Analisis Unsur Sudut Pandang Cerita 2: Bagaimana Penulis Bercerita, Dibatasi oleh Pengetahuan dan Keyakinan yang Dimilikinya

MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK SR TT

SUDUT PANDANG (2)


"Tutur Tinular happy ending karena Kamandanu jadi pertapa? Happy ending bagaimana? Sakawuni melahirkan dan meninggal itu menyedihkan, kasihan anaknya, kasihan suaminya yang membesarkan anaknya sendirian."

"Akhir TT itu menyedihkan, Gusti Prabu meninggal."

"Sebel, Kamandanu goblok tidak mau kembali pada Mei Xin. Penulisnya sih..."

"Suka-suka yang ngaranglah, namanya juga fiksi. Bebas, wong khayalan kok."

-----
Itu 👆 adalah penggalan-penggalan komentar yang sering saya dapati di grup ini ataupun grup lainnya terkait sandiwara radio Tutur Tinular. Seringkali membaca komentar-komentar itu lebih seru daripada postingan dan bisa membuat tertawa garing 😂

Yahh memang benar sih kata yang berkomentar, namanya menulis fiksi ya suka-suka pengarangnya. Karena fiksi itu khayalan. Lha siapa yang bisa membatasi khayalan orang atau melarang orang untuk berkhayal ini dan itu? Tidak ada, tentu saja.

Maka sastra itu bebas seperti halnya bebasnya orang mengkhayal. Tapi apakah tidak ada batasannya?
Tentu saja ada.

Kebebasan mutlak mengkhayal itu ternyata DIBATASI oleh PENGETAHUAN dan sudut pandang terhadap NILAI-NILAI LUHUR yang dimiliki dan  diyakini sendiri oleh si penulis. Karena otak manusia tidak mungkin bisa mengkhayalkan sesuatu tanpa pernah ada dasar pengetahuan yang sampai padanya.

Contohnya sebagai berikut :
Orang yang meyakini bahwa lembaga pernikahan harus dijunjung tinggi dan hubungan badan di luar pernikahan itu haram tentu tulisan khayalannya akan menunjukkan bahwa ia tidak setuju dengan gaya hidup kumpul kebo.

Orang yang mengerti unggah-ungguh bahasa Indonesia yang baku tentu tidak akan menulis khayalan dalam bahasa prokem yang berantakan sekalipun untuk tokoh antagonis.

Orang yang mengerti dunia kedokteran tentu jika membuat tokoh dokter dalam ceritanya akan bisa membuat tokohnya benar-benar hidup karena pengetahuan dan etika kedokteran yang dituangkan oleh penulisnya.

Orang yang mengerti teknik bela diri China seperti kungfu misalnya akan mudah untuk menuliskan adegan pertarungan silat dua pendekar dengan sangat hidup.
Demikianlah seterusnya.

-----
Sama halnya dengan kebebasan berkhayal seorang penulis dibatasi oleh pengetahuan dan sudut pandang terhadap nilai-nilai luhur dalam hati dan pikirannya sendiri, penerimaan pembaca atau penikmat karya sastra terhadap suatu karya juga DIBATASI oleh pengetahuan dan sudut pandang terhadap nilai-nilai luhur yang diyakini oleh penikmat karya sastra itu sendiri.

Seperti misalnya, orang yang menjunjung tata nilai kesopanan tentu tidak akan nyaman dengan karya sastra roman picisan yang banyak menggunakan kata-kata "jorok" yang dinilainya kurang sopan. Orang yang meyakini kumpul kebo adalah haram tentu tidak suka dengan cerita kumpul kebo yang tidak berakhir dengan pertaubatan. Orang yang suka sejarah dan prosedur ilmiah tentu lebih bisa menerima karya yang menjunjung kaidah penulisan yang menghargai bukti sejarah otentik dan prosedur ilmiah.

-----
Maka, saat kita mendengarkan sandiwara radio Tutur Tinular lalu mendapatkan Kamandanu mengambil keputusan yang mungkin menyebalkan bagi sebagian orang, itu bukan semata karena keinginan almarhum pak S. Tidjab untuk membuat pendengar marah, melainkan karena karakter Kamandanu yang dibangun di atas nilai-nilai kesetiaan dan kejujuran yang diyakini penulisnya sebagai sebuah prinsip hidup yang harus diuji.

Begitupun ketika ada pendengar yang marah karena merasa seharusnya Kamandanu kembali kepada Mei Xin, masa lalu yang menyakitkan dan sudah dis tinggalkan, kemarahan itu menunjukkan nilai-nilai yang diyakini oleh si pendengar itu sendiri dan bukan kesalahan dari penulis ataupun sutradara dan semua seniman yang berkarya di balik terwujudnya sandiwara radio Tutur Tinular.

Gambar ilustrasi perbedaan sudut pandang, sumber: Google 


Setiap karya sastra yang dipublikasi tentu mempengaruhi siapapun yang sempat mampir padanya dengan beragam tanggapan sesuai dengan sudut pandang masing-masing orang. Perbedaan penerimaan karena perbedaan sudut pandang adalah hal yang sangat wajar terjadi karena pengetahuan dan nilai-nilai yang diyakini setiap orang berbeda-beda.

Akan menjadi pengalaman baru yang memperkaya kebijaksanaan kita dalam hidup jika bisa terbuka terhadap sudut pandang orang lain yang berbeda lalu pergi berlalu dengan elegan pada sisi sudut pandang yang kita yakini sendiri.


Artikel sebelumnya:

Analisis Unsur Sudut Pandang Cerita 1: Dimana Kita Berdiri, Menentukan Apa yang Bisa Kita Lihat 


Artikel sesudahnya:

Analisis Unsur Sudut Pandang Cerita 3: Tiga Sisi Sudut Pandang Tokoh dalam Penceritaan