Pesan 4: Harga Diri Wanita
MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK FIKSI SR TT PESAN 4: HARGA DIRI WANITA
Dalam episode Pemberontakan Gajah Biru diceritakan bahwa setelah menerima kunjungan Gajah Biru yang adalah keponakannya sendiri dan berbicara panjang lebar tentang rencana Gajah Biru memberontak terhadap Majapahit, aki Tampa Roang menemui nini Ragarunting untuk meminta maaf dan berbicara terus terang dari hati ke hati tentang masa-masa yang telah dilewati bersama.
Maka terungkaplah bahwa sesungguhnya nini Ragarunting dan aki Tampa Roang saling mencintai sejak muda. Namun tidak pernah bisa bersatu dalam ikatan perkawinan karena sama-sama memiliki ego yang tinggi dan keras kepala. Terkadang rindu yang menggebu membelit rasa keduanya namun saat bertemu yang muncul adalah ego untuk saling menggungguli dalam olahkanuragan, saling mencaci maki namun saling mencari jika tidak ada salah satunya.
Hingga bertahun-tahun berlalu usia memakan kecantikan dan ketampanan mereka tetap bersama dengan pola hubungan yang sama. Tidak ada ikatan perkawinan namun tidak juga hendak berpisah.
Di episode 1 Mahkota Mayangkara, Ayu Wandira mempertanyakan hubungan nini Ragarunting dan aki Tampa Roang tersebut kepada Nini Ragarunting. Dan Ayu Wandira mendapatkan penjelasan bahwa tidak bisa bersatunya nini Ragarunting dan aki Tampa Roang dalam perkawinan karena memiliki ego yang sama dan tidak ada yang mau mengalah.
Gambar ilustrasi Arya Kamandanu mengamuk dengan menghancurkan tebing-tebing karena lamarannya ditolak oleh Sakawuni, sumber: Google GeminiArya Kamandanu sempat bimbang untuk mendefinisikan perjodohan sang Prabu juga disebabkan oleh ego Sakawuni yang tinggi. Berulang kali ia menyampaikan hal itu kepada paman Lembu Sora dan Rama Pati.
Beruntung ia telah melewati tapa brata di petilasan mpu Gandring sehingga lebih sabar dan pada saat yang tepat menunjukkan ego dirinya untuk memaksa Sakawuni menurunkan egonya ganti. Hingga dengan keberaniannya berkata jujur di hadapan Dewi Tunjung Biru membuat Sakawuni tidak berkutik lagi untuk mempertahankan egonya yang tinggi dan tidak ada pilihan lain lagi kecuali mengiyakan perjodohan dari sang Prabu (seri 426 - 450).
Saya suka scene Arya Kamandanu mengamuk tebing bukit, menunjukkan ego laki-lakinya di seri 448, apakah ada yang sama dengan saya? 😁
-------
Nini Ragarunting dan aki Tampa Roang adalah bukti bahwa kebutuhan akan aktualisasi diri lebih penting dari kebutuhan mencintai dan dicintai sebagaimana dikatakan oleh Maslow yang berhasil diceritakan dengan sangat baik dalam sandiwara radio Tutur Tinular. Baik laki-laki maupun wanita memiliki tingkat kebutuhan yang sama dalam hal ini.
Sedangkan Arya Kamandanu dan Sakawuni adalah contoh bahwa kebutuhan untuk dihargai eksistensi dirinya lebih tinggi daripada kebutuhan untuk dicintai dan mencintai. Baik laki-laki maupun wanita juga memiliki tingkat kebutuhan yang sama besar dalam hal ini.
Sikap Arya Kamandanu yang tidak pernah lagi bisa menerima Mei Xin setelah Mei Xin hamil dengan Arya Dwipangga menunjukkan akan kebutuhan harga dirinya sebagai laki-laki yang tinggi sebagaimana diulas dalam tulisan sebelum ini.
Adapun sikap Sakawuni yang berulang kali menolak lamaran Arya Kamandanu karena berpikir bahwa Arya Kamandanu tidak melamarnya berdasarkan cinta melainkan hanya karena berusaha untuk menyenangkan hati sang Prabu dengan cara mengikuti saran dari sang Prabu agar mereka menikah, jelas menunjukkan bahwa kebutuhannya akan harga diri sebagai wanita yang tidak mau dijadikan pelarian atau alat mencapai tujuan dalam hirarki pekerjaan, jauh lebih tinggi daripada mencintai dan dicintai oleh Arya Kamandanu.
Namun demikian dalam kasus Arya Kamandanu dan Sakawuni, penulis cerita Tutur Tinular menceritakan bahwa kesejatian cinta menuntut adanya pengorbanan yang antara lain berupa penurunan ego di hadapan yang dicintai demi tercapainya harmoni kebahagiaan karena rasa yang menuntut penerimaan tanpa syarat sebagai bukti adanya cinta.
Maka Arya Kamandanu pun tidak lagi memikirkan harga dirinya sendiri dengan menunjukkan sisi terendahnya di hadapan Sakawuni dengan mengamuk, menghancurkan tebing-tebing dan mengatakan bahwa dirinya merasa tidak berharga dan ingin hancur bersama dengan semuanya karena penolakan Sakawuni.
Dalam kehidupan nyata seringkali terjadi wanita enggan menurunkan egonya apalagi jika memiliki kemandirian ekonomi yang tinggi sehingga benturan antara kepentingan karier dan keluarga jarang dapat dikompromikan. Tidak jarang wanita karier sukses dengan kemandirian yang tinggi memilih jalan hidup seperti nini Ragarunting.
Namun kemandirian wanita yang dibingkai dengan norma umum yang berlaku dapat pula hadir secara seimbang. Penulis Tutur Tinular secara bijak menyoroti hal ini di mana digambarkan bahwa Sakawuni adalah seorang wanita mandiri dengan karier cemerlang sebagai prajurit Majapahit namun cintanya pada norma kehidupan umum yang dijalaninya, arahan paman Lembu Sora dan istrinya juga nasehat ibunya menjadikannya mampu mengelola kebutuhan dalam dirinya dengan baik sehingga ia pun menurunkan egonya dengan akhirnya bersedia menjadi istri yang baik bagi Kamandanu.
Artikel sebelumnya :
Pesan cinta 3: Harga Diri Laki-laki
Artikel berikutnya :
Pesan 5: Cinta adalah Kepercayaan (1)
Gambar diagram tingkatan kebutuhan manusia menurut Maslow (1973), sumber: tehyasar.com