ALUR CERITA 4: Pelangi Cinta Kamandanu
MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK SR TT: ALUR CERITA 4
🌈 PELANGI CINTA KAMANDANU
Jika membicarakan judul Tutur Tinular, yang muncul di benak kebanyakan orang adalah tentang perjalanan cinta Arya Kamandanu. Soal konflik pedang naga puspa, intrik politik dari keruntuhan Singasari sampai berdirinya Majapahit, tidak banyak dibahas.
Yang muncul seringnya hanya pendapat dan perdebatan tentang siapa cinta sejatinya Arya Kamandanu. Ada yang berpendapat cinta sejatinya Kamandanu adalah Nariratih, ada yang ngotot seharusnya Mei Xin, tidak sedikit yang punya bukti sandiwara radionya bahwa cinta abadinya Kamandanu adalah Sakawuni dan anaknya. Perdebatan yang tidak lekang oleh zaman dan membuat cerita aslinya justru tenggelam karena kemunculan banyak fandom dan versi adaptasi yang berbeda-beda.
Padahal sebenarnya kisah ini jauh lebih dalam filosofinya daripada sekadar cerita romansa biasa. Tentang perjalanan menuju cinta yang sesungguhnya kepada apapun takdir dari Yang Kuasa melalui banyak perjuangan untuk menjadi pribadi yang bertumbuh karakternya.
Berikut adalah urutan kisah cinta Arya Kamandanu yang benar menurut sandiwara radionya:
1. Arya Kamandanu dan Nariratih – cinta pertama yang gagal.
Kamandanu dan Nariratih putus karena watak Kamandanu yang pemalu, peragu, dan canggung saat bersama wanita. Kamandanu tidak pernah bisa merayu dan merasa tidak memiliki kelebihan apapun, padahal dalam hati ia mengagumi kecantikan Nariratih. Justru Nariratih yang selalu berinisiatif mengajaknya bertemu di tepi Padang Ilalang Desa Kurawan.
Berbeda dengan adiknya, Arya Dwipangga (kakaknya Kamandanu) pandai bersyair, mengerti kitab-kitab sastra, dan digandrungi banyak wanita.
Karena Kamandanu tidak kunjung menyatakan cinta secara eksplisit dan tidak memberikan bukti gairah/emosi (seperti memeluk saat hujan) selama tiga bulan, Nariratih merasa hubungannya dengan Kamandanu tidak ada harapan dan berpaling pada Arya Dwipangga yang mampu memberikan hal itu.
Kamandanu mendapati Nariratih dan Dwipangga beradu mesra hingga melakukan hubungan suami istri dan ketika akhirnya Nariratih hamil, ia menolak ayahnya Nariratih yang menuntutnya untuk bertanggungjawab. Akhirnya Arya Dwipangga mengakui perbuatannya dan iapun menikahi Nariratih.
Kamandanu merasa sakit hati atas pengkhianatan Nariratih dan Dwipangga, ia mengamuk seorang diri saat pesta perkawinan mereka berlangsung dan ditolong oleh mpu Ranubaya yang kemudian menjadi guru olahkanuragannya. Kamandanu ternyata sangat berbakat mendalami ilmu Kanuragan dan dengan cepat menguasai jurus naga puspa hingga tingkat 2. Ia akhirnya pergi mengembara setelah berselisih dengan ayahnya yang melaporkan mpu Ranubaya kepada pemerintah Singasari dengan tuduhan bersikap menentang kepada Singasari. (Episode 1 seri 1 - 30)
2. Arya Kamandanu dan Mei Xin -- hubungan yang ruwet.
Pertemuan pertama mereka terjadi saat Mei Xin mencari daun-daunan untuk mengobati Lou Sishan, suaminya yang terluka. Ia hendak mengambil daun warna ungu yang menjorok ke sungai tapi tidak bisa. Ia lalu melihat seorang pemuda yang kurus tetapi kekar sedang termenung di pinggir sungai dan mengamati pusaran airnya. Pemuda itu ternyata adalah Arya Kamandanu yang telah mengembara selama 5 tahun.
Mei Xin meminta tolong kepadanya tapi Kamandanu bersikap dingin dan terus sibuk memperhatikan pusaran air, ia berpikir tentang masalah hidupnya yang seperti pusaran air, ia tidak langsung menanggapi Mei Xin yang meminta tolong malah berbicara tentang pusaran air, Mei Xin menjadi kesal lalu marah dan mengatakan bahwa Kamandanu sombong dan ia tidak butuh bantuannya lagi.
