Pesan 1 : Cinta Butuh Waktu untuk Meletakkan Dudukan yang Benar
MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK FIKSI SR TT PESAN CINTA Bagian 1
Sesuai dengan judul ceritanya, sandiwara radio Tutur Tinular mengandung banyak tutur atau nasehat yang pantas tinular atau disebarluaskan. Pesan paling menarik dari sandiwara radio dan banyak dibahas dan diperdebatkan oleh pendengarnya maupun yang baru mengenalnya adalah bagian romansa cerita yang dialami oleh tokoh Arya Kamandanu. Pertanyaan dan klaim siapa sebenarnya cinta sejatinya Arya Kamandanu selalu berulang dari satu diskusi grup medsos ke grup medsos lainnya.
Seorang teman online pernah bertanya kepada saya "Sebenarnya Kamandanu cinta atau tidak pada Mei Xin? Kalau cinta, mengapa awalnya menggebu-gebu tapi kemudian berbalik 180° saat Mei Xin sudah hamil dengan Dwipangga?"
Pertanyaan tersebut membuat saya harus berpikir bahkan belajar lagi materi mata pelajaran Sosiologi sewaktu sekolah dulu. Awalnya saya pikir itu reaksi wajar kekecewaan seorang laki-laki saat jadi bukan yang pertama. Tapi teori Segitiga Cinta dari Robert J. Stenberg (1986) mengubah pemikiran saya. Rasanya saya menjadi yakin bahwa sejak awal sebenarnya Kamandanu tidak pernah memiliki cinta sempurna (consummate love) untuk Mei Xin.
Teori dari Stenberg yang menjelaskan bahwa cinta adalah kombinasi dari 3 unsur yaitu keintiman, gairah dan komitmen. Dari ketiga elemen ini maka akan diperoleh berbagai kombinasi yang memunculkan pola hubungan antar manusia.
Keintiman adalah perasaan keterikatan, kedekatan, keterhubungan dalam bingkai apapun nama hubungannya.
Gairah ditandai dengan adanya emosi yang intens, daya tarik seksual, kecemasan dan afeksi. Ketika cinta terbalaskan, orang merasa gembira dan bahagia. Namun jika tidak, akan menyebabkan perasaan sedih, berkecil hati dan bahkan putus asa.
Komitmen merupakan perasaan, keyakinan hati dan tindakan keputusan untuk tetap bersama pasangan dalam waktu yang panjang tanpa batasan waktu.
Mari kita simak seri 80 di mana Mei Xin ingin bunuh diri karena kesedihannya oleh kematian Lou dan Kamandanu berusaha mencegahnya. Saat Mei Xin pingsan dan Kamandanu menolongnya, sebagai laki-laki normal dewasa, Kamandanu merasakan ketertarikan seksual karena Mei Xin yang cantik. Ia kemudian merasa sangat iba dan kasihan sekali terhadap nasib Mei Xin. Saat Kamandanu ditanya oleh mpu Hanggareksa, apakah ia mempunyai hubungan khusus dengan Mei Xin, ia menjawab tidak, hanya iba dan kasihan.
Tapi selanjutnya di seri 81 - 83, Kamandanu merenungkan rasa iba dan kasihannya. Ia bertanya pada dirinya sendiri apakah ia benar-benar ingin menolong Mei Xin ataukah mengharapkan pamrih. Selama 5 tahun mengembara, ia tidak mendapatkan apa-apa dan sekarang ia merasa harus membahagiakan Mei Xin karena sangat kasihan padanya. Dengan segera Kamandanu pun mengambil keputusan sendiri dalam hatinya bahwa jika perasaannya ingin menolong Mei Xin dan membuatnya bahagia disebut sebagai cinta maka ia tidak mengapa, ia mengakui bahwa telah jatuh cinta pada Mei Xin. Sehingga sejak itu ia mulai bersikap lebay dan menggebu-gebu.
Namun rasa menggebu-gebu Kamandanu itu ternyata hilang begitu saja setelah cerita berikutnya Mei Xin pergi dari rumah mpu Hanggareksa hingga hamil dengan Dwipangga (seri 113 - 114). Kamandanu menolak keras keinginan mpu Hanggareksa agar ia tetap pada pendiriannya di awal untuk mengawini Mei Xin. Penolakan yang dipatahkan oleh mpu Hanggareksa dengan mempertanyakan bukti cintanya kepada Mei Xin. Meskipun akhirnya Kamandanu mau mengawini Mei Xin, di cerita berikutnya ia tidak pernah lagi memiliki gairah dan ketenangan saat bersama Mei Xin. Apakah sebabnya?
Tentu bukan karena kehadiran Sakawuni yang masih jauh dikenalnya dengan dalam. Tapi karena sejak awal Kamandanu hanya berada pada kondisi infatuasi atau terobsesi khayalannya sendiri terhadap Mei Xin, bukan cinta yang bertumbuh sempurna atas dudukan yang benar. Sejak awal, sebelum tahu bahwa Mei Xin hamil dengan Dwipangga, Kamandanu telah mengatakan kepada ayahnya bahwa ia sendiri tidak mengerti atas dasar apa ia meletakkan cintanya pada Mei Xin. Hal ini bisa kita simak di seri 109 - 110 yang penggalan percakapannya sebagai berikut :
Mpu Hanggareksa (MH) : "Apakah kau mencintainya? Maksudku apakah kau tetap mencintainya walaupun kau tahu segala kekurangan yang ada pada dirinya, kau kan tahu Mei Xin itu seorang janda, dia bukan perawan lagi."
Arya Kamandanu (AK) : "Saya mencintainya, ayahanda."
MH : "Coba ke, katakan sekali lagi!"
AK : "Saya mencintainya, ayahanda. Saya mencintainya dengan sepenuh hati saya, justru saya mencintainya karena kekurangan-kekurangannya. Saya iba melihat nasibnya yang begitu malang."
MH : "Ingat, jangan kau jatuh cinta hanya karena perasaan iba semata-mata."
AK : "Saya tidak tahu persis apa sebabnya, ayahanda. Saya tidak bisa menjabarkannya dengan kata-kata. Dan saya tidak mau mempedulikan apa-apa lagi. Saya tidak mau berpikir yang rumit-rumit."
MH : "Heh, le. Ini bukan berpikir rumit, anakku. Aku tidak mengajakmu untuk berpikir secara njlimet, tidak. Aku hanya mau tahu dasar apa yang akan kau gunakan untuk meletakkan perasaan cintamu itu. Apakah sekedar menuruti hawa nafsu seperti Dwipangga itu atau karena belas kasihan atau apa."
AK : "Entahlah, ayahanda. Semuanya seperti telah bercampur aduk menjadi satu. Kalau saya melihat Mei Xin, saya seperti melihat satu sosok seorang wanita kepada siapa saya akan memperoleh harapan-harapan baru dalam hidup saya di masa yang akan datang. Dia seperti ibu, dia seperti teman, dia seperti seorang kekasih sekaligus seperti seorang bocah perempuan yang lemah, yang pantas mendapatkan perlindungan. Saya banyak mempunyai kekurangan dan saya merasakan bahwa kekurangan-kekurangan saya itu bisa tertutup oleh jiwa dan kepribadiannya yang luhur dan mulia."
MH : "Ah, iya. Kalau memang sudah begitu, akupun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jadi, dengan kata lain kau sudah mantap memiliki istri seperti Mei Xin itu?"
AK : "Ee.."
MH : "Baiklah, tidak usah kau jawab."
Dari penggalan percakapan ini terlihat jelas bahwa Arya Kamandanu tidak mengerti mengapa ia mencintai Mei Xin selain rasa iba terhadap nasibnya dan HARAPAN -HARAPANNYA SENDIRI akan sosok Mei Xin yang dia pikirkan seperti ibunya, seperti temannya ataupun seperti anak perempuan kecil yang patut dikasihani. Ia bahkan tidak menjawab apakah ia sudah mantap memiliki istri seperti Mei Xin.
Maka kita bisa menyimpulkan bahwa sampai di seri 110 ini Arya Kamandanu hanya berada pada fase tergila-gila karena adanya gairah ketertarikan secara fisik dan dorongan rasa iba dan kasihan atas nasib Mei Xin semata.
Oleh karena itu ia berubah sama sekali begitu mengetahui keadaan Mei Xin berubah, Mei Xin telah hamil dengan Dwipangga. Tidak ada rasa ingin berkorban dengan sukarela sebagai bukti cinta yang dikatakannya. Ia bersikeras tidak mau mengawini Mei Xin hingga Mpu Hanggareksa mengancam akan mengusir Mei Xin dari rumahnya karena tidak mau menanggung aib (113 - 114).
Meskipun Arya Kamandanu akhirnya mau menikahi Mei Xin di upacara sederhana yang disaksikan oleh para tetua desa Kurawan (seri 114), namun ia tidak mau memperlakukan Mei Xin sebagai istrinya dengan baik sehingga di seri 173, Nini Ragarunting mengolok-oloknya bahwa ia hanya mencintai dirinya sendiri karena tidak bertanggungjawab sebagai suami terhadap Mei Xin.
Gb. Diagram the triangular teory of love oleh Robert J. Stenberg (1986), sumber: Instagram @Pion Clinician.
Berdasarkan pada diagram di atas, rumah tangga antara Mei Xin dan Arya Kamandanu jatuh pada posisi empty love dimana hanya ada komitmen atas dasar menutupi aib bukan komitmen yang tulus, tanpa ada lagi gairah dan tidak pernah terbentuk keintiman di mana kedua belah pihak saling memahami dan mengerti.
Tidak ada faktor waktu yang menumbuhkan kedekatan apalagi komitmen di antara Mei Xin dan Arya Kamandanu. Tidak ada saling memahami sejak awal. Mei Xin yang terus menuruti duka dan nasibnya tidak mampu melihat niat baik Kamandanu melamarnya. Arya Kamandanu sendiri terlalu tergesa-gesa memutuskan untuk menyatakan cinta dan melamarnya tanpa memahami kondisi batin Mei Xin atas dukanya terdampar di negeri asing dan kehilangan suami. Maka witing tresno jalaran saka kulino adalah pepatah Jawa yang sulit terbantahkan.
Artikel sebelumnya :
Analisis unsur Sudut Pandang Cerita 3: Tiga Sisi Sudut Pandang Tokoh dalam Cerita
Artikel berikutnya :
.jpeg)