Gadis Misterius di Kedai Minum
Scene Terpilih : Pertemuan Pertama Arya Kamandanu dan Sakawuni
Episode 4 Kemelut Cinta di Atas Noda
Seri 98 - 100
Arya Kamandanu sedang mencari Mei Xin yang pergi dari rumahnya tanpa pamit ataupun pesan. Ia sedang singgah di sebuah kedai minum di desa Jasunwungkal, seorang pelayan menghampirinya.
"Maaf apakah tuan membutuhkan minuman panas? Maksud saya tuak?"
"Tidak, terimakasih."
"Ah rupanya Tuan tidak suka mabok."
"Suka juga, sekali-sekali."
"Tuan dari kota Kediri?"
"Saya warga desa Kurawan."
"Owh saya kira tuan datang dari jauh, dari kota Kediri. Kalau begitu, maaf, saya harus melayani tamu-tamu yang lain."
"Ehh, tunggu. Bolehkah saya menanyakan sesuatu?"
"Owh, silahkan, tuan. Silahkan!"
"Siapa gadis yang berdiri di sebelah sana itu?"
"Eee, ahh, saya,,, saya kurang tahu, tuan. Dia gadis aneh, sudah 2x dia minum di rumah minum ini. Tapi tidak pernah mabuk."
"Sepertinya ada yang ditunggu-tunggu. Aku lihat dia gelisah, sebentar duduk, sebentar berdiri."
"Iya, benar, tuan. Sepertinya ada yang ditunggu. Ehh maaf tuan, dia memanggil saya rupanya."
Gb. Ilustrasi Arya Kamandanu melihat seorang gadis aneh di sebuah kedai minum desa Jasunwungkal, sumber: Google Gemini
"Apakah Nona membutuhkan sesuatu? Mau ditambah air tapenya, Nona?"
"Tidak, sudah cukup. Aku mau bertanya sesuatu, pelayan."
"Soal apa, Nona?”
“Apakah belum lama ada 2 orang laki-laki mampir ke rumah minum ini?”
“Dua laki-laki?”
“Iya, seorang anak kecil mengatakan padaku bahwa belum lama ada 2 orang laki-laki masuk ke rumah minum ini.”
“Maksud Nona, 2 orang laki-laki berkuda?”
“Ya, mereka berkuda. Yang satu bercambang lebat, yang satu lagi agak pendek dan bertubuh gempal.”
“Eee,,, iya, iya, memang, Nona. Dua orang itu belum lama mampir kemari. Setelah minum 2 teguk arak putih, mereka lalu pergi, Nona.”
“Ke arah mana mereka pergi?”
“Owh ke sana Nona, mereka terus menyusuri jalan di depan ini dan belok ke arah kiri. Barangkali mereka akan pergi ke kota Kediri atau Singasari.”
“Iya, baiklah, terimakasih atas keteranganmu.” (Gadis aneh itu terdengar memberikan uang bayaran minumannya)
“Ehh, Nona, ini kembaliannya, Nona.”
“Ambil saja untukmu.”
Setelah gadis aneh itu pergi, Arya Kamandanu kembali bertanya kepada pelayan.
“Ke mana gadis aneh itu? Kelihatannya ia sangat terburu-buru.”
“Dia mau mengejar 2 orang penunggang kuda yang tadi mampir ke sini, tuan. Ehh entahlah, apa maksudnya.”
“Mungkin 2 orang itu sanak keluarganya.”
“Ah sudah, aku juga akan pergi. Aku hanya minum 2 mangkok teh wangi. Ini uangnya.”
“Terimakasih, tuan.”
Selesai membayar, Arya Kamandanu segera menaiki kudanya dan berjalan ke arah yang sama dengan dilewati oleh gadis aneh itu. Saat sampai di candi Palah Panataran, ia melihat gadis aneh yang tadi di kedai sedang bertarung dengan seorang laki-laki perkasa dan seorang lagi masih duduk di atas kudanya. Arya Kamandanu mengintip jalannya pertarungan. Ia kemudian mengenali seorang laki-laki yang duduk di atas kudanya sebagai Ranggalawe yang pernah datang ke desanya untuk menangkap Mpu Ranubaya.