Mei Xin lalu naik pohon sendiri dan Kamandanu mengamatinya sambil berpikir bahwa apakah kenekatan wanita itu menunjukkan kesetiaan seorang istri, tetapi kemudian ia berpikir bahwa wanita itu ceroboh dan pasti akan jatuh. Begitu ia selesai berpikir, Mei Xin tampak mulai terjatuh ke sungai dan Kamandanu dengan ilmunya baru sigap menolongnya. Mei Xin berterima kasih dengan cara memberikan pendapat bahwa masalah dalam hidup seperti halnya pusaran air di sungai yang pasti hilang dan berganti, ia lalu mengundang Arya Kamandanu untuk menolong Lou juga. (Seri 73)
3. Arya Kamandanu bertemu dengan Lou yang sekarat dan menitipkan Mei Xin padanya untuk dijaga. Semula Arya Kamandanu menolak tetapi ia kasihan dengan keadaan Lou dan Mei Xin yang sebatang kara di negeri asing, maka iapun menyanggupi permintaan Lou. (Seri 77)
4. Lou meninggal, Mei Xin putus asa, dan mau bunuh diri. Ia tidak membolehkan jenazah Lou dikuburkan selama berhari-hari hingga berbau busuk. Ia mengamuk dan bertekad balas dendam kepada mpu Tong Bajil cs namun akhirnya tenaga dalamnya habis tersedot oleh pedang naga puspa dan minta tolong pada Arya Kamandanu, lalu pingsan. Arya Kamandanu lalu membawanya pulang ke Kurawan.
Ia merasa amat kasihan pada nasib Mei Xin yang sebatang kara dan sentuhan fisik saat menggendong Mei Xin yang pingsan membuatnya merasa ada hal yang aneh di dalam hatinya. Iapun merenung apakah ikhlas menolong Mei Xin ataukah ada pamrih. Ia lalu bertekad jika rasa kasihan ya pada Mei Xin yang sangat besar dianggap bahwa ia telah jatuh cinta, ia tidak mengapa. (Seri 78 - 80)
5. Mei Xin tinggal di rumah Arya Kamandanu hampir 2 bulan dan diperlakukan dengan baik meskipun mpu Hanggareksa (ayah Arya Kamandanu) tidak setuju hubungan Arya Kamandanu dengannya dan khawatir jika Mei Xin membawa masalah yang besar di rumahnya. Arya Kamandanu melamar Mei Xin tapi tidak dijawab dan Mei Xin masih terus mengenangkan kematian Lou hingga Kamandanu merasa jengkel tetapi kemudian berjanji untuk menunggu jawaban Mei Xin yang pasti. Mei Xin terkesan tidak sepenuhnya percaya kepada Kamandanu, yang diperkuat dalam suatu adegan di mana Kamandanu mendekapnya untuk bersembunyi dari derap kuda: Mei Xin marah dan menuduh Kamandanu sengaja berusaha menyentuhnya.
(Seri 81 - 83)
6. Mpu Hanggareksa tidak setuju dengan niat Kamandanu mengawini Mei Xin & mau menjodohkan Arya Kamandanu dengan Sariti. Tetapi Sariti sudah punya pacar dan itu berarti Arya Kamandanu harus bertanding dengan pacarnya Sariti. Mei Xin malah membuat masalah dengan keluar dari rumah mpu Hanggareksa dan nonton pertandingan itu sehingga saat kembali ke rumah mpu Hanggareksa, ia diikuti oleh 2 orang yang mencurigainya sebagai orang yang dicari oleh pemerintah Kediri seperti di gambar pengumuman yang tersebar di mana-mana karena ciri-ciri fisiknya mirip sekali. Karena tindakan Mei Xin itu, Arya Kamandanu membunuh 2 orang itu demi melindungi Mei Xin. (Seri 86 - 88)
7. Mpu Hanggareksa marah dengan tindakan Arya Kamandanu yang mengotori tangannya membunuh orang demi wanita yang tidak jelas asal usulnya dan hanya numpang hidup di rumahnya, Mei Xin menguping pembicaraan mereka lalu tersinggung dan pergi tanpa pamit dari rumah Arya Kamandanu. (Seri 89 - 90)
8. Mei Xin pingsan di jalan karena kelaparan dan kehujanan, ditemukan oleh Arya Dwipangga dan dibawa pulang ke rumah pembantunya yang bernama Pamungsu. Pamungsu mempertanyakan niat Dwipangga membawa Mei Xin yang pingsan dan dijawab bahwa ia akan memanfaatkan kecantikan wanita itu. Pamungsu memperingatkan Dwipangga bahwa hal itu akan jadi masalah dengan Nariratih tetapi Dwipangga tetap pada pendiriannya (Seri 91 - 92)
9. Di rumah Pamungsu selama hampir 2 pekan, Mei Xin mendapatkan banyak fasilitas untuk hidup nyaman dan selalu diajak jalan-jalan dan berbalas syair oleh Dwipangga. Mei Xin merasa nyaman dengan keramahan Dwipangga, pelayanan dari Pamungsu dan juga istrinya. Sebenarnya istri Pamungsu sudah berusaha memberitahu Mei Xin bahwa Arya Dwipangga sudah beristri dan sangat mungkin berniat jahat tetapi Mei Xin tidak menghiraukannya.
