Lamaran Terus Ditolak, Pedang Bertindak

Scene Terpilih : Episode 15 Kisah Seorang Prajurit Pelarian Seri 427, 448 - 450


Diceritakan bahwa Kamandanu sudah mencoba bersabar terhadap sikap Sakawuni. Dia melamar dengan halus di seri 427 tapi ditolak, Kamandanu bersabar. Sakawuni malah mengajak mencari Mei Xin, Kamandanu mengikuti saja sampai terbukti Mei Xin sudah tidak mau mengakui Kamandanu sebagai suaminya. 


Kamandanu melamarnya lagi dengan tegas dalam perjalanan kembali ke Majapahit. Kamandanu berkata, "Bagaimana seandainya aku melamarmu?"

"Apa? Kau mau melamar aku? Sakawuni? Enak saja!"

"Aku bersungguh-sungguh, Wuni. Jawablah lamaranku ini."

"Baik, aku akan menjawabnya. Tadi kau katakan bagaimana seandainya aku melamarmu. Nah, sekarang jawabannya adalah bagaimana seandainya aku menolak lamaranku."

"Keterlaluan, dalam keadaan seperti ini kau masih bisa bercanda."

"Aku rasa lamaranmu itu tidak tulus, Kamandanu. Kau melamarku hanya untuk menyenangkan Gusti Prabu, itu sama sekali tidak lucu."

"Jangan begitu, Wuni!"

"Sudah, sudah, aku tidak mau membicarakan masalah ini lagi, kita ini sahabat dan selamanya kita akan tetap menjadi sahabat. Aku rasa begitu lebih baik."


Narator berkata bahwa Arya Kamandanu kembali merasa sangat terpukul karena lamarannya ditolak oleh Sakawuni, bagaimana bisa gadis itu menolaknya sedangkan ia tahu Sakawuni mencintainya atau setidaknya pernah mencintaimu. Karena penasaran, keesokan harinya, Arya Kamandanu mengulangi lamarannya (untuk ketiga kalinya).


Di dalam sandiwara radionya seri 447 - 448, pagi hari Sakawuni sedang merapikan rambutnya lalu Kamandanu bilang, 


"Kau cantik" 


"Apa?" 


"Dengan pakaian seperti itu dan rambut sedikit acak-acakan kau terlihat lebih cantik."

"Hhhh, apa?" 


"Ya, tentu saja kau cantik. Ibumu Ayu Pupuh adalah wanita yang anggun dan cantik sedangkan ayahmu Gusti Banyak Kapuk adalah seorang perwira yang gagah perkasa."

"Daripada kau ngoceh ngalor ngidul tak karuan lebih baik kau siapkan kuda. Ayo kita berangkat, aku sudah siap." 


"Tunggu, kau pikir aku main-main? Mengapa sikapmu jadi tidak bersahabat kalau aku memujimu cantik?"

"Kamandanu kau ini laki-laki yang lugu, kau tidak bisa merayu wanita. Kau tampak aneh ketika sedang merayu, lebih baik kau bersikap biasa-biasa saja. Kau tampak gagah dan berwibawa jika bersikap biasa-biasa saja. Ayo, kita berangkat!"


Narator berkata, "Arya Kamandanu menjadi sangat kesal namun tidak ada pilihan lain selain Sakawuni berangkat berkuda. Ia semakin kesal karena Sakawuni terlihat tetap biasa-biasa saja" 





"Hai, lihat Kamandanu. Luar biasa pemandangannya, sungai kapulungan tampak berkelok-kelok. Bagaimana pendapatmu?"

"Terserah kau sajalah, aku tidak punya pendapat " 


"Hai, ada apa denganmu? Kau marah ya?" 


"Tidak, aku hanya kesal." 


"Siapa yang kau kesalkan?" 


"Aku kesal pada diriku sendiri. Kau tidak perlu khawatir."

"Kesal pada diri sendiri itu tidak baik, Kamandanu." 


"Biar saja tidak baik, apa pedulimu?" 


"Aduh, gawat. Kalau begini gawat, lebih baik ayo kita lanjutkan perjalanan. Hiya, hiya,,,,"


Setelah percakapan itu tadi Sakawuni terus berkuda lalu tiba-tiba dia sadar sendiri. 


" Di mana Kamandanu? Kok dia belum sampai ke sini? Seharusnya dia sudah sampai. Ahh aku tahu dia pasti bersembunyi, dia memang canggung kalau berhadapan dengan wanita.

Atau mungkin dia tersesat jalan, aku memang terlalu cepat berkudanya. Kurang asem, aku harus kembali lagi." 


Narator : Arya kamandanu memang tidak mengikuti arah Sakawuni berkuda. Ia mencari jalan lain. Ia belum bisa menguasai dirinya karena lamarannya ditolak oleh Sakawuni, ia merasa marah, kesal, kecewa dan ditelanjangi oleh Sakawuni.