Gadis aneh itu berhasil melukai lawannya. Ranggalawe menjadi marah dan turun dari kudanya lalu ganti berhadapan dengan gadis aneh itu. Setelah pertarungan berjalan beberapa lama, gadis aneh itu terdesak ke sudut candi dan Ranggalawe mengeluarkan senjata pamungkasnya, yaitu keris megalamat yang sangat terkenal.
Namun sebelum sempat keris megalamat digunakan, Arya Kamandanu turun dari pohon tempatnya mengintip pertarungan dan berbicara kepada Ranggalawe agar melepaskan gadis aneh itu. Menurut Arya Kamandanu, tidak layak seorang besar seperti Ranggalawe membunuh seorang gadis atas dasar kesalahpahaman yang belum jelas duduk perkaranya. Ia memintakan maaf gadis aneh itu dan meminta agar Ranggalawe membiarkannya pergi.
Ranggalawe menerima penjelasan Arya Kamandanu dan membiarkan gadis aneh itu pergi. Setelah itu Ranggalawe mengajak Arya Kamandanu berbicara dan menawarkannya untuk bergabung menjadi prajurit di padukuhan Majapahit yang sedang dirintis oleh Dyah Wijaya setelah Singasari runtuh. Saat itu Ranggalawe sedang diutus oleh Dyah Wijaya untuk menghadap kepada prabu Jayakatwang di Kediri dengan membawa surat permohonan ampunan.
Arya Kamandanu belum menerima tawaran Ranggalawe karena masih ada urusan pribadi. Ranggalawe lalu melanjutkan perjalanannya bersama anak buahnya dan Arya Kamandanu kembali melanjutkan perjalanannya pula. Hari menjelang sore saat di kejauhan Arya Kamandanu melihat gadis aneh yang ditolongnya tadi menghadang di tengah jalan.
Seri 99 -100:
Arya Kamandanu bertanya, "Hai, bukankah kau gadis aneh yang tadi bertarung dengan Gusti Ranggalawe? Apakah kau ingin mengajakku minum semangkuk tuak atau kau ingin yang lain? Katakanlah!"
Gadis aneh itu tidak menjawab, ia mendengus lalu memutar kudanya dan memacunya pergi.
“Aneh sekali gadis itu, dandanannya begitu liar seperti seorang pengembara yang tidak genap lagi jalan pikirannya. Aku jadi penasaran. Baiklah, akan kuikuti dia.”
Sebentar kemudian Arya Kamandanu sudah bisa menyusul gadis aneh itu dan jaraknya tinggal beberapa depa lagi.
"Hai, pemuda gemblung mengapa kau menyusul aku, hm? Apakah kau tidak punya pekerjaan yang lebih pantas selain hanya menguber-uber seorang gadis?"
"Tunggu dulu, akulah yang harus bertanya padamu, mengapa kau tadi menghadangku di jalan? Apakah ada sesuatu yang ingin kau lakukan terhadapku?"
"Hahhh, sudahlah. Aku sudah melupakannya. Pergilah, dan jangan lagi mengikuti aku."
"Kau ini aneh sekali, caramu berpakaian juga sangat aneh. Kau cukup cantik, tapi tingkah lakumu yang liar dan berandalan itu membuat separuh dari kecantikanmu lenyap." (Arya Kamandanu aneh ya, gadis awut-awutan dengan dandanan seperti pengembara yang sudah tidak waras jalan pikirannya kok masih bisa bilang cukup cantik 🤔)
"Heh, aku tidak ingin kau nilai dengan caramu yang kampungan itu. Pergilah!"
"Aku akan pergi setelah aku tahu apa maksudmu menghadang jalanku tadi."
"Lupakan itu! Awas! Jangan mengikuti aku lagi! hiya,,, hiya,,"
"Hei, tunggu! Tunggu dulu!” teriak Arya Kamandanu namun gadis aneh itu terus memacu kudanya.
“Ke mana perginya gadis itu? Hmm, ke manapun kau pergi, aku akan mengikutimu, bukan salahku. Kaulah yang membuat aku penasaran."
—
“Ke mana lenyapnya gadis itu tadi? Baru saja dia hilang di sekitar tempat ini. Hhhh,,, aku tahu pasti ada sebuah jalan tembus di depan itu. Baik, akan aku lacak jejaknya. Aku yakin bisa menemukan tempat persembunyiannya.”