Dwipangga mengajak Pamungsu untuk mencari cara agar Mei Xin takluk padanya, ia lalu membeli obat yang bisa membuat Mei Xin mabok dengan harga yang sangat mahal 50.000 ringgit.
Pada hari yang direncanakan, Pamungsu dan istrinya pergi ke desa lain dan tinggallah Mei Xin dan Dwipangga berdua saja di rumah Pamungsu. (Seri 93 - 96)
10. Mei Xin percaya sekali pada Dwipangga dan mau minum minuman yang telah dicampur dengan obat yang dibawakan oleh Dwipangga kepadanya dan dikatakan sebagai minuman penyembuh. Setelah meminumnya, Mei Xin merasa kedinginan dan melihat Arya Dwipangga sebagai Lou Sishan sehingga terjadilah hubungan seperti suami istri. (Seri 97).
11. Kamandanu mencari Mei Xin begitu Mei Xin pergi, dia singgah di sebuah kedai minum di desa Jasunwungkal. Ia melihat di kedai itu seorang gadis yang misterius, ia sampai menanyakannya pada pelayan 2x. Setelah gadis itu pergi, iapun segera pergi ke arah yang sama dengan gadis itu dan akhirnya ia mendapati si gadis sedang bertarung dengan Ranggalawe yang sudah dikenalnya.
Saat gadis itu terdesak dan hampir dibunuh oleh Ranggalawe dengan keris megalamat yang terkenal, Kamandanu segera turun dari pohon persembunyiannya dan memintakan ampun si gadis. Akhirnya Ranggalawe membiarkan si gadis itu pergi.
Kamandanu lalu diajak oleh Ranggalawe untuk bergabung menjadi prajurit Majapahit namun ia belum bersedia.
Setelah Ranggalawe pergi, melihat gadis itu di tengah jalan lalu ia berkata, "Hai, bukankah kau gadis aneh yang tadi bertarung dengan Gusti Ranggalawe? Apakah kau akan mengajakku minum semangkuk tuak atau ada hal lain yang kau inginkan dariku? Katakanlah!"
Gadis itu hanya mendengus lalu pergi dan Kamandanu mengejarnya hingga ke tempat persembunyiannya.
Akhirnya ia berhasil mengajak gadis itu berkenalan dan menawarkan persahabatan. Gadis itu bernama Sakawuni, ia pergi diam-diam meninggalkan Kamandanu yang sedang melamun dengan meninggalkan sebuah daun lontar ucapan terimakasih atas pertolongan Kamandanu saat bertarung dengan Ranggalawe dan keinginan untuk membalas budi baiknya Kamandanu.
Kamandanu masih berusaha mengejar Sakawuni begitu mendengar derap kuda yang dikendarai gadis itu namun tidak berhasil. (Seri 98 - 100)
12. Mpu hanggareksa menasehati Arya Kamandanu tentang perkawinan dalam syiwa-budha tetapi Kamandanu menentangnya dan mengatakan bahwa yang terpenting baginya dalam perkawinan adalah cinta yang menjadi dasar bukan aturan kasta yang dibuat oleh manusia. (seri 101)
13. Dwipangga mengajak Mei Xin berjalan-jalan ke atas tebing sungai Kapulungan dan saling bercerita layaknya pasangan yang bahagia berdua. Mei Xin berkata, “Apakah obatnya masih ada, Tuan?”
