terhadap Hayati untuk kembali padanya hendaknya dilakukan dengan bijak dan menggunakan akal sehat bukan atas dasar luka harga dirinya di masa lalu.
Demikian pula Hayati yang mengingkari janjinya untuk setia kepada Zainudin hendaknya mendasarkan pada pertimbangan akal sehat dan bukan semata-mata pasrah akan nasib dirinya di hadapan keluarga dan mengabaikan harga dirinya jika ia hendak kembali kepada pria yang telah pernah dikhianatinya.
-----
Bagi saya, romansa antara Zainudin dan Hayati terasa serupa dengan romansa antara Arya Kamandanu dan Mei Xin di cerita Tutur Tinular.
Arya Kamandanu yang tidak menginginkan Mei Xin lagi setelah Mei Xin meninggalkan rumahnya tanpa pamit dan tanpa pesan lalu di kemudian hari diketahui telah hamil dengan Arya Dwipangga.
Mei Xin yang cantik memilih pergi diam-diam pergi dari rumahnya Arya Kamandanu lalu jatuh pingsan di jalan karena kelaparan. Arya Dwipangga yang tampan dan gagah juga kaya raya dan pandai bersyair menemukannya dan menolongnya, memberikan fasilitas dan kenyamanan di rumah pembantunya yang bernama Ki Pamungsu. Mei Xin pun dengan cepat merasa nyaman dan percaya sepenuhnya kepada Arya Dwipangga sehingga terjadilah hal yang membuatnya lebih menderita lagi di kemudian hari.
Meskipun Arya Kamandanu akhirnya tetap mengawini Mei Xin dalam upacara karena desakan dari ayahnya dan rasa kasihan akan nasib Mei Xin namun luka harga dirinya sebagai laki-laki tidak dapat ditutupi sehingga iapun tega meninggalkan Mei Xin sendirian bersama Panji Ketawang dan Ayu Wandira yang masih bayi di lereng gunung Arjuna yang sepi. Ia memilih untuk mengejar kebutuhan harga dirinya sebagai laki-laki dan pendekar yang berarti. Akhirnya saat Mei Xin terkena malapetaka akibat bertarung dengan Dewi Sambi dan nasibnya tidak jelas, Kamandanu merasa bersalah.
Rasa bersalah yang dibawanya seumur hidup dan oleh sebagian fans diartikan bahwa ia masih mencintai Mei Xin. Rasa bersalah bukan karena adanya cinta yang melibatkan keterikatan, gairah ataupun komitmen. Tapi merasa bersalah karena unsur kasihan yang datangnya dari sang Kuasa.
Lebih jauh lagi jika ditarik ke seri 81 - 83 di mana Kamandanu menyatakan rasa kasihannya kepada Mei Xin sebagai cinta namun Mei Xin tidak menyambutnya dengan komitmen kepastian karena alasan belum move on dari kedukaannya ditinggal mati oleh Lou, sesungguhnya bisa diartikan inilah awal petaka berikutnya.
Ego Mei Xin menuruti duka, ketidakmampuannya untuk bersabar atas nasib yang menimpanya saat itu yang ditunjukkan dengan kemarahan, keputusasaan dan ingin bunuh diri, membuatnya tidak mampu melihat kebaikan sang Kuasa yang datang padanya lewat niat baik Kamandanu. Ia melewatkan kesempatan baik itu begitu saja dan hasilnya menemukan hal yang buruk di luar rumah mpu Hanggareksa.
Cerita berjalan menurut hukum sebab akibat. Sebab Mei Xin lambat memberikan jawaban, Kamandanu tidak punya dukungan untuk memperjuangkannya di depan mpu Hanggareksa. Sebab Mei Xin tidak mendukung maka perjuangan tidak berhasil dengan baik. Apalagi Mei Xin malah pergi dari rumah mpu Hanggareksa, maka bubarlah perjuangan cintanya. Rasa yang menggebu-gebu hilang, juga tidak ingin mengawini lagi.
Oleh karena itu penulis Tutur Tinular menyatakan bahwa cinta butuh dasar lebih dari sekadar kasihan sebagaimana terungkap dalam percakapan tokoh Arya Kamandanu dan ayahnya dalam seri 109 - 110 setelah Arya Kamandanu berhasil membawa Mei Xin yang mabuk candi Walandit kembali ke rumahnya setelah mpu Hanggareksa mengetahui fakta Arya Dwipangga berhubungan dengan Mei Xin melalui pengaduan Nariratih sebagai berikut :
"Mulutnya bau, tapi tidak seperti orang keracunan, tapi kehilangan kesadarannya danmenganggap saya seperti almarhum suaminya"
"Ya ya ya, kasihan sekali nasib wanita asing itu. Kasihan sekali, rupanya peristiwa kematian suaminyamasih membekas di dasar hatinya."
"Tapi saya masih mengkhawatirkan sesuai, ayahanda."
"Apa itu?"
"Saya belum tahu apa yang dilakukan kakang Dwipangga atas dirinya."
"Sudahlah, Kamandanu. Jangan kau ganggu isi kepalamu itu dengan angan-angan, dengan kkhayalan-khayalanyang merugikan dirimu sendiri. Lebih baik kau memikirkan hal lain yang lebihnyata dan bermanfaat, le. Misalnya tentang Mei Xin, teman wanitamu itu. Sekarang aku mmaubertanya dan jawablah dengan sejujur-jujurnya!"
