Latar Belakang Cerita 5: Beberapa Konsep Syiwa-Budha dalam Tutur Tinular

MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK SR TT] : LATAR BELAKANG SOSIAL BUDAYA (5)


Berikut ini adalah beberapa konsep kepercayaan dalam Syiwa-Budha yang digunakan oleh almarhum pak S.Tidjab dalam sandiwara radio Tutur Tinular:


1. Atman: jiwa, dalam Syiwa-Budha diyakini sebagai bagian percikan dari brahman (pencipta). Keadaan tertinggi atman adalah jika ia bisa kembali bersatu sebagai bagian dari brahman (manunggaling kawula Gusti).


Atman yang sewarna dapat saling berkomunikasi meskipun raganya telah tiada. Contoh : 

- mpu Sashi mendatangi mpu Ranubaya saat bertapa sebagai persiapan membuat pedang naga puspa (episode 2)

- mpu Ranubaya dan mpu Gandring diceritakan menemui Arya Kamandanu saat Arya Kamandanu bertapa di petilasan mpu Gandring (episode 14)


Dalam perkawinan, yang menikah bukan hanya jasmani tapi atmannya sehingga sepasang suami istri akan tetap terhubung meski salah satunya telah meninggal lebih dulu. Contoh :

- mpu Hanggareksa masih bisa bercakap-cakap dengan Sri Managih istrinya yang telah lama meninggal. Bahkan menceritakan segala keluh kesahnya dan rasa kegalauannya dalam mendidik anak (episode 5)

- Arya Kamandanu dan Jambunada menerima kedatangan Sakawuni yang telah meninggal di sebuah gua saat mereka berdua bermalam dalam perjalanan menuju lereng gunung Arjuna. Mereka bertiga bercakap-cakap dan Sakawuni berjanji akan selalu datang jika ia rindu anak dan suaminya (episode 24).

Ilustrasi Arya Kamandanu menerima kedatangan arwah Sakawuni

Gambar ilustrasi arwah Sakawuni mengunjungi Arya Kamandanu yang sedang beristirahat di sebuah goa dalam perjalanan menuju lereng gunung Arjuna,.sumber: chatgpt 


2. Brahman: sang pencipta

3. Brahmana : manusia yang meninggalkan keduniawian untuk mendekatkan diri pada brahman dengan cara bertapa atau hidup sebagai pertapa. Contoh : mpu Lunggah hidup sebagai pertapa di bukit Kedungpeluk, Arya Kamandanu hidup sebagai pertapa di lereng gunung Arjuna setelah Sakawuni meninggal.


4. Samsara: siklus kehidupan manusia menurut keyakinan dalam Hindu dan Budha, di mana makhluk akan terlahir kembali atau menitis kembali berulang-ulang untuk memperbaiki dharmanya. Kehidupan berikutnya bisa berbeda dari sebelumnya tergantung dharma yang dilakukan.

Contoh :

Jamantara diceritakan terlahir kembali sebagai harimau putih padahal di kehidupan sebelumnya adalah manusia, namun karena banyak melakukan adharma maka kelahirannya turun derajat menjadi hewan. (Episode Naga Puspa Kresna)


5. Reinkarnasi: sama dengan samsara

6. Dharma: perbuatan yang terpuji

7. Adharma: perbuatan tercela ataupun dosa 


8. Moksa: bebas dari samsara atau tidak akan terlahir lagi, tidak akan lagi mengalami reinkarnasi dan hidup bahagia kekal selamanya.

Moksa dicapai melalui meditasi, mencapai dharma seseorang, melepaskan diri dari dunia material, dan mencapai pemahaman ketuhanan. Moksa membebaskan jiwa dari pergumulan dan penderitaan dunia material, dan membebaskan jiwa dari siklus kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali yang tiada akhir.


9. Pancaka: tempat pembakaran mayat

10. Ngaben atau kremasi : membakar mayat dengan tujuan untuk menyucikan roh umat Hindu yang sudah meninggal dunia dan mempercepat kembalinya jasad ke alam asalnya. Dalam kitab suci Veda Samhita atau isi dari Yajurveda, tersurat bahwa setiap orang Hindu yang meninggal dunia wajib dijadikan lagi sebagai abu agar atman bisa mencapai moksa/surga.

11. Karma: konsep dalam agama Hindu dan Buddha yang mengatakan bahwa setiap tindakan kita memiliki akibat yang mempengaruhi kehidupan kita di masa depan. Contoh :

Mpu Hanggareksa melaporkan mpu Ranubaya kepada pemerintah Singasari dengan tuduhan makar sehingga Ranggalawe datang dengan sejumlah prajurit untuk menangkap mpu Ranubaya. (Episode 1).

Karmanya : mpu Hanggareksa dilaporkan oleh Arya Dwipangga ke pemerintah Gelang-Gelang atau Kediri dengan tuduhan menyembunyikan Mei Xin yang menjadi buronan pemerintah Kediri saat itu. (Episode 5)


12. Pati obong : Perempuan yang baru saja menjadi janda secara sukarela, atau dipaksa, untuk membakar dirinya di atas tumpukan kayu api upacara kremasi suaminya.

Konsep ini diadaptasi oleh pak Tidjab menjadi Arya Kamandanu melakukan ritual pati obong dengan membuat pancaka sendiri lalu dengan kesaktiannya memanggil api abadi di alam (petir) untuk menyambar tubuhnya demi menebus kesembuhan kulit Jambunada, putranya. (Kerangka cerita Satria Kekasih Dewa, lihat analisis sebelumnya di Analisis Unsur Latar Belakang Cerita 4: Moksa Tujuan Akhir Penganut Syiwa-Budha).