Dwipangga menjawab, “Obat itu sangat keras reaksinya, Mei Xin. Apa yang kau rasakan setelah meminumnya?”
“Saya merasa kedinginan dan bisa bertemu dengan Lou yang membahagiakan.”
“Bukankah itu menipu diri sendiri?”
“Sesekali kita memang perlu menipu diri sendiri agar bahagia.”
Mei Xin dan Dwipangga akhirnya mengulangi perbuatan yang tidak benar hingga ketahuan oleh penduduk desa yang melaporkan pada kepala desa Manguntur dan ayahnya Dwipangga yang juga ayahnya Kamandanu. (Seri 102)
14. Perbuatan Dwipangga dan Mei Xin ketahuan warga dan dilaporkan hingga ke kepala desa dan Nariratih
jadi tahu jika Dwipangga berselingkuh dengan Mei Xin.
Terjadi keributan antara Nariratih dan Dwipangga hingga Nariratih lari ke rumah mpu Hanggareksa, Dwipangga
menyusul dan bertengkar dengan ayahnya yang membela Nariratih dan berkata kasar juga keras pada ayahnya. Arya Kamandanu tidak terima ayahnya diperlakukan demikian sehingga ia menghajar Dwipangga yang menyebabkan lengan kirinya Dwipangga patah dan cacat. (Seri 103 - 104)
Sang ayah lalu meminta Kamandanu untuk mencari Mei Xin dan mengembalikan Nariratih pada Dwipangga. (Seri 105 - 108)
15. Mei Xin dapat ditemukan oleh Arya Kamandanu di candu Walandit dalam keadaan mabuk dan menganggap Arya Kamandanu adalah Lou Shisan yang akan memenuhi hasratnya. Di kemudian hari Arya Kamandanu mendengar percakapan Mei Xin dan nyi Rongkot yang isinya ternyata Mei Xin telah hamil anaknya Arya Dwipangga. Kamandanu dipaksa oleh ayahnya untuk tetep mengawini Mei Xin seperti keinginan Kamandanu yang semula sebelum Mei Xin pergi dari rumahnya dan hamil. (109 - 113)
16. Perkawinan paksa Kamandanu tetap berjalan tapi ia tidak tenteram dan tidak mau tidur sekamar dengan Mei Xin bahkan pergi meninggalkan rumahnya. Sedangkan Arya Dwipangga berusaha membalas dendam kepada ayah dan adiknya yang telah membuat tangan kirinya cacat. Tidak ada yang menguasai Arya Dwipangga selain dendam sehingga mengabaikan anak istrinya bahkan menewaskan Nariratih pula. (114 - 115 - 121).
17. Selama Arya Kamandanu pergi, rumahnya dihancurkan oleh mpu tong Bajil cs atas laporan dari Dwipangga. Saat Kamandanu kembali, Mei Xin sudah tidak ada, ayahnya tewas dan pembantunya mati terbakar. Arya Kamandanu mendatangi rumah Arya Dwipangga dan mendapatkan Nariratih yang sedang sekarat lalu menitipkan Panji Ketawang untuk diasuh oleh Kamandanu. (122 - 128)
18. Kamandanu dan Panji Ketawang baru berumur 5 tahun lebih, dikepung oleh Mpu tong Bajil cs dan diselamatkan oleh Sakawuni dan ditunjukkan tempat persembunyian yang aman di lereng gunung Arjuna. Sakawuni juga membantunya mendirikan gubug dan mencarikan kuda untuknya.
Kamandanu berpikir bahwa Sakawuni gadis aneh dan apa yang dicari oleh gadis itu.
Ia tidak tidur semalam memandangi Sakawuni hingga Sakawuni menegurnya tapi dijawab dengan menyelidik motivasi Sakawuni mengembara. Kamandanu mengatakan bahwa Sakawuni pasti merindukan seorang laki-laki tapi dijawab oleh Sakawuni bahwa laki-laki adalah makhluk yang paling tidak berharga karena perilaku mereka yang jelek. Kamandanu mengatakan bahwa tidak semua laki-laki seperti itu setidaknya ayahnya Sakawuni pasti sangat menyayangi putrinya yang manis meskipun sedikit nakal.