"Iya, ayahanda"
"Apakah kau mencintainya? Maksudku apakah kau tetap mencintainya walaupun kau tahu segala kekurangan yang ada pada dirinya, kau kan tahu micin itu seorang janda, dia bukan perawan lagi."
"Saya mencintainya, ayahanda."
"Coba le, katakan sekali lagi!"
"Saya mencintainya, ayahanda. Saya mencintainya dengan sepenuh hati saya, justru saya mencintainya karena kekurangan-kekurangannya. Saya iba melihat nasibnya yang begitu malang"
"Ingat, jangan kau jatuh cinta hanya karena perasaan iba semata-mata."
"Saya tidak tahu persis apa sebabnya, ayahanda. Saya tidak bisa menjabarkannya dengan kata-kata. Dan saya tidak mau mempedulikan apa-apa lagi. Saya tidak mau berpikir yang rumit-rumit."
"Heh, le. Ini bukan berpikir rumit, anakku. Aku tidak mengajakmu untuk berpikir secara njlimet tidak. Aku hanya mau tahu dasar apa yang akan kau gunakan untuk meletakkan perasaan cintamu itu. Apakah sekedar menuruti hawa nafsu seperti Dwipangga itu atau karena belas kasihan atau apa."
"Entahlah, ayahanda. Semuanya seperti telah bercampur aduk menjadi satu. Kalau saya melihat Mei Xin, saya seperti melihat satu sosok seorang wanita kepada siapa saya akan memperoleh harapan-harapan baru dalam hidup saya di masa yang akan datang. Dia sseperti ibu, dia seperti teman, dia seperti seorang kekasih sekaligus seperti seorang bocah perempuan yang lemah, yang pantas mendapatkan perlindungan. Saya banyak mempunyai kekurangan dan saya merasakan bahwa kekurangan-kekurangan saya itu bisa tertutup oleh jiwa dan kepribadiannya yang luhur dan mulia."
"Ah, iya. Kalau memang sudah begitu, akupun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jadi, dengan kata lain kau sudah mantap memiliki istri seperti Mei Xin itu?"
"Ee.."
"Baiklah, tidak usah kau jawab."
____
Dari percakapan di atas jelas bahwa Arya Kamandanu lebih mendasarkan perasaannya kepada Mei Xin di atas dudukan rasa kasihan atas nasib Mei Xin dan harapan-harapannya sendiri. Oleh karena itu ketika ia mendapatkan kenyataan Mei Xin ternyata telah hamil dengan Dwipangga, harapan-harapannya runtuh dan iapun menanggung kekecewaan yang sangat dalam dan menguap rasa kasihannya saat itu.
Namun demikian, ketika mpu Hanggareksa memaksanya untuk tetap mengawini Mei Xin dalam upacara di seri 113 - 114, ia tetap menerimanya atas dasar tanggung jawab kenyataan bahwa dia sendirilah yang membawa Mei Xin ke Kurawan meskipun harga dirinya tercabik.
Karena tanggungjawabnya, ia pun tetap merasa bersalah saat mengetahui Mei Xin mengalami nasib buruk diserang oleh prajurit Kediri saat ia meninggalkannya sendiri di gunung Arjuna yang sepi, meskipun kepergiannya memang untuk mencari aktualisasi diri di luar kehidupan rumah tangganya dengan Mei Xin yang tidak membawa kebahagiaan dan sudah disetujui oleh Mei Xin sendiri.
------
Beberapa penggemar berargumen bahwa kejadian Mei Xin pergi dari rumah mpu Hanggareksa memang sudah diatur oleh penulisnya, jadi bukan kesalahan Mei Xin, tidak perlu menyalahkan Mei Xin. Tentu saja argumen ini benar, memang dalam sebuah cerita yang berkuasa adalah penulisnya bukan tokohnya. Dan dalam cerita Tutur Tinular, oleh penulisnya memang disetting Mei Xin ini bukan jodoh sejatinya Kamandanu.
Kalau disetting sebagai jodoh sejati, cinta sempurna, cinta sejati, pasti sejak awal bertemu dibuat oleh penulisnya agar semuanya terasa mudah untuk dilalui oleh Kamandanu dan Mei Xin. Tapi fakta cerita tidak demikian.
Jadi tidak perlu juga menyalahkan tokoh selainnya Mei Xin demi membela tokoh Mei Xin apalagi menyalahkan penulisnya. Ikuti saja alur yang dibuat oleh penulisnya, karena ia memang yang berkuasa 😁
Penulisnya tidak adil, kata sebagian fans.
Boleh saja kita menilai begitu. Tapi apakah yang menilai begitu bisa membuat karya yang lebih baik?
Apa gunanya menghujat, apalagi menghujat penulisnya?
Lebih baik terima saja ceritanya, ambil pelajarannya atau tinggalkan. Toh cuma hiburan. Pilih cerita lainnya atau buat cerita sendiri.
Dan yang terpenting, jangan sampai dalam kehidupan kita sehari-hari kita mengatakan penulis skenario kehidupan yang kita jalani ini tidak adil.
Semoga bisa memberikan sudut pandang yang berbeda sehingga Tutur Tinular tetaplah hiburan bukan lagi duka sepanjang masa 🙏☺️
------
Artikel sebelumnya :
Pesan 1: Cinta Butuh Waktu untuk Meletakkan Dudukan yang Benar
Artikel berikutnya :
