Analisis Unsur Sudut Pandang 3: Tiga Sisi Sudut Pandang Tokoh dalam Penceritaan
MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK SR TT
3 Sisi Sudut Pandang Dalam ALUR CERITA
WARNING :
Baca sampai habis agar tidak salah paham.
Kamandanu lovers tidak usah marah pada penulisnya dengan mengatakan hidupnya Kamandanu sia-sia berakhir sebagai pertapa ataupun laki-laki yang cilaka dalam cinta. Karena inti kisahnya memang Kamandanu mencari cinta abadi yaitu cinta yang mengantarkannya pada kecintaan terhadap yang Kuasa saja.
Mei Xin lovers tidak usah marah dengan mengatakan Sakawuni pelakor karena kisahnya memang tidak demikian.
Dan Sakawuni lovers juga tidak usah antipati pada tokoh Mei Xin karena tanpa tokoh Mei Xin, kisahnya tidak seru 😂
Mari kita mulai!
--------
Arya Kamandanu :
Suaminya menitipkannya kepadaku sebelum meninggalnya, karena kasihan dan ia bersama suaminya telah berjasa pada guruku, aku terpaksa berjanji untuk menjaganya sesuai dengan permintaan suaminya.
Keadaannya sungguh memilukan setelah suaminya meninggal. Aku menolongnya dan berniat baik mengawininya agar melihatnya bahagia. Meskipun ayahku tidak setuju karena ia janda dan tidak jelas asal usulnya, tapi aku sendiri banyak kekurangan dan penuh kekecewaan selama 5 tahun terakhir hidupku yang berakhir dengan pengembaraan yang tidak tentu.
Tapi apa yang terjadi, ia tidak memberikan jawaban atas lamaranku dan memilih terus meratapi suaminya. Malah ia pergi dari rumahku dan aku mendapatinya telah hamil dengan kakang Dwipangga. Di mana harga diriku sebagai laki-laki kalau aku harus mengawininya, wanita yang telah tercemar? Tidak, aku laki-laki, aku tidak bisa makan daging sembarangan.
Tapi ayahku memaksaku demi nama baik keluargaku yang tercoreng oleh perbuatannya bersama kakang Dwipangga. Oh, bagaimana dengan nasibku? Salahkah aku jika ada yang lain yang mengalihkan pandanganku? Salahkah aku jika aku ingin cinta yang abadi yang menghargai aku sebagai laki-laki?
Aku memang pernah mencintainya, cinta yang tumbuh karena kekecewaan dalam hidupku yang mengembara 5 tahun tanpa hasil apapun setelah ayah mengusirku saat aku membela paman Ranubaya dari penangkapan pemerintah Singasari yang dihasut oleh ayah.
Tapi ia merenggut hatiku sampai ke akar-akarnya lalu mencampakkannya hingga mati tak bersisa kecuali rasa bersalah karena aku telah mengawininya, lalu aku bersikap pengecut dengan lari dari masalah, dan meninggalkannya seorang diri di lereng gunung Arjuna yang sepi sehingga ia mengalami nasib yang buruk. Aku harap hidupnya bahagia.
Mei Xin :
Aku tidak pernah meminta untuk dikawininya. Aku menyadari kesalahanku. Mungkin saja jika aku tidak pergi dari rumahnya di Kurawan, aku tidak akan menanggung aib. Aku bisa apa jika ayahnya dan dia sendiripun menyatakan niat untuk tetap mengawiniku setelah aku kotor?
Tapi ternyata ia tetap menyimpan sebongkah kekecewaan yang besar terhadap sejarah kelahiran anakku. Ia meninggalkanku di Kurawan hingga kejadian buruk itu datang dan aku hidup menggelandang tidak tentu arah. Dan ia tidak mencariku sampai seorang pendekar wanita tua menolongku sehingga bisa bertemu dengannya lagi.
Setelah bertemu kembali dan aku ikut bersamanya bersembunyi di lereng gunung Arjuna, ia selalu menghindari aku lalu ia pergi meninggalkanku dengan pesan di sepucuk lontar hingga aku melahirkan barulah ia kembali. Itupun setelah seorang wanita tua yang menolongku berbaik hati mencarinya agar kembali.
Setelah itu ia pergi lagi, katanya hendak pergi mengabdi ke Majapahit. Setelah kepergiannya, datanglah seorang gadis yang ternyata selama ini ia bersamanya menghabiskan waktunya hingga berobat ke mana-mana. Dan ia tidak mengakui aku sebagai istrinya di hadapan gadis itu.