Karena Kamandanu tidak juga tidur dan terus duduk, Sakawuni meninggalkannya diam-diam dengan pesan pamitan di sebuah daun lontar.
Kamandanu membaca surat Sakawuni berkali-kali dan memandangi kepergian Sakawuni yang menunggang kuda di kejauhan. (128 - 134)
19. Setelah beberapa bulan, Kamandanu dipertemukan dengan Mei Xin oleh Nini Ragarunting. Selama 7 hari bersama, Kamandanu selalu berusaha menghindari Mei Xin lalu pergi meninggalkan Mei Xin lagi dengan meninggalkan sebuah pesan pamitan di daun lontar yang dititipkan pada Panji Ketawang (176 - 180)
20. Kamandanu kembali diserang oleh mpu Tong Bajil cs yang ingin merebut pedang naga puspa dari tangannya hingga terluka parah dan kembali ditolong oleh Sakawuni, hingga diobatkan ke mana-mana. Banyak pengalaman yang dilalui mereka berdua ketika usaha mencari obat di antaranya adalah bertemu dengan :
- tabib Ki Damalang yang suka berjudi menjadi sadar setelah anaknya yang bernama Talitali hendak dikorbankan untuk melunasi hutang judinya pada Ki Surabaya dapat diselamatkan oleh Sakawuni dengan menggunakan kecantikan dan kepandaian kanuragannya untuk melawan Ki Surabaya. Talitali merasa hidupnya dihargai sungguh-sungguh sebagai manusia oleh Sakawuni dan berandai-andai jika Kamandanu dan Sakawuni tinggal lebih lama di desanya ia akan bisa banyak belajar dari mereka berdua,
- tabib nyi Tumpakseti yang mengatakan bahwa mereka berdua lebih cocok sebagai pasangan suami istri atau kekasih dan mengajarkan kepada Sakawuni apa arti cinta dan cemburu karena gadis itu masih sangat polos. Ia juga mengatakan bahwa sikap Sakawuni akan tergantung bagaimana sikap Kamandanu saat Kamandanu terus menerus menanyakan keberadaan Sakawuni yang tidak dilihatnya seharian dan mengkhawatirkannya.
- Kamandanu yang putus asa dan minta ditinggalkan oleh Sakawuni, ia pingsan berkali-kali dan merasa baru pertama kali hidupnya dihargai oleh seorang gadis.
- Ki Sugata Brahma, kakeknya Sakawuni, seorang pendekar tua yang sangat bijaksana membesarkan cucunya seorang diri dan penuh kasih sayang dan kehangatan kepada Kamandanu.
- Dewi Tunjungbiru tabib yang bisa mengobati Kamandanu dan ternyata adalah ibu kandungnya Sakawuni
(184 - episode 7 selesai)
21. Kamandanu tidak pernah bercerita pada Sakawuni bahwa ia punya istri meskipun ditanyakan oleh Sakawuni berulang kali. (Episode 7)
22. Setelah sembuh Kamandanu disusul oleh Nini Ragarunting agar kembali pada Mei Xin yang mau melahirkan. Kamandanu merasa berat meninggalkan Sakawuni bahkan hingga terbawa mimpi. Ia ingat Mei Xin dan Panji Ketawang, keponakannya yang ditinggalkannya dan merasa kasihan pada mereka. Tetapi bayangan Sakawuni tidak bisa diabaikannya.
Sakawuni diserang pula oleh Nini ragarunting dan dijelek-jelekkan dengan kata gadis gatal. (Episode 8)
23. Sakawuni yang merasa diinjak harga dirinya oleh Kamandanu lalu marah dan ingin membunuhnya tapi Kamandanu diselamatkan oleh kakeknya Sakawuni yang membiarkannya pergi. Sebelum pergi, Kamandanu berjanji pada kakeknya Sakawuni bahwa ia pasti membalas kebaikan Sakawuni. (Episode 8)
24. Kamandanu kembali pada Mei Xin, ia tidak mau masuk ke dalam gubug sampai dengan dibujuk oleh aku Tamparoang untuk berbesar hati menerima Mei Xin. Hari-hari berikutnya ia suka tidur di luar gubug dan marah-marah terus. Ia juga ingat pada Sakawuni dan bertanya dalam hati bagaimana keadaan gadis itu. Ia berandai-andai jika sebelumnya ia jujur kepada Sakawuni sejak awal.