Gambar kolase lukisan wajah tokoh Sakawuni di sampul kaset sandiwara radio Tutur Tinular dan foto pemerannya, Ivonne Rose Pattiapon pada tahun 1989, sumber: koleksi pribadi 


Dan sesampainya di kaki perbukitan untuk melampiaskan segala rasa yang ada dia mencabut pedang naga puspa dan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam naga puspa kresna yang bersemayam dalam dirinya. 


Gambar ilustrasi Arya Kamandanu mengamuk dan menghancurkan tebing-tebing karena lamarannya ditolak oleh Sakawuni, sumber: Google Gemini 


Hiyaaaa,,,, duarrr


"Hentikan, Kamandanu! Apa salahnya tebing-tebing itu hingga kau hancurkan?" 


"Entahlah, aku kesal. Biar semuanya hancur dan akupun ikut hancur pula. Benar-benar aku tidak berharga." 


"Siapa yang bilang?" 


"Aku"


"Hhhh, kau bodoh. Kau picik. Gerombolan kaum perusuh saja bisa kau tumpas, tapi menghadapi persoalan sepele saja kau sudah kalang kabut. Di mana letak keberanianmu? Apa yang sebenarnya kau inginkan Kamandanu? Aku? Sakawuni? Diriku ini apanya yang kau inginkan? Hatiku? Cintaku? Tubuhku? Atau apanya?" 


"Terus terang saja, benarkah kau menolak lamaranku?"


“Kamandanu kok ini bagaimana, Aku ini wanita, aku tidak bisa menerima lamaranmu begitu saja. Sekalipun masa mudaku ugal-ugalan, menjadi gadis jalanan, mengembara kesana kemari, tetap saja aku ini seorang wanita. Bagi seorang gadis sekali salah langkah bisa berakibat fatal.”


“Jadi bagaimana, aku mau kepastianmu sebelum sampai di Majapahit!”


“Baiklah, Kamandanu karena kita sudah lama bersahabat aku akan memikirkan masalah ini masak-masak. Beri aku waktu bareng semalam untuk memikirkannya, Kamandanu!”


Malam harinya Sakawuni tidak bisa tidur karena memikirkan jawaban apa yang akan diberikannya kepada Kamandanu. Ia merenung dan merasa harga dirinya direndahkan karena harus menjadi pelariannya Arya Kamandanu setelah Kamandanu memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan mencari Mei Xin. Arya Kamandanu pun tidak bisa tidur ia teringat dengan semua masa lalunya yang pedih mulai dari ibunya yang meninggal saat ia masih kecil, Nariratih yang menghianatinya bersama Arya Dwipangga hingga Mei Xin yang tidak bisa ditemukan, ia gelisah.


Keesokan harinya, 

“Ah Wuni, Aku sudah lama sekali menunggumu. Wajahmu tampak berseri-seri.”


“Begitu? Padahal semalaman aku hampir saja tidak tidur, yah terus terang saja, Aku memikirkan soal lamaran itu.”


“Oh, maafkan aku telah membuatmu tidak bisa tidur. Aku juga tidak bisa tidur. Jadi bagaimana kalau sudah bisa memberiku kepastian sekarang?”


“Marilah kita bicarakan masalah ini dengan baik-baik dankepala dingin, Kamandanu. Sebenarnya bukan soal kepastian itu, tapi aku merasa tersinggung.”


“Tersinggung, mengapa?”


“Ya coba saja kau pikirkan. Aku ini wanita baik-baik, aku juga seorang pendekar yang bekerja sebagai prajurit Majapahit. Aku juga masih memiliki orang tua. Tapi tega sekali kau melamarku di jalanan seperti ayam.”


“Ah maafkan Aku, Aku tidak bermaksud untuk tidak menghargaimu tapi aku pikir kita ini sudah lama bersahabat.”


“Ya baiklah alasanmu aku terima. Tapi menyesal sekali soal kepastian itu aku belum bisa memberikannya sekarang.”


“Mengapa? Kalau kau memang ingin menolakku, katakan saja! Aku tidak apa-apa.”


“Aku heran Kamandanu, Bagaimana mungkin kau ingin mengawini wanita yang tidak pernah kau cintai sama sekali, apa kau tidak akan menyesal? Bagaimanapun rumah tangga tanpa cinta akan mudah goyah.”


“Tidak! Aku tidak akan menyesal.”


“Bagaimana mungkin tidak, pikirkan dulu baik-baik!”


“Aku sudah memikirkannya, aku akan mengikuti jejak Paman Sora. Aku akan belajar mencintaimu. Aku yakin aku akan berhasil. Percayalah, Wuni! Kita pasti akan berhasil.”


“Ya baiklah kalau begitu, sekarang begini saja. Ayo kita temui ibuku di puncak bukit Penampihan. Kau bisa mengatakan lamaranmu sekali lagi di hadapan beliau. Dan aku juga akan membicarakan masalah ini dengan ibu. Kalau ibuku setuju dengan hubungan kita ini, barulah aku bisa memberikan kepastian kepadamu. Artinya lamaranmu kuterima.”