Aku sekarat karena sendirian melawan para pendekar Kediri yang hendak menangkapku. Dan ia pun datang, namun bersama gadis itu. Aku meminta ciuman darinya sebagai tanda ia memang mencintaiku dan ia memberikannya di hadapan gadis itu. Aku pikir ia memang masih mencintaiku seperti dulu karena ciuman itu. Ia hanya tidak percaya bahwa aku mencintainya, ia hanya menyimpan sebongkah kekecewaan karena aku hamil dengan kakaknya.
Tapi apa yang terjadi kemudian, setelah tubuhku yang sekarat dibawa oleh tabib yang bertahun-tahun mengobatiku, ia tidak pernah mencariku sendiri. Beritanya di mana-mana ia mencapai kejayaan sebagai prajurit Majapahit hingga naik pangkat yang tinggi bersama gadis itu.
Setelah lama terpisah, aku bertemu dengannya tapi ia tidak mengenaliku. Demikian pula gadis itu yang masih tetap bersamanya. Jadi untuk apa aku mengakuinya sebagai suamiku lagi? Ia pun tidak mengakui aku sebagai istrinya di hadapan gadis itu. Aku masih punya harga diri, aku bisa hidup sendiri dan memiliki cita-cita lain untuk kehidupan selanjutnya meskipun aku masih selalu mengharapkannya.
Apalagi setelah bertemu kembali, gadis yang dicintainya itu ternyata meninggal dan anaknya masih sangat kecil dan membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Tapi ternyata ia memang tidak pernah lagi mempercayaiku. Gadis itu dan anaknya telah merebut semua cinta dan kasih sayangnya.
Sakawuni :
Ia menolongku, menyelamatkan nyawaku dari keris megalamat milik Ranggalawe. Aku berjanji akan membalas budinya jika ada kesempatan. Dan aku menemukannya terkepung oleh para pendekar yang berwatak jahat. Aku membantunya melarikan diri lalu menyembunyikannya di lereng gunung Arjuna.
Kali berikutnya aku menemukannya tergeletak di pingsan di tepi jalan dan aku membantunya berobat ke mana-mana hingga aku bisa menemukan ibuku pada saat yang bersamaan.
Aku tidak menyangka bahwa ia ternyata membohongi aku, merendahkan harga diriku dengan tidak pernah mengatakan bahwa ia sesungguhnya telah beristri. Semula aku marah tapi aku mengampuninya setelah tahu siapa istrinya. Semuanya sudah selesai dan aku mau membantunya kembali pada istrinya. Aku selalu mengingatkannya tentang istrinya dan membantu mencarinya.
Tapi nasibku memiliki pekerjaan yang sama dengannya di Majapahit. Sang Prabu menjodohkan aku dengannya. Semua punggawa kerajaan ikut campur, istrinya tidak bisa juga ditemukan, ia marah karena aku menolaknya dan ibuku menerima lamarannya.
Apalagi pilihanku selain berusaha kembali mencintainya? Tapi aku tidak mau dipermainkannya lagi dan kehilangan harga diriku sendiri. Meskipun aku sudah di alam kubur, ia harus memberikan jaminan untuk tidak mensia-siakan anak yang kuberikan padanya.
-----
Jadi, siapa yang salah? Siapa yang egois? Semuanya sama, pada dasarnya, yang paling dicintai oleh manusia adalah dirinya sendiri. Egonya.
Dan ego itu hanya tunduk pada kecintaan pada yang Kuasa.
Jika saja Arya Kamandanu mau tunduk pada aturan Syiwa-Budha untuk tidak menentang ayahnya sejak awal yang melarangnya berniat mengawini Mei Xin, pasti ceritanya beda. Jika ia tidak terlalu mencintai Sakawuni dan anaknya, beda pula ending ceritanya.
Jika saja Mei Xin tunduk pada aturan Budha dengan bersikap sabar saat kematian Lou, pasti ceritanya beda. Jika saja dia mau berjiwa besar menerima kenyataan bahwa Kamandanu masih mencarinya meskipun telah jelas ada wanita lain di hatinya, pasti ceritanya beda pula.
Jika saja Sakawuni tidak terlalu khawatir akan masa depan anak yang dilahirkannya, tidak takut anaknya diduakan ataupun ditelantarkan oleh Arya Kamandanu setelah ia meninggal, pasti beda ceritanya dan beda pula endingnya.
Setiap telinga dan setiap kepala pasti memiliki pemahaman yang berbeda karena berdiri di sudut pandang yang berbeda. Akan menjadi bijaksana jika menyadari bahwa semua orang tidak harus berada di sudut pandang yang sama dengan kita.
---------
Gambar pemanis hadiah dari om Yoko. Dua tokoh yang paling egois dalam SR TT sehingga jomblo selamanya, ibu Anna Sambayon sebagai Nini Ragarunting dan bapak Mario Kulon sebagai Aki Tamparoang 😂🙏