Akhirnya ia memilih pergi ke Majapahit untuk menjadi prajurit sesuai dengan ajakan Ranggalawe dahulu. (Episode 8)
25. Sakawuni dikejar oleh mpu Tong Bajil cs hingga kakeknya terbunuh dan ia kembali pada ibunya yang ahli pengobatan dalam keadaan terluka akibat aji tapak wisa milik Dewi Sambi.
Setelah sembuh ia hendak menemui Kamandanu untuk membalas dendam namun hanya bertemu Mei Xin.
Akhirnya setelah mendengar cerita dari Mei Xin, ia memutuskan untuk membantu Mei Xin bersatu dengan Kamandanu. Ia lalu pergi ke Majapahit untuk membalas dendam kepada ayah kandungnya yang telah menghamili ibunya lalu menelantarkannya bahkan belum pernah ia lihat sebelumnya sejak lahir. (Episode 8)
26. Sakawuni berhasil berdamai dengan ayahnya, seorang punggawa Singasari yang ikut pindah ke Majapahit. Ia lalu menjadi prajurit Majapahit juga bersama ayahnya dan Kamandanu atas permintaan langsung dari Raden Wijaya, pemimpin Majapahit.
Ia lalu mendorong Kamandanu pulang kepada Mei Xin tapi nasib memisahkan Mei Xin dan Kamandanu. Tubuh Mei Xin yang terluka parah oleh Dewi Sambi itu hilang diculik oleh tabib Wong.
Sakawuni mengajak Kamandanu mencarinya tetapi Kamandanu berkata, "Apa masih ada gunanya kita mencarinya, Wuni?"
Sakawuni bertekad mencari Mei Xin sendiri sehingga Kamandanu mengikutinya. Setelah 3 hari 3 malam mencari dan tidak menemukan tubuh Mei Xin, mereka akhirnya kembali ke Majapahit dan ikut bergabung untuk menyerang ke Kediri. (Episode 9)
27. Sakawuni ditugaskan bersama Kamandanu dalam perang melawan Kediri, melawan pengusiran tentara tentara Tartar, penumpas pemberontakan Ranggalawe dan menumpas kaum perusuh pimpinan Tong Bajil cs.
Mereka bahu membahu melaksanakan tugas dan saling melindungi. Ketika ayah Sakawuni meninggal karena luka saat melawan Kediri, Kamandanu dengan setia mendampingi dan membesarkan hati Sakawuni.
Ketika pedang naga puspa jatuh ke tangan mpu Tong Bajil dan menjadi malapetaka untuk Majapahit, Sakawuni membantu Kamandanu untuk merebut kembali pedangnya sehingga berhasil menumpas gerombolan perusuh pimpinan mpu Tong Bajil dan Dewi Sambi (Episode 9 - 15)
28. Sakawuni dijodohkan dengan Kamandanu oleh sang Prabu. Kamandanu langsung setuju dan berusaha melamar Sakawuni secara halus. Tapi Sakawuni menolak dan justru mengajak Kamandanu mencari Mei Xin. (Seri 427)
29. Mei Xin berhasil ditemukan tetapi tidak mau mengakui Kamandanu sebagai suaminya. Malah membiarkan Kamandanu dipukuli oleh Mahwang di depan banyak orang di pasar ikan Tuban sampai Sakawuni menolongnya dengan memintakan maaf kepada Mahwang. (Episode 15)
30. Setelah kejadian di pasar ikan Tuban, Kamandanu memutuskan untuk berhenti mencari Mei Xin dan kembali ke Majapahit namun ia kembali pada soal lamarannya terhadap Sakawuni. Kamandanu mengamuk dengan menghancurkan tebing-tebing karena Sakawuni tetap menolak lamarannya meskipun Mei Xin sudah jelas tidak mau mengakui Kamandanu sebagai suaminya. Kamandanu berkata bahwa ia merasa tidak berharga dan ingin hancur bersama dengan semuanya. (Seri 445 - 447)
31. Karena kemarahan Kamandanu dan ia merasa tidak enak jika mengecewakan sebagai sahabat, Sakawuni mengatakan ketersinggungannya karena Kamandanu melamarnya di jalan seperti ayam. Ia lalu mengatakan bahwa ia akan menerima lamaran Kamandanu jika ibunya setuju dengan hubungan mereka berdua.
