Pesan 5: Cinta adalah Kepercayaan
MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK SR TT PESAN 5 : CINTA ADALAH KEPERCAYAAN
Dalam psikologi, repetisi atau pengulangan merupakan cara terbaik untuk menanamkan informasi ke dalam memori dan membentuk kesan, menanamkan pesan sehingga berbuah pada suatu tingkah laku atau kebiasaan yang baru.
Tidak peduli apakah hal yang diulang-ulang itu adalah hal yang buruk ataupun baik, hasil pengulangan akan sama kuatnya dalam memori. Bahkan sebuah miskonsepsi pun bisa tampak sebagai konsep yang lurus jika diulang-ulang ditampilkan.
Hal ini biasa digunakan dalam propaganda kebijakan politik atau strategi pemasaran.
Nah, sekarang apa kesan dan pesan yang terbentuk jika scene ini ditampilkan berulang-ulang hingga 720 kali pemutaran dari 720 seri sandiwara radio Tutur Tinular?
----
"Kuberi nama pedang ini naga puspa, selamatkan dia jangan sampai jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat."
----
"Owh kakang Kamandanu, kau,,, kau,,, masih saja tidak percaya bahwa aku,,, aku mencintaimu."
"Mei Xin,,,"
----
"Awas kakang,,,"
----
Cuplikan adegan yang diulang-ulang sebagai intro sandiwara radio Tutur Tinular di atas adalah inti cerita bagian fiksi sandiwara radio Tutur Tinular yang sebenarnya simpel saja.
Pertama tentang perjalanan pedang naga puspa dan yang kedua adalah unsur romansa pemanis cerita namun yang berulang kali dibicarakan, diulang bahkan diperdebatkan oleh pendengar sandiwara radio Tutur Tinular hingga sekarang meskipun sandiwara radio ini telah selesai tayang 34 tahun lalu.
Bahkan perdebatannya sampai memunculkan banyak grup di medsos, benar-benar fanwar antarfandom yang tidak kalah seru dari fanwar antarfandom K-POP zaman now. 😂
Baiklah kembali lagi efek repetisi scene pada intro sandiwara radio Tutur Tinular tadi. Tanpa mendengarkan seluruh cerita dan alurnya scene tersebut menimbulkan ingatan yang mendalam di kepala para pendengar. Tentu ingatan dengan Interpretasi yang dibentuk oleh masing-masing individu dengan pemahaman yang berbeda-beda.
Kalimat yang disebutkan oleh Mei Xin memberikan pesan yang jelas bahwa ada masalah hilangnya kepercayaan antara Mei Xin dan Kamandanu yang membuat hubungan menjadi berakhir menyakitkan yang dapat didengar dari nada panggilan nama Mei Xin yang disuarakan oleh Arya Kamandanu.
Namun suara isak tangis Mei Xin dan nada melehoy Arya Kamandanu menyebut nama Mei Xin, mengalahkan pesan inti dalam kalimat yang disebutkan oleh Mei Xin tersebut. Yang tertangkap oleh telinga hanyalah kesan bahwa menyakitkan karena tidak bisa bersatu.
Lalu muncullah suara Sakawuni yang memberikan peringatan singkat, "Awas kakang,,," Lengkaplah sudah kesan yang terbangun bahwa Mei Xin dan Kamandanu adalah tokoh utama yang tidak bisa bersatu karena munculnya orang baru. Kesan ini amat kuat karena diulang-ulang. Apalagi jika mendengarkan sandiwara radionya sepotong-sepotong sehingga tidak tahu detail cerita yang sesungguhnya. Akibatnya kesan yang terbangun bahwa Kamandanu dan Mei Xin berpisah karena ada orang ketiga itu tampak benar.
Padahal kalau kita mengikuti ceritanya dengan sungguh-sungguh, perpisahan Mei Xin dengan kamandanu BUKAN KARENA orang ketiga. Tapi karena memang hilangnya kepercayaan di antara mereka berdua. Sejak awal Mei Xin tidak cukup percaya pada niat baik Kamandanu untuk mengawininya sehingga ia pergi diam-diam dari rumah mpu Hanggareksa. Dan Kamandanu pun akhirnya tidak bisa lagi percaya pada Mei Xin setelah terbukti Mei Xin hamil dengan Arya Dwipangga.
Masa berlalu, munculnya tokoh Sakawuni yang digambarkan dengan kalimat singkat "Awas kakang" setelah semua hal di atas berlalu. Ia hanyalah tokoh baru yang menemukan Kamandanu dalam luka lahir batin kemudian menolongnya dan selalu mendampinginya untuk memberikan peringatan kewaspadaan dalam setiap langkah kamandanu berikutnya.
-----
Meskipun cinta dan kepercayaan adalah dua hal yang berbeda, keduanya saling melengkapi dan terjalin erat. Tanpa kepercayaan, cinta bisa sulit bertahan, terasa rapuh bahkan hilang. Inilah hal yang disampaikan oleh penulis Tutur Tinular lewat pola hubungan Mei Xin dan Arya Kamandanu yang kandas.
Jika cinta diibaratkan sebuah bangunan, maka kepercayaan adalah pondasinya. Semakin kuat pondasinya, semakin kokoh dan tahan lama bangunannya. Tanpa kepercayaan, hubungan akan selalu diliputi keraguan, kecurigaan, dan ketidakamanan.
Kepercayaan memungkinkan pasangan untuk bersikap rentan di hadapan satu sama lain. Dengan percaya, seseorang akan merasa aman untuk menunjukkan diri mereka yang sebenarnya, termasuk kekurangan, ketakutan, dan ketidakamanan. Kerentanan ini memperdalam keintiman emosional dalam hubungan.
Kepercayaan dibangun dari tindakan yang konsisten, kejujuran, dan keandalan. Ketika pasangan dapat diandalkan dan menepati janji, ini menciptakan rasa aman dan keyakinan bahwa mereka akan selalu ada di saat-saat baik maupun buruk.
Kepercayaan menyingkirkan kekhawatiran dan kecurigaan yang tidak perlu. Dengan adanya kepercayaan, pasangan dapat menikmati hubungan dengan tenang dan nyaman, tanpa perlu terus-menerus memantau atau mempertanyakan niat pasangannya.
Jadi, meskipun cinta tidak secara harfiah sama dengan kepercayaan, keduanya memiliki kaitan yang sangat kuat. Banyak ahli sepakat bahwa kepercayaan adalah komponen penting yang membuat cinta menjadi kuat, sehat, dan langgeng.
Hilangnya kepercayaan dari Arya Kamandanu terhadap Mei Xin adalah satu-satunya penyebab kehancuran hubungan mereka jika dirunut dalam ceritanya dan jelas disebutkan dalam penggalan opening sandiwara radionya.
Bisa dipahami mengapa Mei Xin lebih memilih untuk bersembunyi di balik topeng nyai Paricara daripada mengaku bahwa ia adalah Mei Xin. Masalahnya, seperti halnya Arya Kamandanu tidak mempercayainya, iapun kehilangan kepercayaan atas perkawinannya. Dan hal itu wajar saja karena Arya Kamandanu telah 3 kali sengaja meninggalkannya setelah upacara perkawinan, sehingga ia tetap saja sendirian dalam menjalani nasibnya.
Pertama, ditinggalkan di rumah mpu Hanggareksa di Kurawan sampai ada pasukan Tong Bajil cs yang menewaskan mpu Hanggareksa dan Mei Xin terpaksa pergi dari rumah itu dan menggelandang. Itupun tidak dicari oleh Arya Kamandanu sehingga ditolong oleh Nini Ragarunting dan dipertemukan lagi dengan Arya Kamandanu.
Kedua, baru 7 hari bertemu dan bersama lagi, kembali ditinggalkan, kali ini di lereng gunung Arjuna bersama Panji Ketawang. Padahal dalam keadaan hamil besar sehingga kembali dikasihani oleh Nini Ragarunting yang dengan sukarela mencari Arya Kamandanu agar kembali pada Mei Xin. Kalau tidak dicari oleh Nini Ragarunting, pasti tidak kembali karena begitu ditolong oleh Sakawuni, ia lupa statusnya telah beristri dan sengaja tidak mengatakannya pada Sakawuni.
Ketiga, ditinggalkan lagi di lereng gunung Arjuna bersama bayi Ayu Wandira dan Panji Ketawang sampai Mei Xin jatuh ke jurang saat berusaha seorang diri melawan Dewi Sambi dan pasukannya yang datang menyerang. Itupun setelahnya Arya Kamandanu tidak mau juga mencarinya kecuali setelah Sakawuni yang memintanya.
Jadi, daripada terluka lagi Mei Xin merasa lebih baik melakukan tindakan ghosthing saja. Dengan kata lain, Mei Xin tidak percaya pada tujuan Arya Kamandanu mencarinya hingga ke pantai Tuban. Dan memang nyatanya Arya Kamandanu mencarinya hanya karena permintaan dari Sakawuni yang terus menolaknya.
Perkara berikutnya Arya Kamandanu merasa berdosa atas tindakannya meninggalkan Mei Xin di masa lalu ya itu sudah seharusnya terjadi. Kalau tidak mau menerima apa adanya, mengapa memberikan harapan dengan tetap mau mengawini dalam upacara? Seharusnya tegas menolak permintaan ayahnya karena menolong tidak harus mengawini.
Mengapa harus jadi manusia plin plan dan pengecut kalau masih mencintai ego dan harga dirinya sebagai laki-laki jauh lebih tinggi dari rasa kasihannya pada Mei Xin?
Dihantui rasa bersalah adalah konsekuensi yang harus dipikul oleh Arya Kamandanu atas sikap plin plan yang diambilnya sendiri. Perkara ia jatuh cinta pada Sakawuni dan ingin memiliki yang original itu wajar, tapi bahwa ia telah bertindak tidak bijaksana dalam hubungannya dengan Mei Xin di masa lalu adalah hal yang wajar meninggalkan rasa bersalah di hatinya.
Di samping juga tindakan ghosthing yang diambil oleh Mei Xin seakan telah menutup peluang baginya untuk meminta maaf atas kesalahannya.
Kepercayaan adalah bagian terpenting dari cinta, jika tidak ada lagi kepercayaan jangan pernah mencoba untuk mempermainkan perkawinan atas nama cinta apalagi rasa kasihan.
Jadi sekali lagi, kehancuran hubungan Arya Kamandanu dan Mei Xin adalah disebabkan oleh hilangnya kepercayaan di antara mereka sendiri bukan karena pihak ketiga.
Masih ada yang berpendapat bahwa Sakawuni adalah pelakor yang menyebabkan kehancuran hubungan Arya Kamandanu dan Mei Xin? Tidak apa, karena efek repetisi tidak mudah dihilangkan, kekacauan kognitif yang sudah terlanjur terasimilasi dan terakomodasi menjadi pengetahuan dalam kepala juga tidak mudah dirombak kecuali mereka yang memang mau cerdas dengan bersikap open mind terhadap pengetahuan baru dan mencari sumber asli sandiwara radionya.
----------
Artikel sebelumnya :
