Latar Belakang Cerita 4: Moksa Tujuan Akhir Penganut Syiwa-Budha
MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK FIKSI SR TT: LATAR BELAKANG SOSIAL BUDAYA (4)
Banyak komentar yang menyebutkan kecewa pada ending Sandiwara Radio Tutur Tinular karena Arya Kamandanu memilih untuk menjadi pertapa dan meninggalkan keduniawian. Bahkan juga yang menyebutkan karakter tokoh Arya Kamandanu ini goblok karena tidak mau kembali pada Mei Xin dan menyia-nyiakan kecantikan wanita Mongolia itu.
Benarkah keputusan Arya Kamandanu untuk menjadi pertapa, benarkah itu keputusan yang bodoh?
Jika dikembalikan pada latar belakang sosial budaya Syiwa-Budha yang dipilih oleh penulis cerita, maka keputusan tokoh Arya Kamandanu menjadi pertapa adalah keputusan terbaik. Hal ini bukan hanya karena anaknya terlahir spesial dengan kelainan di kulit tetapi juga dari proses hidup yang diyakini umat Hindu moksa adalah tujuan terbesar dan terakhir dalam kehidupan mereka di dunia.
Sebagai tokoh yang digambarkan taat pada aturan Syiwa-Budha, Kamandanu tentu ingin kehidupannya berakhir dengan moksa di mana ia tidak harus mengalami reinkarnasi karena karma kebaikan maupun keburukan. Apalagi digambarkan ia telah mencapai puncak kesaktian yang tidak ada seorangpun pendekar yang mampu mengalahkannya lagi. Maka bentuk kematian moksa menjadi akhir yang terbaik untuknya. Dan hal ini hanya mungkin dicapai jika dia bertapa dan meninggalkan keduniawian.
Gambar pengertian moksa sebagai tujuan akhir hidup dalam ajaran Syiwa-Budha, sumber: slideshare.com
Pada kerangka cerita Satria Kekasih Dewa yang merupakan rangkaian terakhir trilogi Tutur Tinular - Mahkota Mayangkara - Satria Kekasih Dewa yang disusun oleh pak Tidjab namun sayang tidak bisa tayang sandiwara radionya, disebutkan bahwa pak Tidjab telah merancang alur kematian Arya Kamandanu dengan cara mati obong di pancaka yang disiapkannya sendiri. Ia bisa memanggil sendiri api abadi untuk menghanguskan tubuhnya sehingga menjadi abu atau hilang moksa.
Dengan kematiannya itu, Dewi Mandini yang bersarang di tubuhnya kembali ke alamnya semula demikian pula titisannya yang bersarang di tubuh Jambu Nada. Sehingga kulit Jambu Nada menjadi normal seperti umumnya manusia meski masih memiliki kekuatan ular naga puspa kresna sebagai anugrah dari Dewi Mandini dan tenaga dalam angin lengan seribu dari ibunya.
Kembalinya Dewi Mandini ke alamnya diikuti pula oleh Dewa Mandana yang semula bersarang di pedang naga puspa sehingga pedang itu tidak lagi berfungsi apapun dan menjadi batu yang menyatu dengan dinding batu dalam goa tempatnya ditancapkan oleh Arya Kamandanu.
Rekaman wawancara dengan penulis Tutur Tinular alm. S. Tidjab mengenai garis besar isi cerita Satria Kekasih Dewa sebagai sekuel kedua dari Tutur Tinular, sumber: akun FB Yudha Wira Jaya di grup Pecinta Sandiwara Radio
Jika kita sebagai penikmat karya mengikuti alur dan latar belakang cerita yang dibuat oleh pak Tidjab ini, tentu keputusan Arya Kamandanu bertapa bukanlah keputusan yang bodoh. Tapi keputusan yang tepat sebagai orang yang menganut Syiwa-Budha. Tutur Tinular adalah kisah spiritual dengan latar belakang budaya masyarakat Syiwa-Budha, jika dipahami dengan sudut pandang latar belakang duniawi maka tidak akan menemukan inti makna ceritanya.
Artikel sebelumnya :
Latar belakang cerita 3:
Artikel berikutnya :
Latar belakang cerita 5:
