TEMA CERITA (2) : EGO YANG SALAH DIDIK ADALAH AWAL KEHANCURAN

MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK FIKSI SR TT : TEMA BAGIAN 2


Almarhum bapak S.Tidjab adalah penulis yang luar biasa dalam mengolah cerita yang bersumber dari konflik internal ego manusia. Dan konflik berdasarkan ego itu tidak akan ada penyelesaian kecuali jika ada usaha bagaimana manusia itu mesti tunduk pada aturan sang Kuasa yang membatasi egonya. Seperti dalam bagian kisah Rama Pati dan Jayanegara di Tutur Tinular dan sebagian besarnya lagi di Mahkota Mayangkara sebagai lanjutan Tutur Tinular.


----

Ego Dyah Halayuda alias sang Rama Pati tersentil saat ia dipecat oleh Prabu Kertanegara karena berani menyatakan ketidaksetujuannya atas kebijakan sang Prabu untuk Singasari menyerang Swarna Dwipa tahun 1286. Ego yang tersentil semakin menjadi-jadi atas penilaian yang diberikan oleh Ranggalawe kepadanya bahwa ia tidak memiliki kontribusi apapun dalam perjuangan perluasan wilayah Singasari maupun perjuangan melahirkan Majapahit setelah Singasari runtuh.


Sentilan atas ego ini berbuah dendam dan ambisi untuk terus berusaha menunjukkan eksistensinya bahwa ia tidaklah seperti penilaian Prabu Kertanegara maupun Ranggalawe. Maka muncul kelicikan-kelicikan demi memenuhi egonya. 


Sebagai pengasuh Jayanegara sang putra mahkota Majapahit, Rama Pati tidak mendidik pangeran Jayanegara menjadi putra mahkota dengan benar agar Jayanegara terus bergantung padanya dalam membuat keputusan-keputusan dan tidak memiliki kearifan sebagai seorang raja.


Pendidikan yang salah menghasilkan raja yang memuja egonya, tidak mampu mempertahankan kesejahteraan negerinya bahkan selama 21 hari ia sempat terguling oleh seorang jelata bernama Rakuti yang sebelumnya tidak pernah muncul dalam periode lahirnya Majapahit. Bahkan pula tidak memiliki harga diri karena menyukai adiknya sendiri yang dilampiaskan dalam perilaku bejat yang berbuah penyakit raja singa baginya.

Ilustrasi kontras ego yang ditundukkan dengan yang tidak

Gb. Ilustrasi kontras akibat ego yang tidak ditundukkan dengan aturan Yang Kuasa versus ego yang ditundukkan dengan aturan Yang Kuasa  dengan latar suasana Majapahit, sumber: Google Gemini 


Ego yang tersentil menjadi titik puncak lahirnya kehancuran kata Eva Hitler. Dan pendidikan yang salah akan menghasilkan manusia yang tidak mampu menundukkan ego dirinya sendiri.


Oleh karena itu dibutuhkan pendidikan yang mampu menempatkan ego manusia agar tunduk pada aturan sang Pencipta.

Dalam konsep agama Syiwa-Budha yang digunakan dalam SR Tutur Tinular digambarkan bahwa upaya pendekatan diri kepada sang Kuasa akan mengubah pribadi tokoh menjadi lebih baik. Hal ini tampak dalam episode naga puspa kresna dan keris mpu Gandring lewat adanya scene tapa brata yang dijalani oleh Arya Kamandanu saat ingin memperdalam ilmu jurus naga puspa kresna tingkat 3, maupun saat hendak menumpas gerombolan kaum perusuh pimpinan mpu Tong Bajil untuk kedua kalinya.


Demikian pula yang digambarkan pak Tidjab saat Sakawuni mengeluhkan lamanya tidak memiliki anak, Kamandanu mengajak istrinya untuk lebih mendekatkan diri pada yang Kuasa lewat malam-malam yang penuh doa dengan asap pembakaran setanggi.


Btw,,, ada yang menghitung nggak sih berapa tahun lamanya Kamandanu dan Sakawuni menunggu anugerah kelahiran Jambu Nada?


Gambar bapak Edi Dhosa sang pemeran pendekar Lou Shisan dan manteri Segoro Winatan di Tutur Tinular dan prabu Jayanegara di Mahkota Mayangkara bersama ibu Elly Ermawati yang memerankan Mei Xin, sumber: FB Grup Ferry Fadli Fans Club 


-------

Artikel selanjutnya:

Analisis Unsur Penokohan 1 : Watak yang Manusiawi, Cara Tutur Tinular Menghidupkan Tokoh-Tokohnya