Sakawuni menuruti keputusan ibunya yang menerima lamarannya Kamandanu dan mereka akhirnya menikah (seri 448 - 450) dan berbahagia selama pernikahan meskipun awalnya Sakawuni merasa tidak pernah dicintai oleh Kamandanu dan hanya dijadikan pelarian dari masalahnya dengan Mei Xin. (Episode 16 - 24 tamat)
32. Sang Prabu jatuh sakit, semua pejabat diwajibkan mencari tabib. Kamandanu mengajak Sakawuni menemui ibunya di bukit Penampihan yang juga seorang tabib besar. Dari semedi ibunya itu, Kamandanu dan Sakawuni mengetahui bahwa akan ada tabib besar yang datang ke Majapahit untuk mengobati sang Prabu.
Setelah sampai di Majapahit, Kamandanu diberitahu oleh Panji Ketawang bahwa tabib yang mengobati sang Prabu bernama nyai Paricara alias Mei Xin.
Arya Kamandanu lalu bermaksud menyampaikan hal itu pada Sakawuni tapi Sakawuni telah tertidur pulas dan akhirnya Kamandanu mengejar tabib nyai Paricara seorang diri hingga ke desa Tebu.
Ketika ditemui, nyai Paricara sedang dalam masalah dengan Rawedeng dan Kamandanu menolongnya. Ia lalu bertanya kepastian bahwa nyai Paricara adalah Mei Xin bekas istrinya dahulu. Tetapi wanita itu terus mengelak meski Kamandanu mendesak dan menjelaskan bahwa maksudnya hanya untuk meminta maaf karena dulu telah tega meninggalkan Mei Xin seorang diri di lereng gunung Arjuna yang sepi sehingga Mei Xin celaka oleh Dewi Sambi, ia tidak berharap lagi pada Mei Xin karena sudah memiliki seorang istri.
Nyai Paricara masih terus mengelak meski Kamandanu mencoba menggunakan kekerasan tapi tetap tidak berhasil karena Mei Xin alias nyai Paricara menguasai ilmu kabegjan.
Akhirnya Kamandanu ingat bahwa sejak dulu Mei Xin selalu menghinakan harga dirinya, sejak pertama kali dilamar olehnya pun tidak mau menjawab. Ia pun meninggalkan nyai Paricara dan segera pulang menemui Sakawuni.
Ia menceritakan kepada Sakawuni tentang nyai Paricara, Sakawuni mengerti dan bersedia membantu untuk menyelidikinya tetapi Kamandanu mengatakan tidak perlu lagi dan yang penting mendoakan semoga Mei Xin bahagia. (Seri 578 - 580)
33. Setelah hampir 13 tahun menikah, mereka dikaruniai anak spesial yang seluruh kulit tubuhnya bahkan wajahnya bersisik naga hitam akibat ilmu naga puspa Kresna yang dimiliki oleh Kamandanu. (Episode 24)
Sakawuni akhirnya meninggal karena kehabisan darah saat melahirkan. Sebelum meninggal ia meminta kepastian pada Kamandanu tentang rencana hidupnya apabila ia meninggal. Kamandanu menjawab akan hidup berdua saja dengan anak mereka.(episode 24)
34. Sakawuni lalu meminta kepada Mei Xin -- yang telah menyamar sebagai nyai Paricara dan menjadi tabib undangan istana -- agar tidak kembali kepada Kamandanu. Dengan berat hati dan kebohongan Mei Xin mengatakan iya. Namun akhirnya nanti Mei Xin tidak menepati janjinya pada Sakawuni. (Episode 24)
35. Sakawuni meninggal di pelukan Kamandanu setelah berpesan agar anaknya tidak disia-siakan dan diberikan pendidikan terbaik oleh Kamandanu. Ia dimakamkan di bukit penampilan tempat kediaman ibunya di samping makam ayahnya.
Kamandanu hampir setengah gila sejak kematian Sakawuni, ia terus berdiam diri di samping jasad Sakawuni, tidak menghiraukan nasihat Mei Xin kecuali setelah Patih Nambi mengingatkannya akan masa depan anaknya. Ia mengatakan pada Patih Nambi bahwa ia tidak dapat melupakan masa-masa malang melintang berdua dengan Sakawuni di dunia persilatan.
