Analisis Unsur Sudut Pandang 1: Dimana Kita Berdiri Menentukan Apa yang Kita Lihat
MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK SR TT: SUDUT PANDANG 1
Sudut pandang penceritaan adalah cara seorang pencerita membawakan ceritanya, apakah ia sebagai orang pertama atau pelaku dalam cerita ataukah orang ketiga alias sekadar penonton dari jalannya cerita.
Dalam sandiwara radio Tutur Tinular, sudah jelas pak Tidjab selaku pencerita yang diwakili oleh om Asdi Suhastra berdiri sebagai orang ketiga atau penonton yang menceritakan segala kejadian yang dilihatnya.
Namun kadangkala muncul pula keganjilan di mana om Asdi selaku narator menceritakan isi hati tokoh melalui kalimat-kalimat langsungnya seakan-akan ia sendiri tokoh yang diceritakannya. Contohnya pada seri 173, om Asdi menceritakan isi hati tokoh Arya Kamandanu sebagai berikut :
"Sebenarnya dia sangat mencintai wanita itu, kalau toh selama ini dia tidak menunjukkan perasaan cintanya itu karena dia telah dikecewakan, hatinya telah patah arang. Rasa kecewa itu bagaikan ujung pisau yang tajam yang telah merobek-robek hatinya."
Mestinya scene itu diceritakan dalam adegan monolog tokoh Arya Kamandanu, bukan oleh pembawa ceritanya sehingga pesannya bisa sampai kepada pendengar dengan lebih jelas bahwa rasa cinta Arya Kamandanu kepada Mei Xin telah menguap menjadi bentuk ketidakpedulian lagi karena merasa telah dikecewakan oleh Mei Xin, hingga hatinya patah arang, patah yang tidak mungkin kembali seperti semula lagi. Namun demikian, keganjilan ini nampaknya memang sebuah kesengajaan sebagai teknik unreliable narrator untuk membentuk plot twist alur ceritanya. Tentang plot twist ini dibahas tersendiri dalam analisis tersendiri tentang alur ceritanya.
Gambar ilustrasi tentang sudut pandang yang digunakan oleh penulis Tutur Tinular dalam menyampaikan pesan-pesan moral berdasarkan setting cerita Syiwa-Budha, sumber: Google Gemini
Sudut pandang sesungguhnya bukan hanya cara pencerita membawakan ceritanya, tetapi juga cara pencerita memandang dan membawakan nilai dan pesan yang ingin disampaikan kepada penikmat karyanya.
Banyak yang berpendapat bahwa Tutur Tinular adalah cerita sad ending karena berakhir dengan kematian Sakawuni, sang Prabu Kertarajasa Jayawardana dan tidak bisa bersatunya Mei Xin dengan kamandanu karena Kamandanu memilih menjadi seorang pertapa dan membesarkan anaknya seorang diri.
Penilaian itu tentu tidak salah dalam sudut pandang kita sebagai orang biasa yang menikmati ceritanya. Tapi penilaian itu bisa jadi salah total jika kita berdiri dalam sudut pandang penulis ceritanya atau orang lain yang menyelami ceritanya dengan berdasarkan tujuan hidup pemeluk Syiwa-Budha mengingat tokoh-tokoh ceritanya adalah pemeluk Syiwa-Budha.
Mengenai hal ini sudah pernah saya tulis di unsur latar belakang cerita, di mana jika kita berdiri di sudut pandang pemeluk Syiwa-Budha, justru para tokoh dalam Tutur Tinular berakhir dengan happy ending. Contohnya :
1. Kamandanu menjadi seorang pertapa adalah happy ending karena tujuan tertinggi seorang pemeluk Syiwa-Budha adalah moksa. Dengan menjadi pertapa, Kamandanu semakin dekat dengan moksa. Lihat di Analisis unsur latar belakang 4: Moksa Tujuan Akhir Pemeluk Syiwa-Budha
2. Sakawuni meninggal saat melahirkan adalah happy ending karena ia digambarkan telah mencapai kesempurnaan dari keseluruhan tujuan hidup yang ingin ia capai. Mulai dari menemukan kedua orang tuanya, melanjutkan perjuangan ayahnya sebagai seorang prajurit dan memberikan anak kepada suaminya. Ia diceritakan meninggal dengan mudah, tersenyum tipis dalam pelukan Arya Kamandanu bahkan telah yakin jauh hari bahwa saat kematiannya memang akan tiba sebelum ia melahirkan.
3. Mei Xin meninggal dunia setelah tertular wabah penduduk adalah happy ending karena ia digambarkan mati terhormat dalam perjuangannya sebagai tabib yang sangat disegani oleh banyak orang lemah. Ia pun meninggal setelah saling memaafkan dengan Arya Dwipangga, laki-laki yang ia nilai telah menyengsarakan hidupnya. Juga meninggal setelah kembali bersama dengan Ayu Wandira, anak kandungnya.
Gambar ilustrasi di mana kita berdiri, menentukan sudut pandang mana yang kita ambil dan menentukan seperti apa kita memandang, sumber: gambar umum di Google
Artikel sebelumnya:
Analisis Alur Cerita bagian 4
Artikel berikutnya:
Analisis Sudut Pandang Bagian 2