Arya Kamandanu turun dari kudanya lalu menambatkannya di sebuah pohon. Ia lalu melangkah ke bukit-bukit batu di depannya. Arya Kamandanu menuju ke sebuah lorong, beberapa celah-celah bukit belum pernah dikenalnya telah dilewatinya. Tiba-tiba ia diserang oleh gadis aneh yang dicarinya.
“Hoh, kau bersembunyi di tempat ini rupanya. Mengapa tiba-tiba kau menyerangku?”
“Hmm, mengapa kau masih juga mengikuti aku? Kau ternyata seorang pemuda yang bandel. Kau keras kepala, dan karena itu kau akan memungut upahnya. Hyaaat,,,”
“Hup, hyat,,, tunggu,,, tunggu,,,”
Arya Kamandanu menjadi sangat gugup, gadis liar itu menyerangnya dengan gencar. Gerakannya sangat lincah. Kadang kala ia melompat ke dinding batu lalu menyerang dengan menjejakkan kakinya ke dinding-dinding batu. Karena merasa terdesak Arya Kamandanu mengeluarkan aji saipi anginnya (jurus naga puspa tingkat 2 sebelum ia menguasai jurus naga puspa tingkat 3 yang tertinggi).
Pertarungan jadi semakin sengit. Gadis liar itu menyerang dengan gencar, tangannya mengembang dan mengempis bergantian dengan sangat cepat hingga terlihat bukan hanya sepasang. Kalau saja Arya Kamandanu tidak menggunakan aji saipi anginnya, tentulah gadis itu dengan mudah membuatnya roboh dan terkapar.
“Hhhh, mengapa kau tiba-tiba berhenti menyerang?”
“Aku,,, aku lelah hhh,,,”
“Kau pasti merencanakan siasat yang licik. Kau merencanakan untuk mencari kelengahanku, bukan?”
“Hhhh tidak,,, aku benar-benar lelah,,,”
“Owh jadi kita sudahi saja pertarungan ini?”
“Hhh iya, lebih baik begitu. Kita hanya akan membuang tenaga percuma.”
“Hmm kau memang aneh, kau gadis paling aneh yang pernah kukenal selama ini. Tiba-tiba kau menyerangku tanpa alasan dan tiba-tiba kau berhenti dan menyudahi pertarungan. Apa maksudmu sebenarnya?”
“Hhh kau cerewet! Rasa ingin tahumu besar sekali. Pergilah sana! Cepat, pergi! Jangan ganggu aku lagi!”
“Baiklah, kalau kau menganggap kehadiranku ini mengganggu. Baiklah aku akan pergi.”
“E ehhh tunggu, tunggu! Kau benar-benar akan pergi?”
“Tentu saja! Untuk apa aku di sini? Toh kau sudah mengusir aku, bukan?”
“Oh tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja. Kau pasti akan melaporkan pada Ranggalawe tentang diriku.”
“Melapor?”
‘Iya”
“Aku tidak tahu apa maksudmu.”
"Kau jangan berlagak bodoh! Kau pasti disuruh Ranggalawe mengikuti aku. Jangan mungkir!”
“Tunggu sebentar! Jadi kau mencurigai kehadiranku di sini?”
“Aku harus selalu siap dan waspada. Aku tidak bisa mempercayai begitu saja orang yang baru saja kukenal.”
“Kau keliru. Kedatanganku ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Gusti Ranggalawe. Dan kau tidak usah cemas, Gusti Ranggalawe sekarang dalam perjalanan menuju kota Kediri.”
“Lalu, apa maksudmu mengikuti aku?”
“Aku hanya penasaran saja.”
“Bohong!”
“Aku hanya ingin tahu siapa kau sebenarnya. Apa aku tidak boleh mengenalmu? Siapa tahu kita bisa bersahabat dan saling tolong menolong jika mendapat kesulitan di tengah jalan. Bukankah lebih baik bersahabat daripada bermusuhan?”
“Apa aku bisa mempercayai kata-katamu?”
“Hmm, itu terserah padamu. Kau boleh percaya, boleh juga tidak.’
“Hmm, baiklah untuk sementara, aku percaya. Mari ikut aku!”
“Ke mana?”
“Ikut saja!”
“Apakah ini bukan suatu perangkap?”
“Hhh, bukankah kau ingin mengenalku? Kalau begitu, ikutlah aku!”
“Baiklah, untuk sementara aku percaya padamu.”
