PENOKOHAN (1) : Watak yang Manusiawi, Cara Tutur Tinular Menghidupkan Tokoh-Tokohnya
MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK FIKSI SR TT : PENOKOHAN BAGIAN 1
Penokohan adalah cara seorang penulis cerita menggambarkan tokoh-tokoh yang ada dalam ceritanya baik secara fisik yang bisa dibayangkan oleh pembaca atau pendengar maupun secara kepribadian si tokoh yang bisa diketahui dari perilaku tokoh selama jalannya cerita.
Penggambaran ini bisa dilakukan secara langsung oleh penulisnya dengan menyebutkan yang dalam SR akan dibaca oleh pembawa ceritanya, misalnya kita bisa tahu bahwa di awal kemunculannya, Sakawuni memiliki wajah yang cantik, masih remaja belia namun dengan raut dewasa dan berpenampilan aneh dari deskripsi yang dibacakan oleh narator pada seri 54 sebagai berikut :
"Pendekar Lou dan Mei Xin lalu ikut makan bersama wanita aneh itu. Wanita cantik yang masih remaja usia namun raut wajahnya nampak dewasa."
Penggambaran watak tokoh bisa pula secara tidak langsung melalui tokoh lainnya. Misalnya masih di seri ke-54, kita bisa tahu bahwa Sakawuni suka berpenampilan aneh dan menyembunyikan jati dirinya sebagai wanita melalui kata-kata yang diucapkan oleh Mei Xin setelah Sakawuni pergi meninggalkan ia dan pendekar Lou. Mei Xin berkata sebagai berikut :
"Wanita yang aneh, dandannya seenaknya seperti seorang laki-laki petani, tapi bagaimanapun seorang wanita tidak akan sepenuhnya dapat menyembunyikan kewanitaannya."
Penokohan merupakan bagian terpenting dari terciptanya konflik yang menghidupkan alur cerita. Dari tokoh-tokoh yang berlainan wataknya muncullah konflik ego dan kepentingan yang membutuhkan penyelesaian sehingga cerita menarik untuk diikuti.
Hal yang biasanya membuat cerita menjadi hambar adalah penokohan yang cacat logika. Misalnya tokoh yang baik digambarkan sempurna 100% tanpa kesalahan, pemeran protagonis selalu menang sedangkan antagonis selalu kalah tanpa sisi baik secuilpun. Atau tokoh digambarkan minim sekali sisi kemanusiaannya seperti terlalu sakti, terlalu kejam, tidak ada sedikitpun titik balik di mana muncul rasa kemanusiaan seperti kasih sayang kepada sesama meskipun hanya terbatas, terlalu buruk wataknya tanpa unsur kekeliruan pendidikan dan sebagainya.
Selama tokoh yang digunakan masih manusia, penokohan hendaknya manusiawi, ada sisi baik dan ada pula sisi buruknya. Tinggal mana yang lebih dominan untuk diperankan agar menghidupkan cerita.
Penokohan dalam Tutur Tinular oleh pak Tidjab sangat manusiawi menurut saya. Sakawuni sebagai salah satu tokoh utamanya digambarkan baik karena suka menolong, menjaga kehormatan sebagai wanita, tidak mudah jatuh cinta, prajurit yang tangguh, penuh logika dan perhitungan, istri yang baik dan wanita yang bijak maka wajar juga kalau dia juga digambarkan punya sisi sedikit tidak sabaran, manja, ugal-ugalan saat remajanya karena rasa dendam pada ayah kandungnya, mudah cemburu dan sedikit egois karena ingin memastikan siapa yang mengasuh anaknya sebelum ia meninggal.
Arya Kamandanu sebagai tokoh utama lainnya digambarkan baik, sangat welas asih, perasa, pendekar sakti gagah perkasa hingga memiliki kemampuan tenaga siluman ular naga puspa kresna di dalam dirinya, seorang panglima perang yang tangguh. Wajar juga jika digambarkan bahwa ia sering ragu-ragu, terlalu welas asih hingga menjadi seorang yang emosional sponge, mudah dicekam oleh perasaannya sendiri sehingga sering melamun dan murung.
Mpu Tong Bajil sebagai tokoh utama antagonis digambarkan bersifat buruk namun setia hanya pada satu wanita, yaitu Dewi Sambi. Ia juga teguh pendirian pada cita-citanya menjadi pendekar tak terkalahkan. Demikian pula Arya Dwipangga sebagai tokoh misantagonis digambarkan pandai berdagang, cerdas dan kuat keinginan namun selalu mengikuti hawa nafsu.
Gb. Kolase animasi peran Lasmini dan Sakawuni dengan pemerannya di versi sandiwara radio dan film layar lebar, sumber: koleksi pribadi dibuat dengan mengambil foto-foto di grup FB Pecinta Sandiwara Radio
Boleh dong tahu kisanak di sini pas dulu mendengarkan SR yang terbayang di kepala siapa yang lebih cantik Lasmini atau Sakawuni?
Tidak bisa dipercaya kalau dijawab sama, karena meskipun suara dubbernya sama tapi cara penokohan yang berbeda pasti memunculkan imajinasi yang berbeda pula di kepala.
--------
Artikel selanjutnya:
Penokohan (2): Bikin Geregetan, Penokohan Unik Ala S. Tidjab