Ia juga menolak permintaan ibunya Sakawuni agar bayinya dirawat dan dibesarkan di bukit Penampihan saja, ia mengatakan bayi itu adalah pelipur laranya kehilangan Sakawuni.
Sebelum kembali ke Majapahit, ia bersujud dan memeluk makam Sakawuni dan berjanji bahwa ia akan sungguh membesarkan anak Sakawuni seorang diri sebagai tanda cintanya pada Sakawuni dan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah (Episode 24)
36. Kamandanu memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai panglima perang Majapahit dan menjadi pertapa dengan membesarkan anaknya seorang diri di gunung Arjuna. Ia menitipkan Panji Ketawang keponakannya yang diasuhnya dan sudah dewasa kepada Ramapati. (Episode 24)
37. Saat berangkat ke gunung Arjuna dengan menggendong bayinya, Mei Xin menghadang Kamandanu di pertigaan jalan Kotaraja Majapahit dan menawarkan untuk menjadi ibu sambung bagi bayinya tetapi Kamandanu menolaknya dan tetap pada tujuannya. Kamandanu meminta maaf pada Mei Xin dan mengatakan semuanya hanyalah masa lalu, ia menggebrak kudanya meninggalkan Mei Xin tanpa menoleh lagi dan fokus pada masa depan putranya. Dalam perjalanan ia beristirahat di sebuah goa dan bermimpi Sakawuni datang menemuinya dan anaknya. Ia berjanji pada Sakawuni untuk tidak mengkhawatirkan anaknya dan ia merasa bahagia karena cinta kasih mereka berdua abadi tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Sakawuni meminta izin kepada kamandanu untuk datang setiap kali hatinya rindu. Setelah bangun, Kamandanu mengulangi janjinya bahwa ia tidak akan menduakan cinta Sakawuni dan oleh karena itu Sakawuni dan fokus pada putranya harus tenang di alamnya sana. (Episode 24 seri 717 - 718)
Kamandanu menancapkan pedang naga puspa di dinding cadas sebuah celah goa sempit yang gelap dan posisinya sulit dijangkau oleh manusia biasa. Ia mengucapkan selamat tinggal pada sahabatnya itu. Dan melanjutkan perjalanan namun bayinya jatuh ke dalam jurang dan ditemukan dalam pangkuan seorang pemuda yang bernama Gajahmada. Gajahmada sangat mengagumi bayi Kamandanu dan baru mengembalikan bayi itu setelah Kamandanu jujur kepadanya tentang identitasnya. Di sekuel ketiga yang berjudul Satria Kekasih Dewa (sayangnya tidak jadi disiarkan) diceritakan bayi Kamandanu tumbuh menjadi tangan kanan Gajahmada dalam mempersatukan Nusantara. (719 - 720 tamat).
38. Mei Xin menangisi keputusan Kamandanu dan pulang ke pantai Tuban. Di perjalanan ia menemukan tubuh Dwipangga yang pingsan di tengah jalan dan kehujanan. Ia pun menolongnya. (Episode 1 Mahkota Mayangkara)
Di judul Mahkota Mayangkara (sekuel Tutur Tinular), Mei Xin menikah dengan Dwipangga atas permintaan Ayu Wandira (anak kandung mereka) dan akhirnya meninggal saat ada wabah penyakit melanda desa yang ia kunjungi sebagai tabib. Sebelum meninggal, Mei Xin sempat saling memaafkan dengan Dwipangga. (Episode 8 Mahkota Mayangkara)
🎵 Bonus Bukti Karya Asli
“Pelangi Cinta Kamandanu” juga merupakan judul lagu yang dinyanyikan oleh para pengisi suara asli:
Ferry Fadli (suara Arya Kamandanu)
Yvonne Rose (suara Mei Xin dan Sakawuni)
Lily Nur Indah Sari (suara Nariratih)
Lagi ini liriknya ditulis oleh S.Tidjab dan melodinya oleh Cecep AS dirilis pada 1990 di bawah label rekaman Blackboard. Dengan demikian isi dalam lagi merupakan klaim otentik alur cerita yang sebenarnya.
Unggahan lagu memori Pelangi Cinta Kamandanu bisa didengarkan di channel YouTube Agung Soedjono
Sumber: halaman FB Suka Sandiwara Radio Jadul (milik saya sendiri untuk publikasi kurasi sandiwara radio)