Arya Kamandanu berjalan mengikuti gadis liar itu menyusuri lorong berbatu. Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah gubug kayu beratap ilalang.
“Masuklah, kita bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan kita di dalam. Ayo, masuklah!
.
.
Hm kau takut aku akan memperkosamu? Kau tahu, bagiku, kau ini seorang laki-laki yang memuakkan bahkan menjijikkan tahu, bahkan lebih menyenangkan kuda yang kau tunggangi daripada kau sendiri!”
“Sudahlah! Aku memang pemuda yang tidak menarik. Aku sendiri tidak pernah tertarik pada diriku sendiri, apalagi gadis berandal dan liar seperti kau! Ayo, kita bicara di dalam!”
.
.
“Apa yang kau pikirkan?”
“Kau sudah lama tinggal di dalam gubug ini?”
“Iya, gubug ini adalah istanaku. Aku banyak memiliki istana seperti ini. Aku adalah seorang ratu yang mendirikan istananya sendiri. Akulah ratu, sekaligus prajurit dan rakyat."
"Di manakah batas wilayah kerajaanmu?”
“Owh kerajaanku luas sekali. Saking luasnya, sampai tak ada batasnya. Yah, siapa yang bisa mengukur luas kerajaan seorang pengembara?”
“Tentu saja tidak ada yang bisa. Akupun pernah menjadi seorang pengembara.”
“Kau?!”
“Iya. Hei, mengapa kau mengerutkan alismu?”
“Kau tidak pantas menjadi seorang pengembara. Kau tidak mempunyai ciri-ciri seorang pengembara. Biasanya jiwa seorang pengembara luas bagai samudera tak bertepi. Tapi kau? Kau kelihatan lesu, murung. Kukira kau pemuda yang kurang sehat.”
(Dalam hati Arya Kamandanu) : “Iya, dia benar. Aku pemuda yang kurang sehat. Aku sakit. Aku lemah, aku tidak berdaya.”
“Heh, kau melamun lagi?”
“Ahh,,, iya, aku, aku sedang berpikir tentang dirimu. Pertama kali aku melihatmu di rumah minum. Kau kelihatan sangat aneh dengan dandanan seperti itu. Pakaian serba hitam dan selendang berwarna kuning.”
“Hmm,,,”
“Tapi kau nampak lebih aneh setelah kutemui di sini. Di istanamu yang juga tidak kalah anehnya ini.”
“Hmm, iya. Mungkin di matamu atau di mata orang-orang aku tampak aneh. Tapi aku sendiri biasa-biasa saja.”
“Hmm, kau mempunyai orang tua?”
“Hahaha,,, sekalipun aneh, aku bukanlah manusia yang lahir dari sebongkah batu. Tentu saja aku mempunyai orang tua.’
“Ahh, siapa namamu? Kau punya nama bukan?’
“Namaku jelek. Sakawuni.’
“Sakawuni?”
“Iya”
“Nama itu tidak jelek. Cukup bagus. Ehh, di mana rumahmu sebenarnya?”
“Aku dilahirkan dan dibesarkan di desa Tanibala. Di lereng gunung Bromo."
“Cukup jauh dari sini,,, emmm,,, lalu mengapa kau sampai pergi meninggalkan rumah orang tuamu lalu mengembara tanpa tujuan yang pasti?”
“Siapa yang berkata bahwa aku tak mempunyai tujuan yang pasti?"
“Ohhh jadi kau mempunyai tujuan, mempunyai alasan sampai kau menjadi seorang ratu pengembara?”
“Hmm, marilah aku jelaskan sambil makan. Aku lapar. Aku masih menyimpan beberapa potong daging burung. Kita bisa membakarnya dan menyikatnya bersama-sama. Kau nyalakan apinya!”
.
.
.
“Aku benci para pejabat pemerintah Singasari. Aku akan bunuh mereka satu persatu dengan tanganku sendiri.”
“Mengapa kau membenci mereka?”
“Karena mereka sewenang-wenang, mereka orang-orang sok pintar, sok kuasa, mereka banyak membuat rakyat kecil menderita dan akulah salah satu di antara rakyat kecil itu.”
“Tapi bukankah sudah banyak para pejabat Singasari yang terbunuh ketika terjadi pemberontakan dari Gelang Gelang?”
“Ya, tapi belum semuanya. Dan masih ada satu orang yang kuincar dan harus kubunuh dengan kejam.”
