PENOKOHAN 2 : BIKIN GEREGETAN, PENOKOHAN UNIK ALA S.TIDJAB

MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK SR TT: PENOKOHAN 2


Hal yang membuat karya seperti Tutur Tinular, Mahkota Mayangkara, dan Kaca Benggala dari alm bapak S.Tidjab begitu melegenda adalah cara penokohan yang anti-mainstream. Selain manusiawi juga tidak tersekat dengan saklek batasan fungsi protagonis, antagonis dan tritagonis.

----

Kalau biasanya tokoh protagonis sulit untuk dihujat, tidak demikian halnya dengan Arya Kamandanu yang dikreasikan oleh pak Tidjab. Beliau menyematkan watak welas asih dan terlalu peduli yang jatuhnya menyakiti diri Arya Kamandanu sendiri atau dalam bahasa kerennya emosional sponge.

Watak inilah yang menjadi sumber hujatan namun sebenarnya watak ini juga yang menjadi sumber konflik ego dalam jalinan ceritanya sehingga melegenda, bukan semata-mata adanya pedang naga puspa maupun kemunculan tokoh antagonis yang menjadi lawannya.


Dengan wataknya yang emosional sponge itu Kamandanu merasa menjadi pribadi yang tidak utuh oleh masa lalunya seperti yang dikeluhkannya pada Sakawuni di episode ke-14. Ia sangat perasa dan mudah putus asa sehingga merasa tidak mampu menjadi seorang pendekar yang bekerja sebagai prajurit Majapahit. 

Bahkan wataknya ini tetap membuat geregetan pendengar mana kala di medan tempur, Kamandanu sering kali bertindak lamban hingga membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain seperti saat menghadapi Gajah Biru, Arya Dwipangga maupun Wong Agung. Ia bahkan bisa melamun dan merenungi untuk apa pertempuran dilakukan seperti saat berlangsungnya pertempuran dengan pasukan Ranggalawe. 

---

Sebagai tokoh protagonis utama, wajar kalau pendengar ingin Sakawuni berwatak sempurna 100% dengan meninggalkan pesan kepada Kamandanu agar Kamandanu kembali pada Mei Xin setelah ia meninggal.

Tapi apa yang ditulis oleh pak Tidjab adalah berbeda dengan harapan pendengar. Sakawuni digambarkan berwatak wanita tulen yang lemah lembut dan keibuan, mementingkan anaknya meskipun ia seorang pendekar dan juga prajurit. Maka iapun posesif dan meminta kepastian pada Kamandanu tentang siapa wanita yang akan merawat anaknya sepeninggalnya dengan dua kali bertanya hal yang sama, 

"Seandainya aku mati lebih dulu apakah kau akan kembali kawin dengan kakak Mei Xin ataukah mencari gadis lain yang lebih muda, cantik dan menggairahkan?"

Pertanyaan yang membuat Kamandanu bingung karena ia menyangkal datangnya tanda-tanda kematian pada istrinya, membuat pendengar kesal karena mengartikannya sebagai sebuah keegoisan dan membuat saya sendiri tertawa karena watak tulen wanita ternyata tetap dilekatkan pak Tidjab pada seorang pendekar yang juga prajurit dengan rekor pertempuran antara hidup dan mati yang tidak terhitung jumlahnya. 

Yahh siapa sih wanita yang tidak khawatir anaknya bagaimana sepeninggalnya apalagi si anak tampak berkebutuhan spesial dengan kulit menyerupai sisik naga?

Siapa pula laki-laki sejati yang tega menduakan cinta wanita yang telah memberikan segalanya untuk membuat hidupnya berarti dan menelantarkan buah hatinya yang spesial dalam asuhan wanita lain yang belum tentu menerima anaknya sepenuh hati?

----

Bukan hanya kedua tokoh itu yang wataknya unik, peran tritagonis yang biasanya menjadi bagian dari penyelesaian masalah, di tangan pak Tidjab justru menjadi agen penghubung munculnya masalah. Seperti yang dilekatkan pada peran Mei Xin sebagai pembawa konflik perebutan pedang naga puspa dari Mongol hingga ke tangan Arya Kamandanu dan pemantik konflik ego harga diri laki-laki pada tokoh Arya Kamandanu.


Pun peran antagonis Arya Dwipangga tidak bisa membuat kita 100% membenci tokoh ini karena pak Tidjab menggesernya menjadi peran misantagonis di mana alur cerita yang dijalaninya membuat permakluman akan perubahan wataknya.

---

Kesal pada watak tokoh-tokoh Tutur Tinular terutama Sakawuni yang meminta Mei Xin agar tidak kembali pada Kamandanu setelah ia meninggal?

Percayalah di situlah keunikan penokohan yang dibuat oleh pak Tidjab sehingga ceritanya hidup dan melegenda hingga terus dibuat karya adaptasinya yang tidak pernah bisa menyaingi popularitas karya orisinalnya.

---

Siapa sajakah tokoh Tutur Tinular yang ada dalam gambar sampul album Pelangi Cinta Kamandanu berikut ini?

Sampul kaset album Pelangi Cinta Kamandanu

Gb. Kaset pita album Pelangi Cinta Kamandanu, sumber: tangkapan layar YouTube channel Agung Soedjono 


------

Artikel berikutnya:

Penokohan 3: Sakawuni Prajurit Wanita Majapahit yang Elegan dan Bermartabat