“Siapa orang itu?”
“Tak perlu kau tahu siapa orang itu. Pokoknya dia kuanggap manusia paling kejam, paling bengis dan juga paling hina. Hhh, barangkali dia lebih hina daripada anjing jalanan.”
“Orang itu pasti telah membuatmu menderita selama ini.”
“Oh, aku tidak pernah merasa menderita. Aku hanya menaruh dendam.”
“Bukankah orang yang menaruh dendam adalah juga orang yang menderita?’
“Entahlah, tapi aku tak pernah berpikir begitu. Ah, oh ya, apakah sudah cukup? Masih ada yang ingin kau tanyakan padaku?”
“Kau belum menjawab pertanyaanku yang pertama. Mengapa kau menghadang jalanku dan mengapa tiba-tiba pergi?”
“Semula aku ingin mengucapkan rasa terimakasih padamu karena kau telah menyelamatkan nyawaku.”
“Maksudmu ketika kau bertarung melawan Gusti Ranggalawe?”
“Ya, Ranggalawe itu memang hebat, ilmunya tinggi, hampir saja kerisnya menghujam ke tulang igaku.”
“Ah, lupakan soal itu. Beliau pasti tidak akan tega membunuh seorang gadis.”
“Dia akan menyesal. Seharusnya dia membunuh aku, sebab kalau tidak, suatu saat nanti akulah yang akan membuatnya terkapar menjadi mayat.”
(Arya Kamandanu dalam hati) : “Gadis ini sungguh liar dan berandalan, sungguh jauh berbeda dibandingkan dengan Mei Xin. Mei Xin juga mempunyai ilmu kanuragan yang lumayan tapi dia tetap layaknya seorang wanita. Wajahnya membayangkan seorang ibu atau seorang istri, lembut dan penuh kedamaian. Tapi gadis liar ini, benar-benar perempuan berandalan. Sinar matanya berapi-api, tak ada keramahan, tak ada kelembutan. Hei, kemana dia?”
“Sakawuni! Sakawuni!... Ahh dasar gadis liar. Sakawuni!”
Arya Kamandanu bangkit dan melangkah ke sela-sela bukit padas, ia memeriksa hampir semua celah bukit batu tapi Sakawuni tidak dapat ditemukannya. Pada saat kembali ke tempat semula di dalam gubug kayu, ia menemukan selembar daun lontar yang tergeletak di atas lempengan batu pipih.
“Dia menuliskan pesan di daun lontar ini."
“Kamandanu kalau kau kerasan tinggal di gubugku ini, tinggallah di situ sesuka hatimu. Aku ada urusan yang jauh lebih penting daripada duduk-duduk dengan seorang pemurung seperti kau. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih atas pertolonganmu. Suatu ketika kalau ada kesempatan, aku pasti membalas budi baikmu.”
(Arya Kamandanu dalam hati) : "Benar-benar gadis liar dan aneh, Sakawuni,,, Sakawuni,,, kau liar, kau berandalan. Tapi sekilas aku bisa melihat ada penderitaan di balik sinar matamu yang buas bagai burung elang."
Arya Kamandanu berjalan pelan-pelan meninggalkan gubug. Dia mendapatkan kudanya masih di tempat semula.
Arya Kamandanu dalam hati : “Dunia ini memang aneh, banyak berisi hal-hal yang aneh. Orang-orang yang aneh. Hhh, biarlah dunia yang aneh ini berjalan seperti adanya. Aku tidak mau ikut campur. Tapi ,,, bukankah aku ini kalau dipikir juga aneh? Bagaimana aku bisa sampai di tempat ini? Hhhh, daripada keluyuran tak tentu arah begini,. lebih baik aku kembali ke Kurawan.”
Tiba-tiba Arya Kamandanu mendengar derap langkah kaki kuda yang lain di jalan setapak di bawahnya.
“Hai, Sakawuni,, tunggu,,, tunggu,,, Sakawuni,,, “
Arya Kamandanu mempercepat lari kudanya, binatang itu melompat-melompat bagaikan dikejar setan. Namun akhirnya ia hanya mendapatkan kegelapan malam, derap kuda lainnya itu menghilang ditelan malam yang turun.
---------
Artikel berikutnya:
Gadis Manis di Lereng Gunung Arjuno
